๐Ÿ’๐Ÿ“ *Abu Hanifah, Sang Pedagang Teladan* ๐Ÿ’ฐ๐Ÿ’ฐ

Nama asli beliau adalah anNuโ€™man bin Tsabit, namun beliau lebih masyhur dikenal dengan kunyah-nya: Abu Hanifah. Beliau diberi gelar dengan Abu Hanifah, bukan karena ada anak kandung beliau yang bernama Hanifah. Sebagian referensi menyebutkan bahwa kata โ€œHanifahโ€ bermakna tempat tinta (โ€œad-Dawaahโ€) dalam bahasa orang Iraq awam. Sehingga, diibaratkan bahwa Abu Hanifah adalah seseorang yang bergelut dengan tempat tinta untuk mengikat ilmu dengan tulisan.

Kita mungkin lebih banyak mengenal beliau sebagai seorang โ€˜alim, ahli fiqh, rujukan salah satu madzhab fiqh Ahlussunnah. Beliau adalah Imam madzhab fiqh yang paling terdahulu masa hidupnya dibandingkan Imam 3 madzhab yang lain. Tak banyak yang mengenal beliau sebagai seorang pedagang yang dermawan lagi amanah.

Kefaqihan beliau dalam ilmu syariat, menghantarkan beliau menjadi teladan bagi para pedagang muslim. Demikianlah seharusnya, setiap pedagang mesti berbekal dengan ilmu syarโ€™i yang dibutuhkannya: seperti fiqh jual beli, fiqh tentang riba untuk dihindari, dan fiqh tentang zakat. Sahabat Nabi Umar bin al-Khoththob radhiyallahu anhu pernah menyatakan:

ู„ูŽุง ูŠูŽุจูุนู’ ูููŠ ุณููˆู‚ูู†ูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุฏู’ ุชูŽููŽู‚ู‘ูŽู‡ูŽ ูููŠ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู

โ€œJanganlah berjualan di pasar kami kecuali orang yang faqih (memahami aturan) agama โ€œ (riwayat atTirmidzi).

Yazid bin Harun mengatakan: โ€œAku pernah menulis ilmu dari seribu guru, namun aku tidak pernah melihat orang yang lebih waraโ€™ dan lebih menjaga lisannya dibandingkan Abu Hanifah โ€œ.

Sikap waraโ€™ dan menjaga lisan adalah perhiasan yang dibutuhkan setiap orang, terlebih para pedagang. Waraโ€™ adalah menjauhi hal-hal yang dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan dirinya di akhirat. Dalam salah satu hadits Nabi dinyatakan:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุชู‘ูุฌู‘ูŽุงุฑูŽ ูŠูุจู’ุนูŽุซููˆู†ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ุŒ ููุฌู‘ูŽุงุฑู‹ุง ุฅูู„ุง ู…ูŽู†ู ุงุชู‘ูŽู‚ูŽู‰ ูˆูŽุจูŽุฑู‘ูŽ ูˆูŽุตูŽุฏูŽู‚ูŽ

โ€œSesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan fajir, kecuali orang yang bertakwa, berbuat baik, dan jujurโ€ (H.R atTirmidzi, dishahihkan Syaikh al-Albaniy dalam as-Shahihah).

Hafsh bin Abdirrahman pernah bekerjasama dagang dengan Abu Hanifah. Ia menjaga barang-barang dagangan milik Abu Hanifah. Sebelumnya, Abu Hanifah telah berpesan dan menunjukkan adanya barang-barang dagangan yang cacat. Beliau ingin agar saat dijual, Hafsh menjelaskan cacat barang itu pada calon pembeli. Namun, Hafsh lupa. Ia menjual barang yang ada cacatnya tanpa sempat menjelaskan terlebih dahulu cacat tersebut. Ia juga lupa siapa yang membeli barang itu. Akhirnya, Abu Hanifah bershodaqoh sebanyak nominal harga barang yang ada pada beliau seluruhnya (Akhbaar Abi Hanifah).

