๐ŸŒ https://chat.whatsapp.com/CSlodZgHeNv6zeYFiTwdmX

Tarikh Islam

๐Ÿ“’ BERITA NUBUWWAH โš”
Negara Adidaya Dalam Genggaman ๏ธ

โœ๐Ÿป Al-Ustadz Idral Harits Thalib Abrar ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

โ“‚usim dingin, Syawal tahun kelima dari hijrah. Kaum muslimin menerima berita, bahwa orang-orang kafir Quraisy sedang memobilisasi semua kabilah Arab untuk menggempur Madinah dan memadamkan cahaya agama Allah (Islam). Mulanya, hanya hasutan dari beberapa tokoh Yahudi yang dengki melihat Islam semakin hari semakin mulia dan bersinar. Kedudukan Rasulullah ๏ทบ dan kaum muslimin juga semakin kuat dan berpengaruh. Tetapi, dendam kesumat di dada orang-orang kafir Quraisy mendorong mereka menyambut hasutan tersebut.

Tokoh-tokoh Yahudi yang menghasut mereka berani memberi jaminan bahwa mereka akan membantu dan mendukung Quraisy dalam rencana itu. Kemudian, beberapa tokoh Yahudi itu -di antaranya Sallam bin Abil Huqaiq, Sallam bin Misykam, Kinanah bin Ar-Rabi’- segera meninggalkan Makkah menuju Ghathafan dan beberapa kabilah Arab lainnya untuk menghasut mereka. Para tokoh kabilah yang didatangi menyambut dan menerima serta menyiapkan pasukan mereka.

Orang-orang kafir Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan dengan 4.000 personel, diikuti oleh Bani Salim, Bani Asad, Bani Fazarah, Bani Asyjaโ€™, dan Bani Murrah. Orang-orang Ghathafan juga berangkat bersama pemimpin mereka โ€˜Uyainah bin Hishn. Berangkatlah pasukan sekutu (Ahzab) ini menuju Madinah dengan kekuatan 10.000 orang.

Sebagian kaum muslimin goncang menerima berita persiapan pasukan sekutu itu. Dan sebagaimana biasa, Rasulullah ๏ทบ bermusyawarah dengan para shahabat. Harapan untuk mati syahid terbuka, maka beberapa shahabat menyarankan keluar menghadang mereka. Tetapi, kalkulasi manusiawi menunjukkan persiapan dan situasi tidak mendukung.

Situasi saat itu benar-benar sangat mencekam. Musim dingin semakin menusuk tulang. Bahan makanan semakin menipis. Pasukan sekutu semakin mendekat dengan kebencian memuncak.

Kaum muslimin semakin didera kecemasan bercampur marah, ketika mendengar orang-orang Yahudi Bani Quraizhah ternyata melanggar perjanjian antara mereka dan Rasulullah ๏ทบ. Tidak hanya itu, beberapa orang munafik mulai berupaya membuat lemah kaum muslimin.

Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ menggambarkan keadaan saat itu dalam ayat-Nya yang mulia:

ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง ู†ูุนู’ู…ูŽุฉูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฅูุฐู’ ุฌูŽุงุกูŽุชู’ูƒูู…ู’ ุฌูู†ููˆุฏูŒ ููŽุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฑููŠุญู‹ุง ูˆูŽุฌูู†ููˆุฏู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุฑูŽูˆู’ู‡ูŽุง ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ุจูŽุตููŠุฑู‹ุง (ูฉ) ุฅูุฐู’ ุฌูŽุงุกููˆูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ููŽูˆู’ู‚ููƒูู…ู’ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุฃูŽุณู’ููŽู„ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฅูุฐู’ ุฒูŽุงุบูŽุชู ุงู„ุฃุจู’ุตูŽุงุฑู ูˆูŽุจูŽู„ูŽุบูŽุชู ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู ุงู„ู’ุญูŽู†ูŽุงุฌูุฑูŽ ูˆูŽุชูŽุธูู†ู‘ููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ุธู‘ูู†ููˆู†ูŽุง (ูกู ) ู‡ูู†ูŽุงู„ููƒูŽ ุงุจู’ุชูู„ููŠูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ูˆูŽุฒูู„ู’ุฒูู„ููˆุง ุฒูู„ู’ุฒูŽุงู„ุง ุดูŽุฏููŠุฏู‹ุง (ูกูก) ูˆูŽุฅูุฐู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ููˆู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูููŠ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ู…ูŽุฑูŽุถูŒ ู…ูŽุง ูˆูŽุนูŽุฏูŽู†ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุฅูู„ุง ุบูุฑููˆุฑู‹ุง (ูกูข) ูˆูŽุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุทูŽุงุฆูููŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ูŠูŽุซู’ุฑูุจูŽ ู„ุง ู…ูู‚ูŽุงู…ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ููŽุงุฑู’ุฌูุนููˆุง ูˆูŽูŠูŽุณู’ุชูŽุฃู’ุฐูู†ู ููŽุฑููŠู‚ูŒ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุจููŠููˆุชูŽู†ูŽุง ุนูŽูˆู’ุฑูŽุฉูŒ ูˆูŽู…ูŽุง ู‡ููŠูŽ ุจูุนูŽูˆู’ุฑูŽุฉู ุฅูู†ู’ ูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ุฅูู„ุง ููุฑูŽุงุฑู‹ุง (ูกูฃ) 

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepada kalian ketika datang kepada kalian tentara -tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kalian lihat. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kalian kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (kalian) dan hati kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam persangkaan.

Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada Kami melainkan tipu daya.’ Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, ‘Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagi kalian, maka kembalilah kalian.’

Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah Kami terbuka (tidak ada penjaga).’ Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanya hendak lari.
[Q.S. Al Ahzab 9-13]

Kemudian, apa yang dilakukan oleh Rasulullah ๏ทบ dan para shahabat untuk menghadapi musuh yang kini bergabung dengan kekuatan penuh serta sudah bersiap menuju Madinah โ“

Akhirnya, dalam musyawarah itu, Rasulullah ๏ทบ menawarkan lagi, adakah yang mempunyai usulanโ“ Tiba-tiba, dengan taufik dari Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰, Salman Al Farisi ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ yang belum lama memeluk Islam, menyarankan agar kaum muslimin bertahan di Madinah dengan membuat parit perlindungan di sekitarnya. Usulan ini disambut oleh Rasulullah ๏ทบ dan para shahabat lainnya.

Mereka pun mulai bekerja siang malam menggali parit tersebut. Rasulullah ๏ทบ sendiri ikut serta mencangkul, mengangkat pasir, dan seterusnya.

Suatu hari, datanglah shahabat mengadu kepada Rasulullah ๏ทบ, ada sebongkah batu besar yang sangat keras menghalangi penggalian, sementara mereka tidak mampu memecahnya. Rasulullah ๏ทบ segera menuju tempat batu tersebut.

Sesampainya di lokasi penggalian, Rasulullah ๏ทบ turun dan memukulkan palunya ke batu tersebut. Dengan tiga kali pukulan, setelah mengucapkan basmallah, dengan izin Allah, batu itu pun hancur. Setiap kali pukulan memecah batu tersebut, Rasulullah ๏ทบ bertakbir.

Salman yang menemani Rasulullah ๏ทบ saat memecah batu itu, melihat tiga kilatan cahaya di balik pukulan tersebut. Tidak sabar menahan diri karena ingin tahu, Salman bertanya, “Kilatan-kilatan apakah itu, ya Rasulullahโ“”

“Kamu melihatnya, hai Salmanโ“” tanya Rasulullah ๏ทบ.

“Ya,” kata Salman.

“Adapun kilatan pertama, sesungguhnya Allah membukakan untukku negeri Yaman. Yang kedua, Allah membukakan untukku Syam dan Maghrib (Maroko), sedangkan yang ketiga, Allah membukakan untukku negeri-negeri di belahan timur.”

DaIam riwayat Ahmad dan An-Nasaโ€˜i, dari Abu Sukainah ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ dari salah seorang shahabat Nabi ๏ทบ lainnya dengan sanad yang jayyid (bagus), bahwa ketika Nabi ๏ทบ memerintahkan penggaIian Khandaq, ternyata ada sebongkah batu sangat besar menghaIangi penggalian itu. Lalu Rasulullah ๏ทบ bangkit mengambil cangkul dan meletakkan selendangnya di ujung parit, dan berkata, โ€Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (AI-Qurโ€˜an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-Iah yang Maha Mendengar Iagi Maha Mengetahui.” Terpecahlah sepertiga batu tersebut.

Salman Al-Farisi ketika itu sedang berdiri sambil memandang, dia melihat (tiga) kilatan yang memancar seiring pukulan Rasulullah ๏ทบ. Kemudian beliau memukul lagi kedua kalinya, dan membaca, “TeIah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat- Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Pecah pula sepertiga batu itu, dan Salman melihat lagi kilat yang memancar ketika Rasulullah ๏ทบ memukul batu tersebut.

Rasulullah ๏ทบ memukul sekali lagi dan membaca, “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan untuk ketiga kalinya, batu itu pun pecah berantakan. Kemudian beliau mengambil selendangnya dan duduk.

Salman berkata, ‘Wahai Rasulullah, ketika anda memukul batu itu, saya melihat kilat memancar.’

Rasulullah ๏ทบ berkata kepadanya, ‘Wahai Salman, engkau melihatnya โ“’

Kata Salman, “Demi Dzat Yang mengutus anda membawa kebenaran. Betul, wahai Rasulullah.”

Rasulullah ๏ทบ bersabda, “Ketika saya memukul itu, ditampakkan kepada saya Kisra Persia dan sekitarnya serta sejumlah kota besarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”

Para shahabat yang hadir ketika itu berkata, “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.โ€ Maka Rasulullah ๏ทบ pun berdoa.

โ€œKemudian saya memukul lagi kedua kalinya, dan ditampakkan kepada saya kerajaan Kaisar dan sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.โ€œ lanjut beliau.

Para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.” Maka Rasulullah ๏ทบ pun berdoa.

“Kemudian pada pukulan ketiga, ditampakkan kepada saya negeri Ethiopia dan desa-desa sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Lalu beliau berkata ketika itu, “Biarkanlah Ethiopia (Habasyah) selama mereka membiarkan kalian, dan tinggalkanlah Turki selama mereka meninggalkan kalian.”

๐Ÿ”ฝโฌ‡โฌ bersambung, ุฅู† ุดุขุก ุงู„ู„ู‡ โ€ฆ