🌍 https://t.me/Majalah_Qudwah

*Niswah*

🏠📕 *BEKERJA DI LUAR RUMAH MENURUT TINJAUAN SYARIAT*

✍🏻 *Al-Ustadzah Ummu Ishaq*
*al-Atsariyah*

Di masa belakangan ini telah terbuka *secara besar-besaran lahan pekerjaan untuk wanita.* Mereka diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berkarier di luar rumah *dengan _embeI-embel_ kemajuan dan tuntutan peradaban.*

🅰kibatnya, wanita keluar rumah dan berseliweran di tempat-tempat umum *dengan alasan tuntutan pekerjaan telah dianggap kelaziman yang tidak semestinya diingkari.* Bahkan, kebanyakan orang menyangka memang demikian seharusnya. *Sudah zamannya wanita harus turut memberi sumbangsih dalam berbagai bidang profesi.* Apabila tidak, sekian banyak sumber daya manusia tersia-siakan begitu saja-menurut mereka.

*Bukan zamannya Iagi wanita berdiam di rumahnya,* hanya mengurus suami, anak, dan rumahnya. *Ini adalah keterbelakangan dan kezaliman terhadap wanita.* Menurut mereka, *wanita yang berdiam di rumahnya adalah pengangguran karena tidak menghasilkan duit.*

Benarkah anggapan kebanyakan orang tersebut❓Tentu saja tidak❗

*Yang benar justru menyelisihi persangkaan kebanyakan manusia.* Sebab, Sang Pencipta manusia-dan wanita termasuk ciptaan-Nya-telah menurunkan titah-Nya dalam al-Qur’an yang mulia,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

*_“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah-rumah kalian.”_*
*(al-Ahzab: 33)*

*Tinggalnya wanita di rumah justru Iebih dibutuhkan daripada bekerja di luar rumahnya.* Keuntungan yang diperoleh jauh berlipatganda *daripada keuntungan yang diperoleh ketika wanita bekerja di luar rumahnya. Di dalam rumah, akan terjaga agama dan dunia wanita. Adapun di luar rumah, segalanya bisa terjadi.* lni tidak tersembunyi lagi bagi siapa pun.

⭕ *Bentuk Penjagaan Terhadap Agama*
*Dengan menetap dalam rumah, wanita dapat menjaga dirinya dan kehormatannya. Tinggalnya dia di rumahnya akan semakin mendekatkan dirinya kepada Rabbnya,* sebagaimana dalam hadits,

وَأَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ مِنْ وَجْهِ رَبِّهَا وَھِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

*_”Yang paling dekat dirinya dari wajah Rabbnya adalah ketika dia berada di dalam rumahnya.”_* *(HR. Ibnu Khuzaimah* dalam _Shahih_-nya, 3/93)

Karena itulah, *shalat wanita di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid.* Nabi ﷺ pernah bersabda kepada para sahabiyah,

صَلاَةُ إِحْدَاكُنَّ فِي مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلَاتِهَا فِي حُجْرَتِهَا، وَصَلاتُهَا فِي حُجْرَتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِي دَارِهَا، وَصَلاَتُهَا فِي دَارِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِي مَسْجِدِ قَوْمِهَا، وَصَلاَتُهَا فِي مَسْجِدِ قَوْمِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا مَعِي

*_“Shalat salah seorang dari kalian di makhda’ (kamar khusus untuk menyimpan barang berharga) nya lebih utama daripada shalatnya di kamarnya. Shalatnya di kamamya lebih utama daripada shalatnya di rumahnya. Shalatnya di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid kaumnya (masjid khusus wanita), dan shalatnya di masjid kaumnya lebih utama daripada shalatnya bersamaku (di Masjid Nabawi).”_* *(HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah,* dll., dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani رحمه الله dalam _Jilbab al-Mar’ah aI-Muslimah,_ hlm. 155)

