βœ… BERSAUDARA KARENA ALLAH DAN TIDAK FANATIK KECUALI KEPADA KEBENARAN (3)

πŸŽ™ Al-Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

Bahkan seandainya seorang shahabat salah maka kita tidak boleh menerima kesalahannya. Salah seorang dari mereka ada yang salah dalam masalah tayammum dan dia berpendapat bahwa jika seseorang junub maka tidak boleh untuk mengerjakan shalat dengan tayammum sama sekali sampai dia mandi. Para salaf dari kalangan shahabat dan tabi’in mengatakan, “Tidak demikian.” Dan mereka mengambil pendapat Ammar (bin Yasir) dan meninggalkan pendapat Umar dan Ibnu Mas’ud. Dan juga mereka meninggalkan banyak perkara yang salah pada shahabat, tabi’in, dan para imam.

Asy-Syafi’i sendiri membantah kesalahan gurunya, al-Imam Malik. Padahal tidak ada seorangpun yang menghormati Malik seperti yang dilakukan oleh asy-Syafi’i, dan dia pernah mengatakan, “Jika para ulama disebut maka Malik adalah bintang yang tembus cahayanya.” Walaupun demikian dia mengkritik gurunya tersebut.

Al-Laits (bin Sa’ad al-Fahmi) mengkritik Malik dan mengirim surat kepadanya, padahal dia mencintai dan memuliakannya. Barakallah fikum.

Dan demikianlah mereka dahulu saling menasehati dan para pengikut mereka tidak ada yang marah. Kecuali pengikut Malik ada yang fanatik melawan asy-Syafi’i dan mereka terus fanatik membabibuta hingga hari ini. Sangat disayangkan ketika mulai muncul maka menyebar jiwa fanatisme.

Al-Bukhari dikritik oleh ad-Daruquthni dan yang lainnya, walaupun demikian tidak ada yang fanatik terhadap al-Bukhari, padahal beliau adalah Amirul Mu’minin dalam bidang hadits. Kenapa demikian? Karena ahli hadits sangat mencintai manhaj Rasulullah dan salaf yang shalih.

Abu Hatim dan Abu Zur’ah mengkritik al-Bukhari tentang sekitar 700 perawi dalam kitabnya at-Tarikh. Walaupun demikian engkau tidak menjumpai seorangpun yang fanatik menyerang Abu Hatim dan Abu Zur’ah. Demikian seterusnya…

Maka jika saudaramu mengkritikmu dengan benar, maka caranya pertama kali nasehatilah dia (yang bersalah) dan katakan padanya, “Jika engkau menerima tidak masalah, dan jika engkau tidak menerima maka berilah udzur kepada saya, saya akan menjelaskan kepada manusia karena engkau di atas kesalahan.” Dan dia menjelaskan dengan adab dan memuliakan saudaranya. Barakallah fik.

Yang seperti ini nggak masalah, ini memerangi fanatisme jahiliyyah. Barakallah fikum. Hawa nafsu semacam ini ada. Barakallah fikum. Kita dahulu tidak mengenalnya, kita mengenalnya sekarang setelah kelompok-kelompok jahat menyusup ke negeri ini, jiwa fanatisme ini merayap hingga ke sebagian salafiyyun, sehingga engkau menjumpai hal semacam ini.

Maka kita katakan kepada mereka: Ini termasuk bentuk persaudaraan dan nasehat, dan karena mereka adalah para pemuda yang tidak mengetahui sejarah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sampai di masa ini, barakallah fik.

Kalian mengetahui bagaimana dahulu al-Albani, Ibnu Baz, dan Ibnu Utsaimin saling mencintai dan bersaudara serta di waktu yang sama mereka saling membela dan saling menasehati.

Padahal al-Albani mengkritik Ibnu Baz dengan kritikan yang pahit tentang masalah meletakkan tangan di dada dan beliau menyebut meletakkan tangan di dada setelah bangkit dari rukuk sebagai bid’ah, walaupun demikian Ibnu Baz tidak marah dan mereka terus memegangi ijtihad mereka. Tetapi beliau (Ibnu Baz) tidak memerangi al-Albani dan tidak marah kepadanya, bahkan beliau menghormatinya, memuliakannya, menulis surat kepadanya, mencintainya, menolongnya dan membelanya.

Al-Albani juga demikian dan Ibnu Utsaimin juga demikian, barakallah fik. Mereka ini merupakan contoh yang paling dekat dengan kita. Dan para ulama salaf mereka dahulu lebih baik lagi dari keadaan ini. Maka pegangilah hal seperti itu, minimalnya seperti yang kalian rasakan di masa akhir-akhir ini.

⚠ INSYAALLAH BERSAMBUNG

Sumber:
@jujurlahselamanya/1982
πŸ”° WhatsApp Dakwah Salafiyyah Palembang
🌐 https://t.me/SalafyPalembang
πŸ“‘ www.salafypalembang.com