Pesan Abu Hanifah kepada Hafsh tersebut sesuai dengan bimbingan Nabi untuk para pedagang. Janganlah seorang pedagang menyembunyikan atau tidak menceritakan aib/cacat barang dagangannya yang ia ketahui. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

ุงู„ู’ุจูŽูŠู‘ูุนูŽุงู†ู ุจูุงู„ู’ุฎููŠูŽุงุฑู ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชูŽููŽุฑู‘ูŽู‚ูŽุง ููŽุฅูู†ู’ ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู‘ูŽู†ูŽุง ุจููˆุฑููƒูŽ ู„ูŽู‡ูู…ูŽุง ูููŠ ุจูŽูŠู’ุนูู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุฐูŽุจูŽุง ูˆูŽูƒูŽุชูŽู…ูŽุง ู…ูุญูู‚ูŽุชู’ ุจูŽุฑูŽูƒูŽุฉู ุจูŽูŠู’ุนูู‡ูู…ูŽุง

โ€œPenjual dan pembeli memiliki pilihan selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (aib/cacat) barang, niscaya akan diberkahi pada jual beli keduanya itu. Namun jika keduanya berdusta dan menyembunyikan (aib/cacat) barang, akan dihapuskanlah keberkahan (jual beli) keduanya (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Banyak bershodaqoh adalah perbuatan yang semestinya dilakukan para pedagang. Hal itu disebabkan seringkali perdagangan terkotori oleh sumpah dan perbuatan sia-sia. Dalam salah satu hadits, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

ูŠูŽุง ู…ูŽุนู’ุดูŽุฑูŽ ุงู„ุชู‘ูุฌู‘ูŽุงุฑู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุนูŽ ูŠูŽุญู’ุถูุฑูู‡ู ุงู„ู’ุญูŽู„ููู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽุบู’ูˆู ููŽุดููˆุจููˆู‡ู ุจูุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู

โ€œWahai para pedagang, sesungguhnya perdagangan (seringkali) berisi perbuatan sia-sia dan sumpah. Maka campurilah (perdagangan itu) dengan shodaqoh (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, Ahmad, dishahihkan Syaikh al-Albaniy).

Pernah datang seorang nenek hendak membeli kain tenun yang dijualnya. Nenek itu berkata: Aku seorang yang lemah, tapi ini amanah. Juallah kepadaku kain ini. Abu Hanifah kemudian memberikan kain itu pada nenek tersebut dan menyatakan bahwa harganya 4 dirham, harga yang sangat murah untuk kain tersebut. Nenek itu merasa terkejut, ia mengatakan: โ€œjangan mengejek sayaโ€. Abu Hanifah kemudian menjelaskan: โ€œSaya telah membeli 2 kain, kemudian menjual salah satu kain dengan mendapatkan keuntungan setara dengan modalnya namun kurang 4 dirham. Maka 4 dirham itulah yang saya dapatkan dari penjualan kain iniโ€ (Tarikh Baghdad).

Sikap Abu Hanifah tersebut adalah bentuk โ€œsamhanโ€ (ramah dan memberi kemudahan) ketika berjual beli. Sejalan dengan Sabda Nabi:

ุฑูŽุญูู…ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุณูŽู…ู’ุญู‹ุง ุฅูุฐูŽุง ุจูŽุงุนูŽ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงุดู’ุชูŽุฑูŽู‰ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงู‚ู’ุชูŽุถูŽู‰

Semoga Allah merahmati seseorang yang โ€œsamhanโ€ (mudah, dermawan, ramah, memaafkan) ketika menjual, ketika membeli, dan ketika meminta haknya (H.R al-Bukhari)

Qoys bin arRobiโ€™ pernah menceritakan: โ€œAbu Hanifah adalah seorang yang waraโ€™, faqih (paham agama), banyak berbuat baik kepada orang yang mendekat padanya. Banyak memberi kepada saudara-saudaranya. Beliau mengirimkan barang-barang ke Baghdad dan membeli barang-barang lain. Kemudian beliau jual di Kufah. Beliau mengumpulkan keuntungan (perdagangannya) dari tahun ke tahun. Beliaupun membeli barang-barang kebutuhan para masyayikh, Ahlul hadits berupa pakaian ataupun kebutuhan lain. Kemudian beliau menyerahkan kepada mereka dinar-dinar sisa keuntungan itu. Beliau (Abu Hanifah) berkata: Belanjakanlah untuk keperluan kalian. Janganlah kalian memuji kecuali Allah Taโ€™ala. Karena, demi Allah, Allah memperjalankan (rezeki) kalian itu melalui tanganku. Tidak mungkin rezeki Allah (untuk seseorang) berpindah kepada orang lain (Tahdziibul Asmaโ€™).

Referensi:

Akhbaar Abi Hanifah karya al-Qodhiy Abu Abdillah Husain bin Ali as-Shoymariy
Tarikh Baghdad karya al-Khothib al-Baghdadiy
Tahdziibul Asmaโ€™ karya Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf anNawawiy

(Abu Utsman Kharisman)