*Apabila wanita berdiam di rumahnya, berarti dia telah menjaga agama para lelaki. Sebab, keluarnya wanita dari rumahnya menjadi fitnah (kejelekan) bagi lelaki* sebagaimana kata Rasulullah ﷺ,

إِنَّ الْمَرْأَةَ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

*_“Sesungguhnya wanita itu aurat, maka jika dia keluar rumah setan memerhatikannya dan menghiasinya (dalam pandangan Ie!aki¹).”_* *(HR. at-Tirmidzi,* dinyatakan sahih oleh asy Syaikh aI-Albani رحمه الله dalam _aI-Misykat_ no. 3109 dan _aI-Irwa’_ no. 273)

Demikian juga sabdanya,

اتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

*_“Berhati-hatilah kaIian terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena musibah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah pada kaum wanita.”_*
*(HR. Muslim)*

*Maksud berhati-hati di sini adalah menjauhi dan waspada dengan menjaga diri dari wanita dan godaan mereka.* Hal ini tidak mungkin bisa dicapai terkecuali dengan memisahkan kedua jenis ini. Karena tujuan menjauhkan inilah Nabi ﷺ bersabda terkait dengan shalat,

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

*_“Sebaik-baik shaf lelaki adalah yang paling depan dan seburuk-buruknya adalah yang paling belakang. Sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling belakang dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan.”_*
*(HR. Muslim)*

*Shaf wanita yang terdepan dikatakan paling buruk karena paling dekat dengan lelaki* apabila mereka shalat berjamaah bersama kaum lelaki. Sebaliknya, kata an-Nawawi رحمه الله, *shaf wanita yang paling belakang memiliki keutamaan karena wanita yang berdiri dalam shaf tersebut akan jauh dari bercampur baur dengan lelaki,* melihat mereka, terpautnya kalbu dengan lelaki saat melihat gerak-gerik mereka, mendengar ucapan mereka, dan semisalnya. _(al-Minhaj,_ 4/381)

Apabila dua jenis ini bertemu dan berkumpul, sementara keduanya tidak halal, akan timbul kejelekan karena teman keduanya dalam perkumpulan, pertemuan, dan kedekatan itu *adalah setan.* Hal ini berdasar berita Nabi ﷺ,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

*_“Siapa yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan hari akhir, jangan sekali-kaIi dia berduaan dengan wanita yang tidak ada mahram bersamanya, karena yang ketiganya adalah setan.”_* *(HR. al-Bukhari* dan *Muslim)*

Tentu tidak mungkin dikatakan kepada para lelaki, “Janganlah kalian keluar rumah, bertemu, dan berkumpul dengan kaum wanita.” Hal ini jelas menyelisihi fitrah baik secara syariat maupun secara kodrat.

Kata Fadhilatusy Syaikh lbnu Utsaimin رحمه الله, *bani Israil dahulu tertimpa musibah karena wanita-wanita mereka dibiarkan keluar rumah. Mereka pun sesat Iagi menyesatkan.* Karena itulah, kita dapatkan musuh-musuh kita dan musuh-musuh syariat Allah سبحانه وتعالى pada hari ini memfokuskan perhatian pada urusan wanita. *Mereka ingin agar wanita melakukan _tabarruj, ikhtilath_ dengan para lelaki, dan ikut serta dalam berbagai lapangan pekerjaan.*

*Jadilah manusia seakan-akan keledai yang tidak memiliki keinginan selain mengisi perut dan memuaskan kemaluan.* Jadilah kaum wanita seakan-akan gambar yang perhatian manusia hanya tertuju kepada bentuk/model/rupa wanita.

