ETIKA DAN BATASAN BERCANDA

Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik internal personal maupun eksternal sosial. Sementara interaksi antar sesama manusia juga memiliki etika dan adab yang telah diatur pula secara lengkap oleh syariat Islam.

Di antara cabang mu’amalah antar sesama manusia tersebut adalah etika di dalam ‘mudaa’abah‘ atau bergurau. Yang mana bergurau merupakan salah satu wujud interaksi komunikasi tabi’at yang ada pada masing-masing manusia. Sebagai ungkapan keakraban antara satu dengan yang lainnya.
=====

Bercanda adalah sesuatu hal yang diperbolehkan di dalam islam, sebab gurauan tidaklah terjadi melainkan karena adanya kedekatan hati terhadap orang yang dicandainya. Al-imam Ibrahim -guru al imam Al-a’masy berkata:
” ﻻ ﻳﻤﺎﺯﺣﻚ ﺇﻻ ﻣﻦ ﻳﺤﺒﻚ ”
“Tidaklah yang mengajakmu bercanda melainkan orang yang mencintaimu. ”

Bercanda gurau diperbolehkan di dalam islam, selama tidak melampaui batas-batas syariat yang ada. Adalah dahulu Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat juga bercanda dan bergurau.

Anas bin Malik, ia berkata:
“Sungguh, ada seorang lelaki meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seekor kendaraan untuk ditunggangi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Aku akan memberimu kendaraan berupa anak unta.’ Orang itu lalu berkata, ‘Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta itu?’ Nabi bersabda, ‘Bukankah unta betina itu tidak melahirkan selain unta?’.” [HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh Syaikh al Albani rahimahullah]

Dari Anas:
“Sesungguhnya Nabi bergaul dengan kita. Sampai-sampai beliau mengatakan kepada adikku yang masih kecil, ‘Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh an-Nughair?’.” [Shahih al-Bukhari no. 6129]

Pada suatu hari, al-Imam asy-Sya’bi rahimahullah bercanda, maka ada orang yang menegurnya dengan mengatakan, “Wahai Abu ‘Amr, apakah kamu bercanda?” Beliau menjawab, “Seandainya tidak seperti ini, kita akan mati karena bersedih.” [Al-Adab asy-Syar’iyah, 2/214]

Khalil bin Ahmad berkata:
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ ﺳﺠﻦ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻤﺰﺣﻮﺍ ‏

“Manusia dalam penjara (terkekang) apabila tidak saling bercanda.”

=========

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM BERCANDA. Di antaranya:

1. Bercanda diperbolehkan pada saat yang sesuai dan tidak terlalu sering, atau bahkan setiap waktu. Nabi -shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻜْﺜِﺮِ ﺍﻟﻀَّﺤِﻚَ ﻓَﺈِﻥَّ ﻛَﺜْﺮَﺓَ ﺍﻟﻀَّﺤِﻚِ ﺗُﻤِﻴﺖُ ﺍﻟْﻘَﻠْﺐَ
[حديث عن أبي هريرة رواه أحمد وغيره]

“Janganlah kalian banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu bisa mematikan hati.” [Hadits Abu Hurairah HR. Ahmad dan selainnya]

Umar bin Khattab berkata:
ﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ : ” ﻣﻦ ﻛَﺜُﺮ ﺿَﺤِﻜُﻪ ﻗَﻠَّﺖ ﻫَﻴْﺒَﺘُﻪ ، ﻭﻣﻦ ﻣَﺰَح استخفَّ ﺑﻪ ، ﻭﻣﻦ ﺃَﻛﺜَﺮ ﻣﻦ ﺷﻲﺀ ﻋُﺮﻑ ﺑﻪ
“Barangsiapa yang banyak bercancandanya maka wibawanya akan menurun. Barangsiapa yang (selalu) bergurau maka dia akan dientengkan. Dan barangsiapa yang yang gemar terhadap sesuatu maka dia akan dikenal dengan kebiasaannya tersebut.”

