Berkata As Syaikh Abdurrahman As Sa’di -rahimahullah dalam syairnya :

نصحوا الخليقة فى رضى محبوبهم بالعلم والإرشاد والإحسان
صحبوا الخلائق بالجسوم وإنما أرواحهم فى منزل فوقاني

“Mereka -yang menuju Allah dan negeri akherat- menasehati makhluk Allah (sesama saudara seiman) untuk meraih keridhaan yang dicintai mereka (yaitu Allah) dengan ilmu, dan petunjuk, dan kebaikan.
Mereka bersahabat dengan makhluk Allah (sesama saudara seiman) pada raga mereka, adapun ruh mereka berada pada tempat yang tinggi (mencari keridhaan Allah Ta’ala)”.
Kemudian beliau -rahimahullah melanjutkan :
Ini adalah keadaan mereka dengan sesamanya. Sesempurna dan seagung-agung keadaan.
Mereka senantiasa menjadikan nasehat kepada saudaranya sebagai puncak (perjalanan mereka kepada Allah).
Mereka suka bila saudaranya mendapatkan kebaikan sebagaimana mereka suka pada dirinya mendapatkan kebaikan. Dan mereka tidak suka bila saudaranya mendapatkan kejelekan sebagaimana mereka tidak suka bila kejelekan tersebut menimpanya.
Maka mereka berusaha untuk menghilangkan kejelekan tersebut dari saudaranya dengan usaha yang memungkinkan bisa dilakukan.
Mereka bersungguh-sungguh melakukan usaha yang dapat bermanfaat bagi saudaranya sesuai kemampuan mereka.
Yaitu dengan memerintahkan saudaranya untuk beramal kebaikan, dan melarang saudaranya dari kemungkaran, dan mereka memberi makan saudaranya yang kelaparan, memberi pakaian kepada saudaranya yang tidak memilikinya, membantu saudaranya yang berduka (kesulitan), mengajarkan saudaranya yang tidak berilmu, mencegah saudaranya yang akan berbuat kezhaliman, menolong saudaranya yang terzhalimi, memberi udzur kepada saudaranya yang menyakitinya, menahan gangguan saudaranya yang akan berakibat buruk pada dirinya sendiri. Demikianlah persahabatan mereka dengan saudaranya sesama muslim.
Hati dan ruh orang-orang yang menuju Allah sesungguhnya berjalan di seputar keridhaan-Nya. Mengharap kedekatan dengan-Nya yang hal ini merupakan keberuntungan yang besar. Tidak jarang hati mereka luluh di sisi-Nya, tunduk dan takut di hadapan-Nya, (itu semua dilakukan) dalam rangka bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan kecintaan kepada-Nya, dan mengakui akan kebaikan dan kedekatan dengan-Nya, dan juga dalam rangka condongnya mereka kepada sesuatu yang membuat Allah ridha.
Maka seorang hamba akan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, berbuat baik kepada makhluk-Nya. Mereka itulah manusia yang berakal dan cerdas.

