����lanjutan… ⬇⬇

��Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengisyaratkan dukungan terhadap pendapat ini. Dalam Kitab an-Nikah dalam Shahih-nya, beliau membuat judul bab: al-Ikfa’ fid Din (bab “Sekufu Itu dalam Agama”). Kemudian beliau membawakan firman Allah ‘azza wa jalla,

وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ مِنَ ٱلۡمَآءِ بَشَرٗا فَجَعَلَهُۥ نَسَبٗا وَصِهۡرٗاۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرٗا ٥٤
“Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu berketurunan dan bermushaharah (hubungan yang terjalin karena pernikahan)….”
(al-Furqan: 54)

��Beliau bawakan pula beberapa hadits, di antaranya hadits Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha tentang Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah radhiallahu ‘anhu yang memiliki anak angkat bernama Salim, seorang maula (bekas budak), dan dinikahkannya dengan keponakannya, Hindun bintu al-Walid bin Utbah bin Rabi’ah. (Hadits no. 5088)

✔��Dengan demikian, apabila engkau, wahai lelaki, ingin menikah dengan perempuan yang mulia, carilah perempuan yang bertakwa. Sebab, kemuliaan ada pada takwa, bukan yang lain. ����Setelah itu, baru engkau memperhitungkan paras si perempuan, nasabnya, dan seterusnya.

✔�� Demikian pula dirimu, wahai perempuan, pilihlah seorang yang bertakwa sebagai suamimu, ���� setelah itu baru engkau melihat sisi yang lain.

✋��❌Jadi, tidak masalah engkau yang bangsawan menikah dengan yang bukan bangsawan, asal saling ridha. Tidak masalah engkau yang kaya menikah dengan yang miskin. Sebab, semua itu bukan standar kemuliaan.
��Kemuliaan, sekali lagi, hanya ada pada takwa.

��Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,
“Ulama Islam sepakat tentang bolehnya seorang lelaki menikahi perempuan yang bukan dari kabilahnya, apabila agama mereka sama. Ulama pun sepakat tentang bolehnya seorang muslim menikahi perempuan ahlul kitab yang menjaga kehormatan dirinya, walaupun si perempuan bukan dari kalangan bangsa Arab. Dalil tentang hal ini banyak didapatkan dari al-Quran, as-Sunnah, dan amalan salaf. Di antaranya,

����Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.”
(al-Hujurat: 13)

✏Dalam ayat yang mulia di atas, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan kepada para hamba-Nya, tidak ada kelebihan atau keistimewaan seseorang terhadap orang lain di sisi Allah ‘azza wa jalla selain dengan takwa.
��������Maka dari itu, orang yang paling mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla adalah yang paling bertakwa di antara mereka.

����Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang yang paling mulia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang paling bertakwa di antara manusia.”

✏Ayat dan hadits yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa kabilah-kabilah yang ada di tengah-tengah masyarakat manusia adalah sekufu, sama, dan sederajat. Oleh karena itu, seorang lelaki dari kabilah Quraisy (Qurasyi) dan dari Bani Hasyim (Hasyimi) boleh menikah dengan seorang perempuan dari Bani Tamim dan Qahthan, atau selain keduanya. Demikian pula sebaliknya.

��Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, yang merupakan seorang dari Bani Hasyim yang paling mulia, menikah dengan Zainab bintu Jahsyin dari Bani Asad bin Khuzaimah. Zainab bukanlah dari suku Quraisy.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikah dengan Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, Hafshah bintu Umar, Juwairiyah bintu al-Harits, Saudah bintu Zam’ah, Ummu Salamah dan Aisyah, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka, semuanya bukan dari kalangan Bani Hasyim.
Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikahi Shafiyah bintu Huyai, seorang keturunan Bani Israil.

��Umar ibnu al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menikahi Ummu Kultsum bintu Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, padahal Umar dari Bani ‘Adi sedangkan Ummu Kultsum dari Bani Hasyim.

��Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu menikah dengan dua putri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam , secara berurutan yang satu setelah meninggal yang lain, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Utsman dari Bani Umayyah sementara dua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas dari Bani Hasyim.

����Kenyataan seperti ini banyak sekali (menikah dengan kabilah yang berbeda). Semua ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau adalah orang-orang yang tidak lagi memedulikan urusan nasab ketika urusan agama telah lurus.

��Termasuk bukti yang menunjukkan akan hal ini adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan Usamah bintu Zaid radhiallahu ‘anhu dengan Fathimah bintu Qais, seorang perempuan dari suku Quraisy. Padahal, Usamah adalah seorang bekas budak dari Bani Kalb.

��Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams radhiallahu ‘anhu menikahkan putri saudara lelakinya (keponakannya) dengan bekas budaknya yang bernama Salim, padahal keponakannya dari suku Quraisy, sedangkan Salim seorang mantan budak.

��Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menikahkan saudara perempuannya dengan al-Asy’ats bin Qais. Abu Bakr dari Bani Tamim dari suku Quraisy, sedangkan al-Asy’ats dari Bani Kindah (al-Kindi).

��Abdur rahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu menikahkan saudara perempuannya dengan Bilal bin Rabah, sang muazin, padahal saudarinya adalah Zuhriyah Quraisyiyah sedangkan Bilal seorang Habasyi (dari Afrika).

����Semua ini menunjukkan kepada pencari ilmu tentang bolehnya pernikahan dengan selain kabilahnya jika memang urusan agama sudah lurus. Dalil dan kenyataan yang disebutkan di atas kiranya mencukupi, insya Allah.”
✏(Fatwa ini disampaikan Samahatusy Syaikh tatkala beliau masih menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Madinah. Dikutip dari Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, hlm. 401—403)

※bersambung ⤵

Bagikan Komentarmu