2. Tidak boleh bercanda dengan memperolok-olokkan perkara agama.

ﻭَﻟَﺌِﻦْ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁَﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ‏( 65 ‏) ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢْ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ … ‏( 66 ‏)

“Jika kalian bertanya kepada mereka, sungguh mereka akan berkata: Sesungguhnya kami hanyalah berbincang-bincang dan bermain-main. Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian memperolok-olok? Janganlah kalian mohon maaf. Sungguh kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” [At-Taubah ayat 65-66]

Allah juga berfirman:
ولا تتخذوا آيات الله حزوا
“Dan janganlah kalian menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan tertawaan.” [Al-Baqarah: 231]

Tidak sedikit di antara kaum muslimin – bahkan da’i zaman sekarang menjadikan sunnah-sunnah Rasulullah sebagai bahan tertawaan. Penampilan yang merupakan identitas seorang muslim dihina dan disalahkan. Wal ‘iyyadzu billah.

3. Tidak boleh bercanda dengan omongan dusta.

Telah disinggung sebelumnya bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam ada kalanya juga bergurau. Akan tetapi beliau tidak pernah betdusta dengan ucapannya, walaupun sekadar canda:

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧَّﻚَ ﺗُﺪَﺍﻋِﺒُﻨَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧِّﻲ ﻟَﺎ ﺃَﻗُﻮﻝُ ﺇِﻟَّﺎ ﺣَﻘًّﺎ

Dari Abu Hurairah ia berkata: Para Sahabat berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda juga bersenda gurau dengan kami? Nabi bersabda: Sesungguhnya tidaklah aku berkata kecuali kebenaran (H.R atTirmidzi, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

ﻭَﻳْﻞٌ ﻟِﻠَّﺬِﻱ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﻓَﻴَﻜْﺬِﺏُ ﻟِﻴُﻀْﺤِﻚَ ﺑِﻪِ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ ﻭَﻳْﻞٌ ﻟَﻪُ
“Celaka bagi orang yang bercerita dengan berdusta untuk membuat suatu kaum tertawa. Celaka, sungguh celaka baginya” [H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ahmad, dihasankan Syaikh al-Albaniy]

4. Tidak boleh bercanda sampai menyakiti dengan mencela saudaranya.

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻟَﺎ ﻳَﺴْﺨَﺮْ ﻗَﻮْﻡٌ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻡٍ ﻋَﺴَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻧِﺴَﺎﺀٌ ﻣِﻦْ ﻧِﺴَﺎﺀٍ ﻋَﺴَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻦَّ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻦَّ.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).” [Al-Hujurat: 11]

Di antara ulama salaf berkata:
ﻟﻜﻞ ﺷﻲﺀ ﺑﺪﺀ، ﻭﺑﺪﺀ ﺍﻟﻌﺪﺍﻭﺓ ﺍﻟﻤﺰﺍﺡ ‏

“Setiap sesuatu pastilah memiliki permulaan, dan awal permusuhan itu adalah senda gurau. ”

Al-Ibnu Hibban berkata:
.ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺳﻤﻰ ﺍﻟﻤﺰﺍﺡ ﻷﻧﻪ ﺯﺍﺡ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﻖ ، ﻭﻛﻢ ﻣِﻦ ﺍﻓﺘﺮﺍﻕ ﺑﻴﻦ ﺃﺧﻮﻳﻦ ، ﻭﻫَﺠﺮﺍﻥ ﺑﻴﻦ ﻣُﺘﺂﻟﻔﻴﻦ ، ﻛﺎﻥ ﺃﻭﻝ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺰﺍﺡ
“Dinamakan dengan ‘al-mizah’ sebab ia bisa mengalihkan dari al-haq. Betapa banyak perpecahan antara dua bersaudara dan berpisahnya dua orang yang tadinya bersatu, ternyata penyebab utamanya adalah senda gurau.”
=====

Maka bergurau hukumnya boleh-boleh saja dengan tetap menjaga adab-adab dan etikanya. Dengan tutur kata yang sopan, tidak mengandung dosa dan kemaksiatan, serta tetap menjaga iman dan takwa:

سئل ابن عمر: هل كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يضحكون؟ قال: نعم. والإيمان في قلوبهم مثل الجبال.
“Ibnu Umar pernah ditanya: “Apakah para sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu juga tertawa?” beliau menjawab, “Iya. Dan iman di dalam hati-hati mereka seperti gunung.”

Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dari segala bentuk ketergelinciran. Amin.

~ Catatan Al-basimiy ~

10 Shafar 1440/ 20 Oktober 2018

Sumber:
http://alpasimiy.com