لا حول ولا قوة إلا بالله

(selesai ucapan Syaikh As Sa’di -rahimahillah).
Saudaraku, rahimakumullah..
Ini semua adalah sifat atau keadaan mereka, orang-orang yang menuju Allah Ta’ala dalam (bermuamalah) dengan saudaranya.
Sungguh mereka berpegang kuat dengan adab dan akhlak yang tinggi (mulia).
Mereka saling membantu sesamanya di atas kebaikan dan ketakwaan. Menolong orang-orang yang tengah membutuhkan bantuan.
Maka barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan penuhi kebutuhannya. Allah akan membantu seorang hamba selama hamba tersebut membantu saudaranya.
Mereka memberi udzur kepada saudaranya atas ucapannya yang merendahkannya, dan kejahatan ucapannya, dan gangguan lisannya.
Apabila kalangan orang yang jahil mengucapkan ucapan buruk atau mengajak bicara dengan kebodohan (ucapan yang menyakitkan) maka mereka tidak membalasnya dengan semisalnya, bahkan memaafkannya. Dan tidaklah mereka berkata kecuali kebaikan. Mereka berharap pahala di sisi Allah Ta’ala.
Berkata Al ‘Allamah As Sa’di -rahimahullah :
“Sudah menjadi kepastian bahwa kecintaan hati seorang hamba kepada orang-orang yang beriman merupakan di antara seagung-agung ibadah, amalan taat yang utama. Dengan itu seorang hamba menjadikan orang-orang yang beriman sebagai saudara.
Dia suka kebaikan ada pada saudaranya sebagaimana dia suka kebaikan ada pada dirinya. Dia benci bila keburukan ada pada saudaranya sebagaimana dia benci keburukan ada pada dirinya.
Periksalah hatimu dalam perkara yang mulia ini, bersifatlah dengannya, jauhilah dari sifat yang bertentangan dengannya, yaitu dari sifat dengki, benci, hasad dan marah kepada salah seorang dari orang-orang yang beriman.
Ketika engkau melihat pada hatimu sesuatu dari sifat jelek tadi maka segeralah mencabutnya (dari hatimu). Mintalah kepada Allah Ta’ala agar menjauhkan sifat benci/dengki kepada orang-orang yang beriman, secara khusus ataupun umum.
Berjanjilah (di hatimu) untuk mencintai orang-orang yang beriman pada semua sisi, dan berbuat baik kepada mereka, dan bermuamalah dengan mereka dengan kebaikan.
Sesungguhnya itu semua merupakan bentuk ibadah. Amalan-amalan tersebut akan menjadikan sebab kecintaan dan kasih sayang di antara kaum mukminin.
Berbuat baiklah kepada mereka ketika mereka menyakitimu dengan ucapan, perbuatan atau muamalah yang buruk. Karena menempatkan diri dengan berbuat baik tadi akan memudahkan urusanmu dan engkau akan menerima akibat yang baik atas perbuatan buruk mereka.
Jadikanlah apa yang engkau lakukan kepada mereka sebagai bentuk ibadah yang mendekatkan dirimu kepada Allah. Karena sesungguhnya mendekatkan diri kepada-Nya akan memudahkan/meringankan dirimu pada urusan ini, yang sangat berat dipikul jiwa seorang hamba.
Ketahuilah bahwa sifat ini adalah sifat kesempurnaan dari Wali-wali Allah dan Orang-orang yang suci dari hamba-Nya. Maka bersegeralah bersifat dengannya.
Barang siapa (ada orang atau suatu kaum) membuatmu marah, dan memusuhimu, dan meninggalkanmu maka balaslah dengan amalan yang sebailknya (yaitu dengan kebaikan).
Harapkanlah pahala di sisi Allah Ta’ala dalam bergaul dengan saudaramu. Maka hatimu akan meraih ketenangan, hatimu akan ringan ketika dimusuhi. Terkadang (dengan sebab sifat baik tadi) seorang musuh akan berbalik menjadi sahabat kita, orang yang benci menjadi orang yang mencintai kita sebagaimana hal itu terjadi di kenyataan.
Berilah maaf karena Allah Ta’ala kepada mereka atas keburukan yang mereka lakukan.
Sesungguhnya barang siapa yang memaafkan saudaranya yang mukmin maka Allah Ta’ala akan memberi maaf kepadanya. Dan barang siapa yang bermurah hati kepada saudaranya maka Allah akan bermurah hati kepadanya. Dan barang siapa berbuat baik kepada saudaranya maka Allah juga akan berbuat baik kepadanya. Sesungguhnya balasan tergantung amalan seorang hamba”. (selesai ucapan Al ‘Allamah As Sa’di -rahimahullah).
Diterjemahkan dari Kitab :

اللالئ الباهرة في شرح منظومة السير الى الله و الدار الأخرة

✏ Di Kesejukan Masjid Daril Hadits Fiyusy Yaman.
Akhukum fillah, Abu Abdirrahman Arif Ibnu Khairan.
WA Salafy lintas Negara

Bagikan Komentarmu