Bagaimana mereka menghiasi wanita dan mempercantiknya❓❗ Bagaimana mereka mendatangkan kosmetik-kosmetik yang mempercantik dan memperbagus wanita, baik untuk rambut maupun kulit, sampai-sampai mereka menjadikan perhatian wanita yang terbesar adalah bagaimana agar tampil dalam bentuk yang menyerupai plastik: halus, mulus, dan putih mengkilap. *Mereka tidak perhatian terhadap ibadah, tidak pula perhatian kepada anak-anak.*

Selain itu, *musuh-musuh agama ini ingin menceburkan wanita dalam pekerjaan lelaki* hingga menyusahkan kaum lelaki mendapat pekerjaan. Akibatnya, banyak pemuda *menjadi pengangguran karena Iahannya direbut oleh kaum wanita. Dengan menganggurnya para pemuda, terjadilah kejelekan yang besar.* Sebab, masa muda, waktu luang, dan kekayaan termasuk perusak yang terbesar, sebagaimana dikatakan, *“Sesungguhnya masa muda, waktu luang, dan kekayaan merusak seseorang lebih daripada perusak yang lain.”*

Mereka menerjunkan kaum wanita di ladang lelaki dan menelantarkan para pemuda *agar para pemuda dan para wanita rusak.* Tahukah Anda, apa yang terjadi setelah itu ❓ *Yang terjadi adalah _ikhtilath,_ zina, dan perbuatan keji, baik zina mata, zina lisan, zina tangan, maupun zina kemaluan.* Semua ini mungkin terjadi manakala wanita ada bersama lelaki dalam satu pekerjaan.

Di samping itu, *apabila wanita bekerja di luar rumah, dia akan meninggalkan rumah dan suaminya. Tercerai-berailah urusan keluarga.* Apabila wanita bekerja di luar rumah, berarti perlu didatangkan pembantu untuk mengurusi rumah yang ditinggalkan. Dipekerjakanlah pembantu yang datang dari berbagai tempat, dengan berbagai perangai, dan bisa jadi berakhlak rusak. _(Syarhu Riyadhish Shalihin,_ 1/359-360)

Termasuk penjagaan agama ketika wanita tetap tinggal di rumahnya adalah *dia bisa lebih memerhatikan anak-anaknya, mengajari mereka hukum-hukum agama secara Iangsung* ataupun tidak. Dengan demikian, mereka tumbuh dalam _tarbiyah_ yang baik. Mereka sendiri yang akan beroleh manfaatnya, selain kedua orang tua dan masyarakat mereka, baik manfaat duniawi maupun ukhrawi.

Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ

_“Orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, niscaya Kami gabungkan anak cucu mereka dengan mereka dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.”_ *(ath-Thur: 21)*

⭕ *Penjagaan Duniawi*
Ketika wanita menetap di rumah nya dan *membiarkan lapangan pekerjaan diisi oleh kaum lelaki* -yang tanpa diragukan lebih mampu daripada wanita dalam berproduksi dan menghasilkan manfaat untuk masyarakat- *niscaya pengangguran dan kemiskinan bisa diminimalkan. Sebab, lelaki adalah pihak yang dibebani mengurusi dan menafkahi wanita,* baik berposisi sebagai ayah, suami, saudara laki-Iaki, maupun lainnya. *Bukan sebaliknya,* wanita yang mengurusi dan bertanggung jawab terhadap laki-laki.

Namun, *sangatlah disayangkan, kaum wanita telah mengambil banyak lapangan pekerjaan di luar rumah. Akibatnya, berkuranglah kesempatan kaum lelaki untuk beroleh pekerjaan,* sebagaimana keterangan Fadhilatusy Syaikh lbnu Utsaimin رحمه الله yang sudah kita bawakan di atas.

Bisa jadi, ada yang mengatakan bahwa wanita bisa beroleh kemanfaatan dengan bekerja, karena dia akan mendapat gaji, berbeda halnya kalau dia hanya berdiam di rumahnya,

Namun, *kalau mau dihitung sebenarnya secara umum gaji tersebut terlalu sedikit* apabila dibandingkan belanja yang harus dikeluarkan oleh si wanita untuk membiayai keluarnya dirinya ke tempat pekerjaan. *Biaya menjaga penampilan berupa _make up,_ parfum, pakaian, dan aksesorisnya* yang tidak boleh ‘kalah saing’ dengan wanita yang lain.

