📖 اتباع السنة 📚
🌍 https://t.me/ittibau

*Hadits*

🏵🏆 *MENGGENGGAM BARA KESABARAN* 🏆🏵

✍🏻 *Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifa’i حفظه الله تعالى*

Berdasarkan wahyu ilahi, lebih dari seribu tahun yang lalu *Rasulullah ﷺ telah mengabarkan sebuah kenyataan di akhir zaman* dalam sabda beliau,

يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

*_“Akan tiba suatu masa pada manusia, siapa di antara mereka yang bersikap sabar demi agamanya, ia ibarat menggenggam bara api.”_*

⭕ *Seputar Hadits*
Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi (2/42) dan Ibnu Baththah di dalam _al-Ibanah_ (1/173/2) dari sahabat mulia, Anas bin Malik رضي الله عنه. *Sanad hadits di atas memang _dhaif,_ hanya saja ditemukan beberapa hadits lain yang bisa menguatkannya.*

Setelah menjelaskan hadits-hadits penguat, asy-Syaikh al-Albani _(Silsilah Shahihah_ 2/682) menerangkan, *”Kesimpulannya, hadits di atas dihukumi _shahih tsabit_ dengan adanya hadits-hadits penguat.* Sebab, tidak ada satu pun perawi di seluruh jalur periwayatan hadits yang patut dicurigai. Apalagi at-Tirmidzi dan ulama lainnya menyatakan hadits ini hasan. _Wallahu a’lam.”_

Hadits di atas termasuk salah satu keajaiban dalam kitab _Sunan_ karya al-Imam at-Tirmidzi. *Sebab, hadits ini adalah satu-satunya sanad _tsulatsi_ (antara Rasulullah ﷺ dan penulis kitab hanya dipisahkan oleh tiga perawi) di dalam _Sunan at-Tirmidzi._*

Bayangkan saja❗Al-Imam at- Tirmidzi meninggal dunia pada tahun 279 H. *Lebih dari 200 tahun jarak antara beliau dengan Rasulullah ﷺ, tetapi sanad beliau sangat indah, hanya dipisahkan oleh tiga perawi saja.*

*Tidak seluruh kitab-kitab hadits memuat sanad _tsulatsi._* Di dalam _Shahih al-Bukhari_ terdapat 22 sanad _tsulatsi._ Adapun dalam _Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud,_ dan _Sunan an-Nasa’i_ tidak terdapat satu pun sanad _tsulatsi._ Ada lima sanad _tsulatsi_ di dalam _Sunan Ibnu Majah._ Yang paling banyak, sanad _tsulatsi_ ditemukan di dalam _al-Musnad_ karya al-Imam Ahmad, sebanyak 331 sanad. _(Tahqiqur Raghbah lil Khudair)_

⭕ *Menggenggam Bara Api*❓
Sebagai bentuk kesempurnaan *_iblagh risalah_ (penjelasan tugas kerasulan),* Nabi Muhammad ﷺ seringkali menjelaskan sesuatu dengan contoh nyata yang disaksikan di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, maksud dari risalah dan nubuwah dapat dimengerti dan dipahami dengan baik.

Salah satu contohnya adalah hadits Anas bin Malik di atas. *Beliau memberitakan tentang kondisi pengikut setia beliau di akhir zaman,* yang mesti berkorban besar demi berdiri kokoh di atas kebenaran. Masa-masa yang dipenuhi dengan godaan syahwat dan syubhat, *kejahilan yang semakin merata, ilmu yang dicabut dengan wafatnya para ulama, dan semakin lemahnya semangat untuk mencari kebenaran hakiki.*

Dalam kondisi semacam itu, *seorang hamba yang bertekad menegakkan _dinul islam_ secara utuh dan _kaffah_ harus menjalani hari-hari sulit. Sulit dan beratnya menggenggam kebenaran diibaratkan oleh Rasulullah ﷺ dengan sulit dan beratnya menggenggam bara api.* _Nas’alullahul i’anah._

Al-Imam al-Munawi رحمه الله _(Faidhul Qadir_ 6/590) menjelaskan hadits di atas, “Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan tentang sesuatu yang abstrak dengan hal yang nyata. Artinya, *seorang hamba yang bersikap sabar untuk melaksanakan hukum-hukum al-Qur’an dan as-Sunnah, pasti akan merasakan permusuhan dan kebencian dari kalangan ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok sesat.*

