*(ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ)*

 

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”[Surat Al-Hajj 32]

Di antara amalan pengagungan syi’ar-syi’ar Allah adalah menampakkannya di tengah-tengah peradaban yang syarat dengan kebodohan terhadap dinul islam. Menyeru mereka  kepada jalan yang dibimbingkan oleh Nabi yang suci, -shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya dengan cara hikmah yang telah beliau tuntunkan.

Tidak seperti tindakan-tindakan jahil dari para hizbiyin, yang suka latah meniru gaya-gaya jahil pula. Seperti tahun baru islami, demonstrasi islami, demokrasi islami dan sebagainya. Maka itu bukan syi’ar islamiyah, tapi syi’ar hizbiyah.

Bukan pula dengan gaya ekstrim para penganut radikalisme dan kekerasan, yang secara serampangan memaksakan kehendak tanpa didasari ilmu dan pemahaman yang benar. Pada hakikatnya mereka lebih banyak merusak daripada meluruskan persepsi manusia tentang agama islam.

Sekali lagi, hikmah dalam berdakwah sangatlah dibutuhkan. Bersamaan dengan meniadakan rasa pesimis terhadap apa yang kita dakwahkan. Rasulullah عليه الصلاة والسلام bersabda:
« ﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﻣﻦ ﺃﻣﺘﻲ ﺃﻣﺔ ﻗﺎﺋﻤﺔ ﺑﺄﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ، ﻻ ﻳﻀﺮﻫﻢ ﻣﻦ ﺧﺬﻟﻬﻢ ﻭﻻ ﻣﻦ ﺧﺎﻟﻔﻬﻢ، ﺣﺘﻰ ﻳﺄﺗﻲ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ‏» ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ

“Akan selalu ada dari umatku suatu kaum yang menegakkan urusan agama Allah. Tidak akan membahayakan mereka siapapun yang meremehkan dan menyelisihi mereka, hingga tibalah ketetapan Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Siapa yang tidak ingin digolongkan oleh Allah termasuk bagian dari penegak agama-Nya? Siapa yang tidak ingin menjadi pembela sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam? Maka janganlah minder dari kebenaran.

والله أعلم بالصواب.

Bersambung insya Allah…..

– – – – – – – – – – –

Kamis 09 Rabiul Awwal 1438 /08 Desember 2016

Sumber: https://alpasimiy.com/