Belum Iagi kendaraan untuk pulang pergi dari tempat kerja, gaji pembantu yang menggantikan posisinya mengurusi pekerjaan rumah tangga dan pengasuh anak-anaknya, dan biaya-biaya Iainnya. *Ditambah lagi dampak negatif yang akan timbul dengan dia meninggalkan rumah, suami, dan anak-anaknya.*

Sungguh, sebuah kerugian yang tidak bisa dinilai dengan rupiah❗

⭕ *Hukum Wanita Bekerja di Luar Rumah*
Apabila ada yang bertanya, *apa sebenarnya hukum wanita bekerja di kantor-kantor, instansi-instansi pemerintahan, atau perusahaan*❓

*Jawabannya tidak bisa secara mutlak dikatakan halal atau haram,* namun harus dilihat apa pekerjaan dan kondisi tempat si wanita bekerja.

*Apabila pekerjaan itu asalnya halal dan si wanita yang bekerja di tempat tersebut aman dari gangguan, pekerjaan tersebut boleh dilakukannya.* Namun, apabila hukum asal pekerjaannya haram, tidak halal si wanita menerjuninya, bahkan lelaki pun tidak boleh. *Contohnya,* bekerja di bank-bank ribawi, lembaga-lembaga asuransi, tempat prostitusi, bar-bar yang menjual minuman keras, dan semisalnya.

*Diharamkan pula wanita bekerja ketika dirinya tidak terjaga, atau agama dan kehormatan dirinya terancam, walaupun hukum asal pekerjaannya halal.* Sebab haramnya adalah perkara-perkara yang melingkupi pekerjaan tersebut, *yaitu merusak rasa malu yang seharusnya ada pada wanita* saat dia bercampur baur dengan rekan lelakinya, terpaksa berdua-duaan dengan seorang lelaki di dalam satu ruangan/kantor, *atau berprofesi sebagai sekretaris yang memaksanya sering berduaan dengan sang bos* dan berbincang-bincang dengannya.

*Akibatnya, hilanglah rasa malu dan tersebarlah kehinaan,* sebagaimana kenyataan yang terjadi dewasa ini.

Semua hasil buruk yang diperoleh tentu mengharuskan Iarangan bagi wanita untuk bekerja dalam kondisi demikian.

Namun, kita tidak bisa mengingkari kenyataan *bahwa masyarakat membutuhkan wanita untuk menangani beberapa pekerjaan yang tidak bisa digantikan posisinya oleh selain wanita, selain juga karena wanita lebih pantas menanganinya dibanding Ielaki, seperti dokter wanita, perawat wanita, pengajar wanita,* dan semisalnya.

⭕ *Kesimpulan*
1⃣ *Pekerjaan yang diharamkan bagi wanita adalah sebagaimana yang diharamkan bagi Ielaki, yaitu yang haram secara syar’i,* seperti bekerja di bank, bar yang menjual minuman keras, tempat perjudian, dan semisalnya.

2⃣ *Pekerjaan yang terlarang bagi wanita namun tidak bagi Ielaki adalah pekerjaan yang mengurusi urusan umum,* seperti menjadi pemimpin negara, menteri, hakim, panglima perang, dan semisalnya.

Sebab, *wanita tidak pantas menempati posisi demikian yang seharusnya ditangani oleh Ielaki.*

3⃣ *Pekerjaan yang terlarang bagi wanita karena merusak rasa malunya dan menyebabkan kerendahan,* yaitu semua pekerjaan yang wanita tidak bisa menjaga dirinya dari kejelekan.

*Dia harus bercampur-baur dengan Ielaki atau berdua-duaan karena tuntutan pekerjaannya.*

4⃣ *Pekerjaan yang dibolehkan bagi wanita, yaitu seluruh pekerjaan yang asalnya halal bagi Ielaki dan wanita.*

Si wanita sendiri aman dari kejelekan dengan memegangi ketentuan-ketentuan syariat. *Contoh pekerjaan ini ialah* bidang jahit-menjahit, menenun, dan Iainnya selama memenuhi kriteria di atas.

