AKU “INSYA ALLAH”

” ﺃﻧﺎ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ” ﺃﺭﺍﺩ ﺭﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﺬﻫﺐ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻟﻴﺸﺘﺮﻱ ﺣﻤﺎﺭﺍ،ﻓﻘﺎﻝ : ﺳﺄﺫﻩﺏ ﻏﺪﺍ ﻷﺷﺘﺮﻱ ﺣﻤﺎﺭﺍ،ﻓﻘﺎﻟﺖ ﻟﻪ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ : ﻗﻞ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ . ﻓﻘﺎﻝ : ﻟﻤﺎﺫﺍ !? ﺍﻟﻨﻘﻮﺩ ﻓﻲ ﺟﻴﺒﻲ،ﻭﺍﻟﺤﻤﺎﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻮﻕ .
ﺛﻢ ﺫﻫﺐ،ﻭﺑﻴﻨﻤﺎ ﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻧﻈﺮ ﻓﻲ ﺑﺌﺮ،ﻓﺘﺴﺎﻗﻄﺖ ﺍﻟﻨﻘﻮﺩ ﻣﻦ ﺟﻴﺒﻪ ﻓﻲ
ﺍﻟﺌﺮ،ﻓﺨﻠﻊ ﺛﻴﺎﺑﻪ ﻭ ﻧﺰﻝ،ﻓﻠﻢ ﻳﺠﺪ ﺍﻟﻨﻘﻮﺩ،ﻭﺟﺎﺀ ﺍﻟﻠﺺ ﻓﺄﺧﺬ ﺛﻴﺎﺑﻪ،ﺛﻢ ﺭﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺘﻪ ﻋﺮﻳﺎﻧﺎ،ﻓﻘﺮﻉ ﺍﻟﺒﺎﺏ،ﻓﻘﺎﻟﺖ ﺯﻭﺟﺘﻪ ﻣﻦ ? ﻗﺎﻝ : ﺃﻧﺎ ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ

Ada Seorang lelaki yang hendak berangkat ke pasar untuk membeli seekor keledai, kemudian dia berkata kepada istrinya:

“Wahai istriku, Aku akan berangkat ke pasar untuk membeli seekor keledai”. Sang istri pun berkata, “Wahai suamiku, ucapkanlah olehmu: “InsyaAllah”. Lalu Sang suami menjawab:

“Mengapa (harus mengatakan InsyaAllah)?
Bukankah uangku (sudah) berada di sakuku, dan keledai juga sudah ada di pasar?” (Tak lama berselang) berangkatlah sang suami ke pasar.

… Ditengah perjalanan, lelaki tersebut menengok kedalam sebuah sumur, dan seketika itu berjatuhanlah uang yang berada di sakunya ke dalam sumur. Lalu ia pun segera melepaskan bajunya dan turun ke dalam sumur (untuk mengambil uang tersebut), akan tetapi ia tidak mendapatkan uang-uang tersebut. Tiba-tiba datanglah seorang pencuri yang mengambil baju sang lelaki, Hingga akhirnya iapun kembali ke rumahnya dalam keadaan telanjang. Sesampainya ia didepan rumah (sambil mengetuk pintu).

“Tok.. Tok.. Tok..” Berkata sang istri (dari dalam rumah):
“Siapa?!” Sang suami menjawab:
“AKU INSYAALLAH.”

———————————-

Kisah ini dinukil dari kitab: At-Taaj Al-Mukallal Fawaid min durus Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-
Wadi’iy -ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ- Hal:243 & 248. Dengan terjemahan bebas secara makna.

🍕