DI ANTARA BUKTI AL-QUR’AN SEBAGAI WAHYU ALLAH

Periksa revisi:

DI ANTARA BUKTI AL-QUR’AN SEBAGAI WAHYU ALLAH

Iman kepada kitab-kitab Allah merupakan salah satu dari enam rukun iman yang ada. Sementara Alquran adalah salah satu dari kitab-kitab Allah yang mulia, diturunkan kepada Rasulullah Muhammad -shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah menurunkan Alqur’an sebagai Al-furqan, asy-syifa, al-huda, dan yang lebih luas dari itu, Alqur’an adalah salah satu mu’jizat nabi kita, Muhammad -shalallahu ‘alaihi wasallam.

Alquran merupakan kitab suci yang paling mulia dibandingkan dengan kitab-kitab samawi yang diturunkan Allah kepada para anbiya sebelumnya. Karena Alqur’an diturunkan kepada nabi terbaik dan untuk umat terbaik pula.

Sayangnya, di antara manusia masih banyak yang meragukan kredebilitas keabsahan Alqur’an. Mereka tidak yakin kalau Alqur’an itu adalah wahyu dari sisi Allah. Sebaliknya, mereka menuding bahwa Alqur’an hanyalah dongeng, fiksi, cerita fiktif buatan-buatan manusia. Maka tidak lain apa yang ada di dalam hati mereka kecuali penyakit dan kesombongan yang nyata.

Adapun orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah maka imannya akan selalu bertambah dan bertambah dengan adanya bukti-bukti konkret akan keajaiban Alqur’an.

Berikut beberapa di antara bukti bahwa Alqur’an benar-benar wahyu dari Allah, bukan buatan manusia:

1. Alqur’an memiliki nilai sastra tinggi yang tidak tertandingi oleh semua ahli bahasa.

Perlu dicatat bahwa zaman di masa hidup nabi Muhammad -shalallahu alaihi wasallam merupakan masa-masa puncak tertingginya nilai sastra bahasa Arab.

Kepiawaian mereka dalam berbicara bagaikan kata-kata mutiara seribu makna. Lantunan sair-sair gubahan mereka bagaikan sihir yang bisa mengikat hati. Ucapan lisan mereka tersusun, tertata, simpel namun syarat dengan arti.

Dalam keadaan mereka tidak pernah -dan belum pernah- belajar nahwu, ataupun shorof, balaghah, ‘arudh, khithabah dan tingkatan bahasa Arab lainnya.

Dan uniknya mereka mampu membaca tulisan-tulisan yang hurufnya tidak memiliki titik sama sekali. Siapa di antara kita yang bisa membedakan antar huruf ث ت ب jika titiknya tidak ditulis? Atau huruf خ ح ج jika titiknya tidak ditulis, atau ذ د jika titiknya tidak ditulis? Padahal dalam bahasa arab, keliru satu titik saja bisa mengubah makna. Maka tidak mungkin kita bisa membacanya. Adapun mereka itu adalah hal yang gampang. Demikianlah kehebatan mereka dalam urusan bahasa.

2. Dalam keadaan seperti itu, Alqur’an datang di tengah-tengah mereka. Bahkan Allah menantang secara terbuka semua ahli bahasa di kala itu untuk membuat satu surat saja sebagai tandingan Alqur’an. Allah juga menantang agar mereka bersekutu saling bantu membantu untuk membuat satu surat saja yang bisa menandingi Alqur’an.

(وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ)

“Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. ( ) Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”
[Surat Al-Baqarah 23 – 24]

Ternyata tidak ada yang sanggup memenuhi tantangan itu.

Datanglah Musailamah nabi palsu al-kadzab dengan ayat-ayat lucunya:

الفِيلُ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْفِيلُ، لَهُ ذَنَبٌ وَبِيلٌ، ولَهُ خُرْطُومٌ طَوِيلٌ»
“Gajah. Tahukah kalian apa itu gajah? Dia memiliki ekor yang singkat, dan memiliki belalai panjang.”

Mau menandingi Alqur’an? Jauh sama sekali!

