Asbabun Nuzul

JANGAN JATUHKAN DIRIMU DALAM KEBINASAAN

✍🏻Al-Ustadz Abu Hamid Fauzi bin Isnaini حفظه الله تعالى

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“…dan janganlah kalian menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat ihsan-lah. Karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
[Q.S. Al-Baqarah: 195]

Ternukil dari Fathul Bari bahwa ayat ini turun terkait dengan keinginan sebagian shahabat untuk meninggalkan infak dalam jihad fi sabilillah. Abu Ayyub Al Anshari رضي الله عنه menyebutkan bahwa ketika para shahabat berada di Konstantinopel berperang melawan kekuatan Romawi, secara tiba-tiba sekelompok besar pasukan musuh menyerbu para shahabat. 

Dari arah kaum muslimin, majulah seorang prajurit dengan gagah berani di atas tunggangannya menghunuskan senjata Ialu menyeruak barisan musuh, masuk dalam kepungannya, mengibaskan senjatanya, lalu berhasil kembali lagi dengan izin Allah.

Sebagian pasukan muslimin berteriak dan bertasbih, terperanjat dengan aksi prajurit ini yang dianggapnya sebagai aksi bunuh diri. Mereka mengatakan, ”Subhanallah. Sungguh, dia telah menjatuhkan dirinya dalam kebinasaan.”

Maka Abu Ayyub رضي الله عنه pun menyanggah kesalahpahaman mereka terhadap ayat tersebut, ”Wahai manusia, kalian telah salah dalam menafsirkan ayat ini. Ketahuilah, sesungguhnya ayat ini turun terkait dengan kami golongan Anshar. Ketika Allah telah memuliakan kami dengan berbagai kemenangan gemilang di setiap kancah jihad.

Dan kekuatan kami yang menolong agama Allah telah nampak, ada sebagian kami yang berujar, ‘Duhai, telah sirna sebagian harta kita. Bagaimana jika kita sudahi saja jihad ini barang beberapa waktu untuk kita perbaiki harta kita yang telah lama terbengkalai.'”

Kata Abu Ayyub, “Maka di saat itulah, Allah turunkan ayat ini kepada kami.”

Saudara pembaca, mari kita simak sekilas keterangan dari Syaikh As Sa’di رحمه الله tentang ayat yang mulia ini. 

TIDAK BERINFAK =MEMBINASAKAN DIRI SENDIRI

Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berinfak di jalan-Nya. Membelanjakan harta pada hal-hal baik yang bisa mengantarkan kepada ridha ilahi. Sedekah untuk fakir miskin, kerabat, atau memberikan nafkah untuk keluarga, anak istri, atau kedua orang tua yang tidak bisa Iagi mencari penghidupan. 

Jenis infak yang paling besar dan agung adalah infak untuk jihad fi sabilillah. lnfak dalam rangka jihad juga disebut sebagai jihad dengan harta. Jihad dengan harta merupakan kewajiban sebagaimana jihad dengan jiwa raga. 

Maslahat yang akan diraih dari infak dalam rangka jihad fi sabilillah sangatlah besar. Memperkokoh kekuatan muslimin dan melemahkan kekuatan musuh-musuh Islam. Menegakkan agama Allah dan memuliakannya. 

Berinfak di jalan jihad ibarat roh bagi jasad. Tanpa ada infak, maka jihad dengan jiwa raga tidak akan tegak. Oleh sebab itu, menahan harta dari infak fi sabilillah sama artinya dengan menghentikan jihad. Membiarkan muslimin dalam keadaan Iemah, mudah dilumat oleh kekuatan musuh. Ibarat menjatuhkan diri dalam kebinasaan. 

BERAGAM AMALAN YANG MEMBINASAKAN
Kata para ulama, menjatuhkan diri dalam kebinasaan meliputi makna yang luas. Namun, porosnya ada pada dua makna:

1⃣Meninggalkan perintah yang menjadi sebab kehancurannya atau dikhawatirkan akan membuatnya binasa. Dan kebinasaan ini meliputi kebinasaan dari sisi roh dan juga badan. Jenis ini seperti meninggalkan jihad, menahan diri dari infak di jalan jihad, dan semisalnya. 

