Saya pernah membaca dalam kitab Syifa al-‘Alil satu riwayat dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, ketika ada seorang anak kecil meninggal, beliau berkata,

طُوْبى لَكَ طَيْرٌ مِنْ طُيُوْرِ الْجَنَّةِ. فَقَالَ: وَمَا يُدْرِيْكِ يَا عَائِشَةُ أَنَّهُ فِي الْجَنَّةِ؟

“Beruntungnya kamu, (menjadi) burung dari burung-burung surga.”

Berkatalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dari mana engkau tahu, wahai Aisyah, bahwa anak itu pasti masuk surga?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ… )ذَكَرَ مِنْهُمْ  ( اَلطِّفْلُ حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Diangkat pena dari tiga golongan… (di antaranya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan), anak kecil sampai dia baligh.”

Kedua riwayat di atas adalah riwayat yang sahih, namun saya tidak tahu bagaimana mengompromikan di antara keduanya.

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab sebagai berikut.

Hadits tersebut sahih, dikeluarkan oleh asy-Syaikhani (al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits tersebut Aisyahradhiallahu ‘anha berkata,

عُصْفُورٌ مِنْ عُصْفُورِ الْجَنَّةِ. فَقَالَ: لاَ يَا عَائِشة، إِنَّ اللهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهلاْ، خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصلاْبِ آبَائِهِمْ، وَخَلَقَ لِلْنَّارِ أَهْلاً،خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلاَبِ آبَائِهِمْ

        “Burung kecil dari burung-burung surga.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, wahai Aisyah. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan surga untuk penghuninya. Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan mereka untuk masuk surga dalam keadaan mereka masih berada dalam sulbi ayah-ayah mereka. Allah subhanahu wa ta’ala pun menciptakan neraka untuk penghuninya, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan mereka untuk menghuni neraka dalam keadaan mereka masih berada dalam sulbi ayah-ayah mereka.”

Maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melarang Aisyah radhiallahu ‘anha mempersaksikan seseorang tertentu sebagai penduduk surga atau penduduk neraka. Walaupun yang meninggal adalah seorang anak yang masih kecil, tidak boleh dipastikan (bahwa dia ahli surga atau ahli neraka).

Bisa jadi, seorang anak mengikuti kedua orang tuanya sementara kedua orang tuanya hakikatnya tidak di atas Islam, walaupun menampakkan keislaman. Sebab, terkadang seseorang menampakkan keislaman, namun menyembunyikan yang berlawanan dengan Islam (kemunafikan). Terkadang ibunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan yang sebaliknya (kemunafikan).

Seseorang tidak boleh dipersaksikan sebagai penduduk surga atau penduduk neraka, sekalipun masih kanak-kanak (saat meninggalnya). Tidak boleh dikatakan, “Anak ini pasti masuk surga.” Sebab, orang yang berkata demikian tidaklah mengetahui keadaan kedua orang tua si anak, padahal anak-anak mengikuti orang tua mereka.

Siapa yang meninggal ketika kecil dalam keadaan tidak mengikuti kaum muslimin (orang tuanya nonmuslim), maka nanti pada hari kiamat dia diuji— menurut pendapat yang sahih. Apabila dia bukan anak kaum muslimin, melainkan anak orang kafir, dia akan diuji pada hari kiamat. Jika taat dalam ujian tersebut, dia masuk surga. Sebaliknya, apabila durhaka, dia masuk neraka.

Keadaan mereka layaknya ahlul fatrah (orang-orang yang meninggal sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hidup di masa kekosongan pengutusan rasul –pen.), yang akan diuji, menurut pendapat yang sahih. Demikian pula, anak-anak kecil yang meninggal.

Karena itulah, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang anak-anak orang kafir yang meninggal, beliau menjawab, “Allah subhanahu wa ta’ala yang lebih mengetahui apa yang mereka amalkan.”

As-Sunnah menunjukkan bahwa mereka akan diuji, yakni diberi perintah. Mereka diperintah untuk melakukan suatu hal. Jika taat, mereka masuk surga. Jika durhaka, mereka masuk neraka.

Dengan demikian, maksud larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah memberi bimbingan untuk tidak mempersaksikan seorang tertentu sebagai penghuni surga atau penghuni neraka, kecuali mereka yang sudah dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini merupakan salah satu kaidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari Aisyah radhiallahu ‘anha karena Aisyah radhiallahu ‘anhamempersaksikan seorang anak secara ta’yin (menunjuk orangnya). Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Anak ini adalah salah satu burung surga.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha ini karena ada sesuatu di balik urusan yang tampak, yang menjadi sebab seseorang tidak masuk surga. (Apabila anak orang kafir), dia akan diuji pada hari kiamat karena kedua orang tuanya tidak di atas Islam.

Adapun anak-anak kaum muslimin, mereka mengikuti orang tua mereka masuk surga, menurut pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah. Anak-anak orang kafir akan diuji pada hari kiamat. Ini yang benar. Barang siapa taat, dia masuk surga; dan siapa yang durhaka, dia masuk neraka, sebagaimana ahlul fatrah. Inilah yang benar. Inilah sisi yang dimaksud oleh hadits.”

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, al-Aqidah, hlm. 123—124, pertanyaan no. 58)

asysyariah.com

Bagikan Komentarmu