*Hal ini disamakan dengan seseorang yang menggenggam bara api dengan telapak tangannya,* bahkan lebih dahsyat lagi. *Hadits ini termasuk mukjizat Rasulullah ﷺ. Sebab, beliau memberitakan tentang sesuatu yang bersifat gaib dan kemudian benar-benar terjadi.”*

Ath-Thibi رحمه الله _(Marqatil Mafatih_ 15/307) menjelaskan, “Makna hadits di atas, sebagaimana halnya seseorang yang menggenggam bara api tidak mampu bersabar karena tangannya akan terbakar, *demikianlah pula seorang hamba yang ingin menegakkan agama sepenuhnya. Ia akan merasa kesulitan untuk tetap tegar di atas agamanya.* Sebab, *maksiat lebih dominan dan mayoritas manusia adalah para pelaku maksiat. Demikian pula kefasikan telah menyebar,* ditambah lagi dengan lemahnya keimanan.”

⭕ *Bukan Sebatas Berita*
Apakah hadits ini hanya sebatas berita saja❓Tidak❗ *Alangkah sayang dan cintanya Rasulullah ﷺ kepada umat ini.* Beliau mewariskan sebuah nasihat emas untuk umat *agar mereka benar-benar mempersiapkan diri sebaik-baiknya di dalam menghadapi kenyataan pahit ini.*

Jangan terkejut❗Jangan kaget❗ Jangan bersedih❗ *Melewati hari-hari di dunia dalam keterasingan demi menegakkan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari.*

Jika Anda dibenci, dimusuhi, dijauhi, dan dikucilkan *hanya karena ingin menjalankan ibadah sesuai tuntunan al-Qur’an, as-Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih,* berbahagialah. *Tidak perlu berkecil hati dan tidak usah bergundah gulana.* Mengapa harus berkecil hati ❓Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه.

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

*_“Islam mulai dalam keadaan terasing. Islam pasti akan kembali terasing sebagaimana permulaannya. Maka, Thuba untuk mereka yang terasing.”_*
*(HR. Muslim)*

An-Nawawi رحمه الله (dalam _Syarah Shahih Muslim)_ menyebutkan *beberapa penafsiran dari kata _Thuba._ Ada yang mengartikannya dengan kebahagiaan, penyejuk mata, kebaikan, surga, sebuah pohon di dalam surga, dan beberapa makna lain.* Lalu an-Nawawi رحمه الله menyimpulkan,“Semua pendapat di atas sangat mungkin untuk dipahami dari hadits di atas. _Wallahu a’lam.”_

*Berbahagialah Anda yang hidup dalam keterasingan karena memilih hidup di dunia sebagaimana yang dituntunkan oleh Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah ﷺ. Kehidupan yang telah dijalani dan diteladankan pula oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para pengikut mereka dengan baik.*

⭕ *Para Nabi Pun Merasakan*
Seberat dan sesulit apapun cobaan dan ujian yang mesti dihadapi oleh seorang muslim *demi menegakkan tauhid dan as-Sunnah, hakikatnya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan cobaan yang pernah dihadapi dan dirasakan oleh para nabi.*

*Ya, para nabi lebih berat cobaannya. Mereka didustakan oleh kaumnya, diusir, diancam, disakiti secara fisik, dituduh dengan keji, bahkan tidak sedikit dari mereka yang dibunuh.* Oleh sebab itu, sering-seringlah membaca kisah para nabi dan rasul di dalam berdakwah menyampaikan kebenaran. *Sungguh, membaca kisah-kisah mereka akan menyejukkan hati,* terkhusus kisah Nabi Muhammad ﷺ. Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

_“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya *dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.”*_ *(al-Anfal: 30)*

Jika Anda diancam untuk dipenjarakan, diusir, bahkan dibunuh *hanya karena Anda ingin menegakkan agama Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ, janganlah bersedih dan berkecil hati. Sungguh, Allah pasti membela hamba-Nya yang ingin membela agama-Nya*❗

⭕ *Pandangan Manusia Umumnya Adalah Dunia, Jangan Terpukau*❗
Salah satu faktor yang dapat membantu seorang muslim untuk tetap kokoh, tegar, dan tabah di atas kebenaran adalah *tidak terpukau dan silau dengan kehidupan duniawi di sekelilingnya. Biarlah “keindahan” duniawi mereka kejar dengan penuh ambisi* dan nafsu angkara. *Adapun baginya, kehidupan akhirat lebih baik.*