2⃣Melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa mengantarkan kepada kebinasaan. Seperti safar ke tempat atau melalui daerah berbahaya, banyak kriminal, atau banyak binatang-binatang buas. Naik ke bangunan atau pohon tinggi tanpa pengaman, berenang di kedalaman sementara tidak punya kemahiran berenang dan tidak dilengkapi pengaman. Yang seperti ini, termasuk dalam kategori menjatuhkan diri dalam kebinasaan.

Dan termasuk dalam kategori menjatuhkan dalam kebinasaan adalah bermudah-mudahan dalam kemaksiatan serta menunda-nunda taubat.Baik dikarenakan putus asa dari rahmat Allah atau merasa aman dari makar dan hukuman-Nya. Termasuk dalam hal ini meninggalkan hal-hal yang fardhu yang bisa mengantarkan kepada kehancuran jiwa dan kehancuran agama. 

BERBUAT IHSAN =MENYELAMATKAN DIRI DARI KEBINASAAN

Di akhir ayat ini Allah memerintahkan kepada kita semua untuk berlaku ihsan. Yakni berbuat kebajikan. infak di jalan jihad adalah salah satu jenis ihsan. Dan ihsan meliputi perkara yang sangat luas dan banyak. Di dalam ayat ini pun Allah menyebutkan perintah berbuat ihsan tanpa ada pembatasan dan pengkhususan untuk jenis amalan-amalan tertentu saja. Berarti, perintah ini meliputi segala macam perbuatan baik. Dengan harta, dengan kedudukan, dsb. 

Masuk pula dalam makna ihsan, adalah menyuruh manusia untuk berbuat kebajikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat, menutupi kebutuhan saudaranya, melapangkan kesempitan hidupnya, meringankan beban dan kesulitannya, menjenguk yang sakit, mengantarkan yang wafat, menunjukan jalan bagi orang-orang yang tersesat di jalan, dan masih banyak lagi. 

Termasuk dalam ihsan pula adalah ihsan dalam beribadah kepada Allah. lhsan dalam makna ini maksudnya adalah menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya seakan dia melihat Allah سبحانه وتعالى, sehingga ia beribadah dengan penuh kelezatan. Tenggelam dalam ibadah, tidak ingin putus dari kelezatan itu. 

Atau ia beribadah dengan menghadirkan kesadaran bahwa dirinya sedang dalam pengawasan-Nya. Sehingga ia berusaha menjalankan ibadah itu dengan sempurna, tidak ingin dilihat oleh Allah dalam keadaan ibadahnya jauh dari sempurna. 

BALASAN BAGI MEREKA YANGBERBUAT IHSAN

Orang-orang yang memiliki sifat seperti inilah yang Allah telah siapkan untuknya kenikmatan yang luar biasa dalam surga-Nya. Dinaungi pohon-pohon Iebat dan rindang dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, dengan segala jenis buah yang mudah dipetik dan tidak pernah berhenti buahnya, dengan segala jenis makanan dan minuman yang nikmat tak terkira, ditemani oleh bidadari yang matanya hanya melihat kepada suaminya, ibarat permata yang tersimpan dan terjaga. Dalam kemah-kemah yang indah dan nyaman tiada terbayangkan. 

Juga Allah siapkan pula di atas itu semua sebuah balasan yang akan melupakan segala kenikmatan surgawi. Itulah kenikmatan memandang wajah Allah,Dzul Jalali wal Ikram.

”Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya [yakni kenikmatan memandang Allah سبحانه وتعالى].”
[Q.S. Yunus: 26]

Ya Allah karuniakanlah untuk kami kelezatan memandang wajah, Mu. 
امين يا مجيب السائلين.

🌏📕Sumber ||
Majalah Qudwah Edisi 09Telegram📕Majalah Qudwah📒 Untaian Kisah Mutiara Hikmah