ertanyaan:
Di daerah tempat kami berada terdapaat suatu kebiasaan, yaitu:
Jika seorang istri meninggal, suaminya tidak boleh menikah lagi kecuali setelah enam bulan atau lebih sepeninggal sang istri. Apabila mereka ditanya apa sebabnya? mereka menjawab, yaitu dalam rangka menghormati istri yang telah meninggal tersebut.

Dan pernah terjadi, ada seseorang lelaki menikah laki setelah seminggu sepeninggal istrinya wafat, maka masyarakatpun tidak menghadiri pernikahannya, bahkan mereka tidak memberikan salam kepadanya.

Maka apakah menikah setelah sepeninggal istri dengan jarak waktu sehari – dibolehkan secara syar’i ataukah tidak? Berilah faedah kepada kami, dan semoga Allah memberikan kepada anda balasan yang lebih baik.

_____________
Jawaban:
Ini adalah kebiasaan jahiliyah. Tidak ada asalnya di dalam syari’at yang suci ini. Dan tidak boleh memboikot orang yang menikah langsung sepeninggal istrinya. Sebab yang demikian itu merupakan pemboikotan yang salah secara syar’iy.

Wabillأ£hit Taufأ­q washallallأ£hu ‘alأ£ Nabiyyinأ£ Muhammad wa ‘alأ£ أ£lihأ­ wa shohbihأ­ wasallam

Al-Lajnah Ad-Dأ£’imah lil Buhأ؛s wal Iftأ£’

Ketua : Abdul Azأ­z bin Abdillأ£h bin Bأ£z
Wakil : Abdul Aziz Alu Syaikh
Anggota : Shalih bin Fauzan
Abu Bakr Abu Zaid

————–
Sumber
Judul Kitab:
Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah
Urutan jilid/Pembahasan/Halaman:
19/Min Bida’in Nikah/156

Penyusun:
Syeikh Ahmad bin Abdurrozأ£q ad Duwaisy
Pustaka Darul ‘Ashomah
——————

Alih bahasa:
Abu Dawud al Pasimiy

————