Umar bin al-Khaththab _(Shahih Muslim_ no. 1479) pernah menemui Rasulullah ﷺ di dalam ruang khusus beliau. *Melihat kesederhanaan Rasulullah ﷺ dan bekas tikar kasar yang tampak terlihat di pinggang Rasulullah ﷺ, Umar رضي الله عنه pun menangis.*

Rasulullah ﷺ bertanya kepada Umar *tentang sebab dia menangis. Umar lalu menyampaikan kepada Rasulullah tentang kehidupan Raja Persia dan Raja Romawi yang penuh dengan kesenangan dan kelezatan duniawi.* Sementara itu, *beliau adalah seorang hamba terpilih dan utusan Allah سبحانه وتعالى.* Rasulullah ﷺ lalu bersabda,
أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمَا الدُّنْيَا وَلَكَ الْآخِرَةُ

*_“Apakah engkau tidak ridha❓ Dunia untuk mereka sementara kenikmatan di akhirat nanti untukmu_*❓”

Benar. *Seorang muslim yang sungguh-sungguh ingin mencontoh Rasulullah ﷺ pasti merasakan kesempitan duniawi. Bukankah memang dunia adalah penjara bagi seorang mukmin*❓Namun *kesempitan duniawi itu tidaklah berarti setitik pun dibandingkan ketenteraman jiwa selama hidup di dunia dan kebahagiaan hakiki di surga Allah سبحانه وتعالى* kelak.

Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

_“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. *Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal.”*_ *(Thaha: 131)*

Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan ayat di atas, “Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad ﷺ, *‘Janganlah engkau terpukau dengan mereka, kaum yang berlebihan materi dan hidup dalam kemewahan,* dan yang semisal mereka. Sebab, *semua itu hanyalah bunga-bunga kehidupan yang akan sirna dan kenikmatan yang sementara. Kami hanya ingin menguji mereka, dan alangkah sedikitnya hamba- Ku yang pandai bersyukur’.”*

⭕ *Sikap Seorang Muslim*
Ketika hati terasa sempit dan dada menjadi sesak karena menyaksikan pahitnya ujian dan cobaan di dunia. *Ia ingin mengamalkan ajaran Islam seutuhnya, namun ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sikap apa yang harus dipilih oleh seorang muslim dalam kenyataan semacam ini*❓

*Ia tidak boleh putus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى. Ia harus yakin dan berprasangka baik bahwa Allah سبحانه وتعالى pasti membalas dengan ganjaran terbaik. Ia harus tetap beribadah semaksimal mungkin dan memperbanyak doa kepada Allah سبحانه وتعالى. _Di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan._ Demi Allah, Dia tidak akan menyelisihi janji Nya.*

Sebagai khatimah, marilah kita resapi nasihat indah penyejuk jiwa dari asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berikut ini. Setelah menerangkan hadits Anas bin Malik رضي الله عنه di atas (dalam _Bahjah Qulubil Abrar),_ beliau menutup kajian hadits dengan menyimpulkan, *“Dalam kondisi semacam ini, seorang mukmin hanyalah bisa berdoa,*

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ،عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا، اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَبِكَ الْمُسْتَغَاثُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْم

*_“Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah. Cukuplah Allah bagi kami, Dialah sebaik-baik Dzat yang dipasrahi (urusan), kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Allah, milik-Mulah segala pujian, kepada-Mulah tempat mengadu, Engkaulah Dzat yang dimintai pertolongan, kepada-Mulah diminta kebebasan dari kesempitan. Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah, Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”_*

*Kemudian, ia berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk menegakkan keimanan, nasihat, dan dakwah. Ia berusaha untuk bersikap qanaah dengan hasil yang sedikit jika tidak memungkinkan hasil yang banyak.* Ia juga berusaha untuk menghilangkan keburukan dan meminimalkannya, jika selain itu tidak memungkinkan.

*Barang siapa bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى, pasti Dia akan menunjukkan jalan keluar untuknya. Barang siapa bertawakal kepada Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى cukup untuknya. Barang siapa bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى, pasti Allah سبحانه وتعالى akan memudahkan seluruh urusannya.”*

_Wallahul muwaffiq ila ahdas sabil._

🌏📕 *Sumber* ||

Menggenggam Bara Kesabaran

🌏📕 *Sumber* ||
Majalah Asy Syariah Edisi 94