6 Upaya Melanggengkan Persahabatan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak hafidzhahullah)

Beberapa upaya yang bisa ditempuh untuk melanggengkan persahabatan adalah sebagai berikut.

1. Mengingat keutamaan cinta dan benci karena Allah subhanahu wa ta’ala
Banyak sekali dalil yang menerangkan keutamaan cinta dan benci karena Allah subhanahu wa ta’ala. Diantaranya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلَّهُ؛ … وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ…
“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan diantaranya: Dua orang yang saling mencintai karena Allah subhanahu wa ta’ala. Berkumpul dan berpisah di atasnya.” (HR. Al-Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيْمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ
“Barangsiapa yang ingin merasakan nikmatnya iman hendaknya dia tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR Ahmad, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6164)

2. Menginginkan kebaikan bagi teman
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحْبُّهُ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah sempurna iman salah seorang kalian hingga mencintai kebaikan bagi temannya seperti yang ia senangi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Ketahuilah, tidak sempurna iman seseorang hingga dia senang temannya mendapatkan apa yang dia inginkan. Derajat persaudaraan yang paling rendah adalah engkau menyikapi temanmu sebagaimana engkau ingin disikapi orang lain. Tidak diragukan lagi, engkau pasti menunggu dan mengharap agar saudaramu menutup aibmu dan diam dari kejelekan-kejelekanmu…” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 101)

3. Baik sangka dalam bergaul
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purbasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Hati-hatilah kalian dari prasangka, karena prasangka adalah ucapan paling dusta.” (HR. Al-Bukhari no. 5143 dan Muslim no. 2563)

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzhahullah berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa seorang muslim wajib berbaik sangka kepada saudaranya yang muslim dan tidak berburuk sangka dengannya.”

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Seyogianya engkau menjauhi buruk sangka kepada temanmu. Hendaknya membawa perbuatannya kepada kemungkinan yang baik. Ketahuilah bahwa buruk sangka akan menggiring untuk melakukan tajassus (mencari-cari kesalahan orang), di mana hal ini adalah perbuatan terlarang. Sungguh, menutup aib dan tidak mencari-cari aib orang adalah salah satu ciri seorang yang baik agamanya.” (Mukhtashar Minhajil Qashidin hal. 101)

Selengkapnya: https://www.salafytitasik.com/2019/09/6-upaya-melanggengkan-persahabatan.html
Telegram: http://t.me/salafytitasik