•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

����
     –<<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>>–

��Pernikahan insan selalu saja menjadi saat yang berharga dan spesial dalam hidupnya. Siapa gerangan yang tidak berbahagia menghadapinya, kecuali mungkin mereka yang “kawin paksa”, dan kejadian yang seperti itu sedikit.

��Sebelum ke jenjang pernikahan, orang biasa pilah pilih, siapa yang bakal menjadi teman hidupnya. Si lelaki memilih, si perempuan pun memilih. Karena perempuan berhak memilih, dia boleh menolak pinangan lelaki yang datang apabila memang dia tak suka.

✅Perempuan biasa dipilih karena empat hal, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ، لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan dinikahi karena empat hal;
���� karena hartanya,
���� karena nasabnya (keturunannya),
���� karena kecantikannya,
���� dan karena agamanya.
Utamakanlah oleh kalian perempuan yang baik agamanya, taribat yadak.”
(HR. Muslim no. 3620)

❗Perhatikan hadits di atas!
Memang, ketaatan beragama selalu saja menjadi prioritas terdepan dalam urusan pernikahan. Siapa pun dia dan dari mana pun dia. Jadi, apabila seorang perempuan cantik jelita, kaya raya, memiliki kedudukan dan martabat tinggi di tengah-tengah manusia, dari keturunan bangsawan pula, namun agamanya ‘hampa’,����✋�� dia bukan perempuan salihah.
��Adakah kebaikan yang diharapkan darinya, padahal kebaikan yang hakiki adalah kebaikan agama?

��Apabila perempuan dituntut kesalihannya, demikian pula lelaki. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertitah kepada para wali perempuan yang didatangi oleh lelaki saleh yang ingin melamar putri atau saudari mereka,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ، فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika melamar kepada kalian, seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
(HR. at-Tirmidzi, hadits hasan sahih, lihat Shahih at-Tirmidzi no. 1084, al-Irwa no. 1868, ash-Shahihah no. 1022)

��Dalam Tuhfatul Ahwadzi dijelaskan makna hadits di atas sebagai berikut:
����Jika seseorang yang kalian anggap baik agama dan pergaulannya meminta kalian untuk menikahkannya dengan seorang perempuan dari kalangan anak-anak atau karib kerabat kalian, nikahkanlah perempuan kalian dengannya.
����Apabila tidak kalian lakukan, padahal agama dan perangai si lelaki bagus, karena kalian hanya menginginkan seseorang yang terpandang nasabnya, bagus fisiknya (tampan rupawan), atau hartanya, ��niscaya akan terjadi fitnah (bencana) dan kerusakan yang besar.

��Sebab, kalau kalian tidak mau menikahkan perempuan kalian kecuali dengan lelaki yang berharta atau berkedudukan, bisa jadi banyak perempuan kalian yang hidup tanpa memiliki suami.
��Akan banyak pula lelaki kalian yang tidak memiliki istri. Akhirnya. merebaklah bencana dengan terjadinya perbuatan zina.
��Bisa jadi, para wali perempuan mendapatkan cela hingga bergejolaklah bencana demi bencana dan kerusakan, dan berdampak terputusnya nasab, sedikitnya kesalihan dan sedikitnya iffah ( kehormatan diri).
(Kitab an-Nikah, bab “Ma Ja’a, Idza Ja’akum man Tardhauna Dinahu Fa Zawwijuhu”)

✅Demikianlah bimbingan agama yang mulia bagi para pendamba kemuliaan.
��Akan tetapi, banyak manusia berpaling darinya, sadar ataupun tidak. Tidak murni salah memang apabila seseorang memilih pasangan karena kebagusan fisiknya. Tidak pula disalahkan seseorang yang mengutamakan nasab tertentu atau memilih yang sesuku. Ingin yang bangsawan dan orang terpandang, ingin yang berharta… dst.

Semuanya keinginan yang manusiawi, boleh-boleh saja. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati dan memberikan arahan kepada Fathimah bintu Qais radhiallahu ‘anha agar tidak menerima lamaran Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma, karena Muawiyah seorang yang fakir, tidak berharta?[1]

Sebelum jauh mengurus proses pernikahan, bukankah disyariatkan nazhar (melihat calon pasangan) terlebih dahulu? Kira-kira apa fungsinya? Melihat fisik, bukan?

����Yang dicela hanyalah apabila sisi agama diabaikan dan tidak dijadikan prioritas.
✋��Maka dari itu, janganlah manusia hanya dinilai dari kedudukan, keturunan, dan kekayaannya.

Yang keturunan bangsawan enggan menikah dengan yang bukan bangsawan. Kabilah yang dianggap mulia hanya mau menikah dengan yang sederajat. Keturunan Arab berpikir seribu kali untuk menikah dengan orang ajam (non-Arab).

��Apabila ada yang beralasan bahwa menikah haruslah dengan yang sekufu, perlu dipahami terlebih dahulu apa maksud sekufu tersebut. Makna sekufu, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah, adalah sama dan semisal. Sekufu yang teranggap adalah sekufu dalam hal agama.
(Subulus Salam, 6/57)

Jadi, si lelaki dan si perempuan seagama[2], dan keduanya adalah orang baik-baik.

����Sebab, Allah ‘azza wa jalla mengingatkan dalam Tanzil-Nya,

ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِي&#1
579;َٰتِۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ

“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang keji pula. Perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik pula.”
(an-Nur: 26)

��Al-Imam Malik rahimahullah termasuk yang berpendapat bahwa kafa’ah (sekufu) yang teranggap hanyalah dalam masalah agama, bukan yang lain.
(al-Mughni, Kitab an-Nikah, Mas’alah Wal Kuf’u Dzud Din wa al-Manshib)

��Dinukilkan pula pendapat seperti ini dari Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu dan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Demikian pula Ibnu Sirin rahimahullah dan Umar bin Abdil Aziz rahimahullah dari kalangan tabi’in.
(Fathul Bari, 9/165—166)[3]

������Dalilnya, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah, ialah ayat 13 dari surah al-Hujurat dan hadits,

النَّاسُ كُلُّهُمْ وَلَدُ آدَمَ

“Manusia semuanya adalah anak Adam.”
(HR. Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat 1/25. Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dalam Sunannya dengan sedikit perbedaan lafadz no. 5116 dan at-Tirmidzi no. 3955; dinyatakan hasan dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih at-Tirmidzi)
(Subulus Salam, 6/57)

bersambung…

Bagikan Komentarmu