Tanya:
Bagaimana jika ada pondok yang mengaku salafy, tetapi dibawah kurikulum diknas mengakui adanya beberapa penyimpangan aqidah di dalamnya tetapi dengan dalih mereka terpaksa?

Jawab:
Oleh Al Ustadz Muhammad As Sewed hafizhahullah

Iya saya sudah dengar ini dengan dalih terpaksa. Padahal tidak ada yang memaksa. Saya tanya sekarang:

“Siapa yang memaksa harus mengikut diknas?”

Tidak ada. Sehingga tidak bisa dikatakan terpaksa. الضَّرُوْرَةُ تُقَدَّرُ بِقَدَرِهَا. Namanya darurat itu sekedar keterpaksaannya saja. Kalau sudah tidak terpaksa, (maka, -red) tinggalkan. Tidak karena kepingin, tidak melampaui batas. Karena tidak ada makanan lain kecuali kalau dia tidak makan dia mati, maka terpaksa dia makan yang haram, babi atau yang lainnya. Ketika sudah ada makanan lain, kembali haram.

“Thayyib sekarang apakah harus dengan diknas?”
“Harus ustadz!”

“Thayyib, siapa yang mengharuskan?”
“Lho kan kita perlu ijazah”

“Siapa yang memerlukan ijazah?”
“Ya kita kan bisa ke Madinah dengan ijazah seperti itu”

“Siapa yang mengharuskan ke Madinah?”

Semuanya tidak harus. Belajar kepada para ulama tidak harus ke Madinah. Kemana saja bisa. Kalau saja, bisa dihindari semuanya alhamdulillah, mungkin kita akan menyatakan silahkan. Tetapi keadaannya semakin bahaya…semakin bahaya…semakin bahaya…

Sampai yang paling parah, ketika dimasukkannya pelajaran ilmul kalam. Nanti kita jelaskan bahwa ini sesat, kita jelaskan bahwa ini salah. Tapi kalau ulangan harus benar. Iya? Kalau tidak benar kan salah artinya? Dan ditarget oleh diknas harus nilainya enam keatas atau enam setengah keatas. Maknanya? Harus benar jawabnya.

Ikhwani fiddin a’azakumullah, ini koq main-main? Agama, dien, sunnah, kalian anggap apa? Wallahi…wallahi…wallahi… ini menunjukkan kalau mereka meremehkan masalah aqidah, masalah bahaya ilmul kalam, meremehkan masalah sunnah, meremehkan masalah dien. Tidak terpaksa, tidak ada yang memaksa sama sekali.

Kebetulan ketika saya bertemu Asy Syaikh Rabi’, berbicara masalah muassasah, dari muassasah berbicara pula masalah sekolahan-sekolahan tersebut. Dan beliau nada-nadanya terlihat sangat tidak suka. Dengan alasan tadi, darurat-darurat tadi.

“Kenapa? Apa tidak bisa kalian belajar tanpa semua itu? Tanpa yayasan, tanpa perkara ini, perkara itu, disebutkan yayasan, disebutkan sekolahan, disebutkan…”

“Mana doktor-doktor?” kata beliau
“Orang-orang yang keluar dari Madinah, mana?” dengan keras, dengan marah.

Kalau saya mau menjawab, siapa kira-kira? Doktor? Itu jadi pimpinan partai keadilan di Indonesia syaikh. Iya kan? Dan anak buahnya, dan teman-temannya, dan groupnya.

Salman Al Audah, doktor. Siapa lagi? Yang tersisa, yang masih tetap diatas manhaj, sedikit. Artinya apa? Titel tidak menjamin, tidak menjamin dia selamat. Yang menjamin dia selamat adalah ilmu yang barokah. Yang bisa diambil dari sumber yang juga barokah. Yaitu yang tidak berbagai macam permainan-permainan, nyrempet-nyrempet dosa, nyrempet bahaya, nyrempet…

Ikhwani fiddin a’azakumullah, kalau ketika anak tadi membaca (mau ulangan) ilmul kalam, kemudian dia sesat? Siapa bertanggung jawab? Jauhari yang mau bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Ikhwani fiddin a’azakumullah terlalu berani, terlalu lancang. Aku wasiatkan kepada antum dan mereka semuanya, agar tinggalkan perkara-perkara yang berbahaya. Apa yang sudah jelas, jalani! Apa yang meragukan dan ada bahaya, tinggalkan! Kenapa koq senang main sirkus?

Kalau ada orang yang selamat, tapi dia belajarnya disana juga lho, tetapi selamat sampai akhirnya. Imam fulan, imam fulan, ada yang belajar ilmul kalam, dimasa sebelum kenal ilmul kalam sesat ya. Ternyata dia akhirnya taubat, selamat. Ikhwani fiddin a’azakumullah, kalau ada orang yang berjalan di tali, kemudian selamat, apakah kalian akan mengikuti?

“Gila”

Iya kan? Dia kebetulan selamat, umumnya jatuh, binasa. Jangan membela hawa nafsu, apa yang haq, pegang kuat-kuat! Apa yang berbahaya, tinggalkan jauh-jauh.

http://www.thalabilmusyari.web.id/2015/10/bagaimana-jika-ada-yang-mengaku-pondok.html

Bagikan Komentarmu