Beberapa efek negatif yang mungkin bisa terjadi akibat menyimpan nomor telepon lawan jenis yang bukan mahram :

 

– Miscall atau SMS tanpa sengaja. Adapun ternyata ada yang memang sengaja, tentu lain lagi pembahasannya.

 

– Bisa lebih ‘kontras’ lagi apabila ternyata keduanya sama-sama menggunakan jejaring sosial yang tidak aman dalam masalah ini, seperti LINE dan yang semisalnya. Karena, aplikasi semacam itu akan menampakkan nomor lawan jenis yang menyimpan nomor kita, walaupun kita sendiri tidak menyimpan nomornya.

 

– Mirip dengan poin kedua dia atas, lebih-lebih kalau keduanya saling menyimpan nomor satu sama lain. Maka gambar icon dan status di medsosnya masing-masing akan terlihat. Dan ini berlaku pada seluruh jejaring sosial.

 

– Dikhawatirkan semua itu akan menjadi jembatan menuju fitnah yang lebih besar dan berkelanjutan.

 

Maka hapus semua nomor lawan jenis yang bukan mahromnya! Mau nanya-nanya perkara agama kepada ustadznya? Cukup lewat perantara suami! Belum punya suami? Nikah dulu!!!

 

Wallahu a’lam. Wa barokallahu fiikum.

••••••❁•••••

 

✍? AppSalafy2

 

Baca artikel lainnya:

https://alpasimiy.com/

2 tanggapan untuk “AKHWAT JANGAN MENYIMPAN NOMOR TELEPON LELAKI AJNABI, BEGITU PUN SEBALIKNYA 

  1. Ihsan Firdaus

    Landasan apa yang dapat memperkuat argumen anda? Hadits atau dalil mungkin Atau hasil rapat ulama?

  2. Fitnah (godaan) wanita

    Betapa banyak lelaki yang menyimpang dari jalan Allah Subhana Wata’ala karena godaan wanita. Betapa banyak pula seorang suami terjatuh dalam berbagai kezaliman dan kemaksiatan disebabkan istrinya. Sehingga Allah Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya:

    “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)

    Al-Imam Mujahid rahimakumullah berkata: “Yakni akan menyeret orangtua atau suaminya untuk memutuskan tali silaturahim atau berbuat maksiat kepada Rabbnya, maka karena kecintaan kepadanya, suami atau orangtuanya tidak bisa kecuali menaatinya (anak atau istri tersebut).”

    Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
    اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
    “Berniat dan berbuat baiklah kalian kepada para wanita. Karena seorang wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka apabila kamu berusaha dengan keras meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya. Sedangkan bila kamu membiarkannya niscaya akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kalian kepada para istri (dengan wasiat yang baik).” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah z)
    Rasulullah n juga bersabda:
    مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنََ النِّسَاءِ
    “Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian/godaan) yang lebih dahsyat bagi para lelaki selain fitnah wanita.” (Muttafaqun ‘alaih dari Usamah bin Zaid)

    Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata: “(Sisi berbahayanya fitnah wanita bagi lelaki) adalah karena keumuman tabiat seorang lelaki adalah sangat mencintai wanita. Bahkan banyak terjadi perkara yang haram (zina, perselingkuhan, pacaran, dan pemerkosaan, yang dipicu [daya tarik] wanita). Bahkan banyak pula terjadi permusuhan dan peperangan disebabkan wanita. Minimalnya, wanita atau istri bisa menyebabkan seorang suami atau seorang lelaki ambisius terhadap dunia. Maka ujian apalagi yang lebih dahsyat darinya?

    Rasulullah n menyerupakan godaan wanita itu seperti setan, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah n melihat seorang wanita. Kemudian beliau mendatangi Zainab istrinya, yang waktu itu sedang menyamak kulit hewan. Beliau n lalu menunaikan hajatnya (menggaulinya dalam rangka menyalurkan syahwatnya karena melihat wanita itu). Setelah itu, beliau keluar menuju para sahabat dan bersabda:

    إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ، فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

    “Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan berlalu dalam bentuk setan pula. Apabila salah seorang kalian melihat seorang wanita (dan bangkit syahwatnya) maka hendaknya dia mendatangi istrinya (menggaulinya), karena hal itu akan mengembalikan apa yang ada pada dirinya (meredakan syahwatnya).” (HR. Muslim)

Bagikan Komentarmu