DEFINISI AHLUS SUNNAH DAN CIRI-CIRI NYA.

Ditulis oleh Ustadz Abu Usamah Abdurrahman Hafizhohullah.

Definisi Ahlus Sunnah seperti yang telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan apa yang telah disepakati oleh para pendahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. (Majmu’ Fatawa, 3/375).

DIANTARA CIRI-CIRI AHLUS SUNNAH YANG MENUNJUKKAN HAKEKAT MEREKA IALAH :

(1). Meniti jalan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan jalan para sahabatnya, bersandar pada Al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih, yaitu generasi pertama umat ini dari kalangan sahabat, tabiin, dan generasi setelah mereka.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

(2). Mengembalikan segala bentuk perselisihan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. serta siap menerima segala hal yang diputuskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٌ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

“Jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir; yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا

“Tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

(3). Lebih mendahulukan ucapan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul shallallahu alaihi wa sallam daripada ucapan selainnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُقَدِّمُواْ بَيۡنَ يَدَيِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (al-Hujurat: 1)

(4). Senantiasa berusaha menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam ibadah, akhlak, dan semua sendi kehidupan mereka sehingga mereka menjadi orang yang terasing di tengah kaumnya sendiri.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda perihal mereka,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam awalnya dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu anhuma).

(5). Sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Sebab, hanya Kalamullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang mereka pegang erat-erat.

Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Setiap orang, ucapannya bisa diambil dan bisa ditolak, kecuali ucapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.”

(6). Menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

(7). Memikul amanat amar makruf dan nahi mungkar sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

(8). Mengingkari segala bid’ah (lawan dari As-Sunnah) dan mengingkari kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.

(9). Mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia, yang menyelisihi undang-undang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam.

(10). Siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama ini menghendakinya.

CIRI KHAS AHLUS SUNNAH.

Mereka adalah umat yang memiliki sifat yang baik, jumlahnya sangat sedikit, dan hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ. فَقِيلَ: مَنِ الْغُرَبَاءُ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أُنَاسٌ صَالِحُونَ، فِي أُنَاسِ سُوءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

“Berbahagialah orang-orang yang asing.” Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang-orang yang asing, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang-orang baik yang hidup di tengah banyaknya orang jahat. Yang tidak menaati mereka lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Sahih; HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami’, no. 3921)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Ia adalah orang yang (dianggap) asing (karena) agamanya disebabkan rusaknya agama mayoritas manusia. Dia terasing dalam hal komitmennya untuk berpegang terhadap As-Sunnah karena mayoritas manusia berpegang terhadap bid’ah; terasing keyakinannya karena keyakinan manusia telah rusak; terasing dalam hal shalatnya karena jeleknya shalat manusia; terasing dalam hal jalannya karena sesat dan rusaknya jalan manusia; terasing dalam hal nisbahnya karena rusaknya nisbah manusia; terasing dalam pergaulannya bersama manusia karena ia bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu manusia.

Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya. Dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia adalah orang yang berilmu di tengah-tengah kumpulan orang bodoh. Dialah pemegang As-Sunnah di tengah banyaknya ahli bid’ah. Dia menyeru kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah. Dia mengajak pada yang makruf dan mencegah kemungkaran di tengah kaum yang menganggap hal yang makruf sebagai kemungkaran dan yang mungkar dianggap makruf.” (Madarijus Salikin 3/199—200)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,

“Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan telah menyebabkan ahli kiblat pecah berkeping-keping. Sebagian mereka mengafirkan yang lain sehingga mereka menjadi saling bermusuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai, padahal sebelumnya mereka berada di atas satu hati.

TIDAK ADA YANG SELAMAT DARI SEMUA INI KECUALI SATU KELOMPOK.

Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

Akan terus ada sekelompok dari umatku yang senantiasa membela kebenaran. Orang yang menghinakan dan menyelisihi mereka tidak akan mampu memudaratkan mereka, hingga datangnya keputusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan demikian.

Pada akhir zaman, mereka adalah kaum yang terasing, sebagaimana telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan saat manusia telah rusak. Merekalah orang-orang yang berusaha menjaga keutuhan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang terus dirusak oleh manusia. Merekalah orang-orang yang lari dari fitnah dengan membawa agama mereka. Mereka adalah minoritas di tengah-tengah suatu kabilah. Terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orang pun, sebagaimana permulaan Islam.

Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ

‘Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing’.

Imam Al-Auza’i rahimahullah mengatakan : Adapun Islam, ia tidak akan pergi. Akan tetapi, Ahlus Sunnah-lah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri kecuali satu orang saja.’

Dengan makna inilah, didapati ucapan para salaf yang memuji As-Sunnah dan menyifatinya dengan asing, serta menyifati pengikutnya dengan kata ‘sedikit’. (Kasyfu al-Kurbah fi Washfi Ahlil Ghurbah hlm. 16—17; dalam Ahlul Hadits Hum ath-Thaifah al-Manshurah, hlm. 103—104)

Demikianlah ketetapan Allah untuk para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup, mereka selalu menjadi yang sedikit. Allah subhanahu wa ta’ala berfiman,

وَقَلِيلٌ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ

“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Saba: 13)

Dari pembahasan singkat ini, akan jelaslah siapa sebenarnya Ahlus Sunnah dan siapa yang hanya sekadar mengaku. Dan ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.

( Artikel diatas kami potong/ringkas, adapun panjang dan lebarnya silahkan buka dilink ) :

Siapakah Ahlus Sunnah?