*Di masa Nabi ﷺ, didapati para wanita biasa menenun kain.*. Sahl bin Sa’d رضي الله عنه berkata, “Seorang wanita datang membawa burdah _(syamlah,_ semacam selimut yang ditenun pada tepinya) seraya berkata, *‘Wahai Rasulullah ❗Aku menenun burdah ini dengan tanganku agar Anda memakainya.’*

Rasulullah ﷺ pun mengambil burdah tersebut dengan menunjukkan *bahwa beliau memang membutuhkannya.* Beliau lalu keluar menemui kami mengenakan burdah tersebut sebagai pakaian bawah/sarung.

Tiba-tiba ada seorang hadirin berkata, ‘Wahai Rasulullah, pakaikanlah burdah itu kepadaku.’

Beliau menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah ﷺ lalu duduk di majelis, kemudian kembali ke rumahnya. *Beliau melepas dan melipat burdah tersebut, Ialu mengirimnya kepada Ielaki yang memintanya.*

Orang-orang pun menegur Ielaki tersebut, ‘Alangkah bagusnya perbuatanmu❗Engkau meminta
burdah yang dikenakan oleh Nabi ﷺ padahai engkau tahu, *beliau tidak pernah menolak permintaan orang yang meminta.’*

Lelaki itu menjawab. *“Demi Allah ❗ Aku tidaklah meminta burdah ini kepada beliau terkecuali untuk menjadi kafanku pada hari aku meninggal nanti.’* Ketika si lelaki itu meninggal, dia dikafani dengan burdah tersebut.” *(HR. aI-Bukhari)*

Menenun adalah pekerjaan wanita, demikian pula menjahit, *meskipun tidak apa-apa dilakukan oleh lelaki.* Dalilnya adalah hadits Anas bin Malik رضي الله عنه, ia berkata, *_“Ada seorang tukang jahit mengundang Rasulullah ﷺ untuk makan dari makanan yang dibuatnya Aku pun pergi bersama RasuluIIah ﷺ memenuhi undangan makan tersebut.”_* *(HR. al-Bukhari* dan *Muslim)*

Sisi pendalilannya, *Nabi ﷺ membenarkan pekerjaan tukang jahit tersebut* dan mau memakan dari hasil usaha si tukang jahit.

Rasulullah ﷺ sendiri, menurut berita istrinya, Aisyah رضي الله عنها, menjahit sendiri pakaian beliau yang sobek.

5⃣ *Pekerjaan yang tidak pantas dikerjakan terkecuali oleh wanita,* seperti dokter dan perawat yang menangani pasien wanita, pengajar para wanita/remaja putri, dan semisalnya *yang hukumnya fardhu kifayah bagi wanita.*

Masyarakat hendaknya menjaga keamanan si wanita dari gangguan saat menunaikan pekerjaannya ini.

Al-Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه الله berkata, “Menetapnya wanita di rumahnya dan mengerjakan kewajibannya dalam rumah, *yaitu mengurusi rumah setelah menunaikan urusan agamanya adalah perkara yang sesuai dengan tabiat dan fitrahnya.* Hal itu mengandung kemaslahatan bagi dirinya sendiri dan masyarakatnya, *demikian pula generasi yang sedang tumbuh.*

*Apabila si wanita punya kelebihan, dia bisa berperan dalam lapangan pekerjaan yang khusus bagi wanita;* seperti mengajari para wanita (sebagai guru), merawat wanita yang sakit (sebagai dokter atau perawat/tenaga medis), dan semisalnya. *Di dalam bidang yang khusus ini, si wanita bisa bekerja dan bekerja sama dengan kaum Ielaki dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya. Masing-masing pada pekerjaannya yang khusus.*