Simaklah ayat-ayat Allah berikut:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا * الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا)

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. ( ) Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan serasi.”
[Surat Al-Furqan 1 – 2]

Maka terlalu jauh untuk bisa dibandingkan dengan ayat-ayat buatan Musailamah al-Kadzab.

3. Nabi Muhammad -shalallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang pengembala kambing.
Kalaulah seandainya Alqur’an itu karangan beliau, tentulah tidak akan banyak statemen yang bisa dikarang oleh seorang pengembala kambing. Tentu muatan dan kandungan Alqur’an tidak jauh-jauh dari tatacara mengembala kambing, bagaimana tips memilih rumput yang baik, bagaimana cara menambatkan tali kambing yang benar, dan sejenis itu.

Ternyata Alqur’an memuat kandungan hukum dalam segala aspek kehidupan. Allah Ta’ala berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِين*
“Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri” [An-Nahl:89]

4. Tidak pernah bergaul dengan ahli kitab
Nabi Muhammad -shalallahu ‘alaihi wasallam bukanlah seorang yang supel, luas pergaulan terlebih kepada orang-orang di kalangan ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani). Sementara di dalam Alqur’an termuat semua kisah-kisah para nabi terdahulu sebagaimana yang termuat pula di dalam kitab injil dan taurat. Padahal tidak ada yang mengetahui kisah-kisah tersebut di kala itu kecuali ahlul kitab.

5. Beliau seorang yang ummi.
Apa yang kira-kira bisa diperbuat oleh seorang yang buta huruf, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis? Apalagi untuk mengarang kitab yang nilai sastranya tidak bisa ditiru oleh seluruh ahli bahasa? Bahkan menantang secara terbuka bagi siapa saja yang ragu akan keabsahan Alqur’an sebagai wahyu Allah?

6. Alqur’an menyampaikan berita-berita yang belum terjadi. Di antaranya adalah berita tentang kemenangan bangsa Romawi.

ﺍﻟﻢ () ﻏُﻠِﺒَﺖِ ﺍﻟﺮُّﻭﻡُ () ﻓِﻲ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻫُﻢ ﻣِّﻦ ﺑَﻌْﺪِ ﻏَﻠَﺒِﻬِﻢْ ﺳَﻴَﻐْﻠِﺒُﻮﻥَ () ﻓِﻲ ﺑِﻀْﻊِ ﺳِﻨِﻴﻦَ ۗ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟْﺄَﻣْﺮُ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻞُ ﻭَﻣِﻦ ﺑَﻌْﺪُ ۚ ﻭَﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻳَﻔْﺮَﺡُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ

“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan pada hari orang-orang beriman akan gembira” (ar Rum: 1—4)

Ternyata Apa yang diberitakan Alqur’an benar-benar terjadi. Kurang lebih tujuh tahun setelah diturunkannya ayat di atas, terjadilah perang sengit antara kerajaan Romawi dan Persia. Allah menjadikan hal itu sebagai berita gembira bagi kaum muslimin, sebab setelah itu kaum muslimin pun berhasil mengalahkan bala tentara Romawi.
====

Masih banyak bukti keabsahan Alqur’an sebagai wahyu dari Allah -subhanahu wata’ala. Namun cukuplah enam poin diatas sebagai contoh yang kita sebutkan. Bahkan salah satu di antara enam bukti tersebut sebenarnya sudah cukup kuat bagi orang yang cerdas dan benar-benar mencari kebenaran.
====

Adapun sebab mengapa orang-orang kafir di zaman Rasulullah masih tetap bersikukuh dengan kekafirannya maka cukuplah dua ayat berikut ini yang menjelaskan sebabnya:

(وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ)
“Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika (Al-Qur’an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” [Surat Al-Anfal 32]

وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا
“Dan kalaupun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya.” [Al-A’raaf: 146]
====

Semoga Allah menjadikan qalbu kita semakin cinta kepada Alqur’an, mengkaji, menghafal dan menjaganya. Amin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bishshowaab.
***********

~ Catatan-al-basimiy ~

Pagaralam, Sabtu 03 Shafar 1440/13 Oktober 2018

Hamba Allah yang dha’if:

AD al-Basimiy

Sumber:
Alpasimiy.com