📑💬 *BERITA DARI RASULULLAHﷺ BUKAN RAMALAN*

Sering kita melihat di zaman ini orang-orang yang berani berbicara tentang agama tanpa ilmu. Mereka hanya bermodalkan prasangka saja. Sering mereka terjatuh pada kesalahan fatal tanpa mereka sadari. Diantara kesalahan fatal sebagaimana perkataan: “…ini sesuai ramalan Rasulullahﷺ” atau “Dahulu Rasulullahﷺ telah meramalkan hal ini dan sekarang terbukti benar” atau semisal kalimat tersebut.

Berbicara tentang perkara agama membutuhkan ilmu bukan hanya bermodalkan prasangka baik. Karena agama ini tegak di atas hujjah yang kuat dari al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik.

Berita Dari Rasulullahﷺ Bukan Ramalan

Sangat penting untuk diketahui bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang berita-berita gaib, kejadian-kejadian masa lalu atau kejadian-kejadian masa datang, hal ini bukanlah ramalan. Tapi itu merupakan wahyu. Berita-berita yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masa yang akan datang di dunia maupun tentang hari setelah kematian berasal dari wahyu yang beliau terima dari Allah ‘Azza wa jalla. Hal ini merupakan tanda kenabian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diistilahkan dengan An Nubuwwah.

Kebenaran berita yang disampaikan dari wahyu adalah mutlak dan pasti. Sehingga wajib bagi kita untuk membenarkan dan mengimaninya.

Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tidaklah dia berkata dari hawa nafsunya. Tapi itu semua adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An Najm: 3-4).

Berbeda dengan peramal, yang dia menerima berita dari bisikan syaithan baik dengan rumus-rumus, sandi-sandi, atau kontak langsung dengan syaithan yang banyak kedustaannya. Inilah yang disebut dengan ramalan. Pelakunya disebut tukang ramal, dukun, tukang sihir atau sekarang diperhalus dengan sebutan paranormal.

Siapa saja yang mengetahui perkara gaib?

Perkara gaib hanya Allah ‘Azza wa jalla saja yang mengetahuinya. Tidak satu kalangan pun dari makhluk yang mengetahui perkara gaib kecuali para Rasul yang Allah pilih. Para Rasul mengetahui perkara gaib sebatas apa yang diwahyukan kepada mereka dari Allah ‘Azza wa jalla melalui perantara malaikat Jibril, bukan dari perantaraan jin ataupun ilmu perdukunan.

Allah ‘Azza wa jalla berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.” (An Naml: 65).

Begitu juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya.” (Al Jin: 26-27).

Oleh karena itu sebaiknya kita mengetahui kadar diri dalam berbicara pada perkara agama.

Semoga nasihat ini bermanfaat buat kaum muslimin.

📚 [Sumber] : https://islamhariini.com/berita-dari-rasulullah-bukan-ramalan/ | Website Islam Hari Ini

🏠 al-Atsary Majalengka
🌏 www.salafymajalengka.com
📟 t.me/salafymajalengka

▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️▫️