Kita tidak meIupakan peran ummahatul mukminin dan wanita yang mengikuti jalan mereka, yaitu mengajari umat, memberi arahan, bimbingan, dan tablig dari Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya. Semoga Allah سبحانه وتعالى membalas mereka dengan kebaikan. Banyak wanita yang (berusaha) mencontoh mereka di kalangan kaum muslimin, dengan tetap berpegang pada hijab, penjagaan diri, dan jauh dari bercampur baur dengan para Ielaki dalam lapangan pekerjaan mereka.” _(Fatawa an-Nisa’,_ hlm 22, cet. ke-1, Dar al-Minhaj, Kairo)

Seorang wanita pernah mengajukan pertanyaan berikut kepada Fadhilatusy Syaikh lbnu Utsaimin رحمه الله, *“Saya bukan dokter, bukan pula guru dan perawat. Apakah saya boleh bekerja selain dalam bidang profesi yang diperkenankan bagi wanita, dengan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan yang saya peroleh sebelumnya*❓

Namun, di tempat bekerja ada pekerja Ielaki yang saya tidak pernah berbincang-bincang dengan mereka. Sebagian kerabat saya dan suami saya mengatakan haram hukumnya saya bekerja di situ.

Maka dari itu, saya berpikir untuk mengajar ilmu kedokteran, hanya saja di fakultas kedokteran juga ada dosen dan pimpinan Ielaki. *Bagaimana semestinya yang saya lakukan agar beroleh ridha Allah dalam bekerja*❓”

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله menjawab, “Kita mensyukuri keinginan wanita yang bertanya ini *dalam hal semangatnya untuk beroleh keridhaan Allah سبحانه وتعالى* dan menjauh dari kejelekan dan sumber-sumbernya. *Apabila suami tidak ridha dia bekerja di tempat yang disebutkan, dia tidak boleh bekerja di situ. Sebab, seorang istri itu laksana tawanan di sisi suaminya,* berdasar sabda Rasulullah ﷺ,

اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ

*_“Mintalah wasiat kebaikan dalam pergaulan kalian dengan para istri, karena mereka hanyalah tawanan di sisi kalian.”_* *(HR. at-Tirmidzi* dan *Ibnu Majah)*

Berdasarkan hal ini, *kalau suaminya tidak membolehkannya bekerja, tidak halal baginya bekerja selama-lamanya.* Sebagai gantinya, Anda bisa melakukan pekerjaan yang khusus untuk Anda di rumah, dengan suami Anda menyediakan apa yang Anda butuhkan dalam pekerjaan. Setelahnya, Anda bekerja dan menghasilkan.

Adapun pekerjaan yang Anda
isyaratkan, yang terjadi _ikhtilath_ di dalamnya, *urusannya sangat berbahaya.* Semestinya orang-orang yang mengurusi hal tersebut memisahkan ruangan bagian wanita dan ruangan bagian laki-laki *sehingga tidak bercampur baur dengan lawan jenisnya dalam satu ruangan. Dengan cara seperti ini akan diperoleh kebaikan dan akan hilang kejelekan.*

Sangat mungkin mendatangkan guru-guru wanita untuk mengajari para pelajar wanita. Demikian pula pelajar laki-laki diajari oleh guru laki-laki. Sebab, *Allah سبحانه وتعالى memberikan ilmu kepada Ielaki dan wanita.* Sebenarnya tidak sulit mendatangkan pengajar wanita untuk mengajari wanita dalam bidang kedokteran atau yang lainnya.

Akan tetapi, manusia bermudah-mudah dalam hal kemungkaran *sehingga mereka anggap _ikhtilath_ sesuatu yang remeh. Padahal _ikhtilath_ akan menimbulkan kerusakan yang besar dan berbahaya yang semestinya kaum muslimin berusaha untuk terlepas darinya dengan segenap kemampuan.”* _(Fatawa aI-Mar’ah aI-Muslimah fil Aqa’id, wal Ibadat, wal Mu’amalat wal Adab,_ hlm. 796-797)

_WaIIahu ta’ala a’Iam bish-shawab._

*Catatan Kaki:*
1) Akibatnya, lelaki tergoda dengannya.

🌏📕 *Sumber* ||
Majalah Asy Syariah Edisi 94