โ”๐Ÿ“œ๐Ÿ“š๐Ÿ“–โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”“
*Majmu’ah Riyadhussalafiyyin*
โ”—โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”โ”๐Ÿ“–๐Ÿ“š๐Ÿ“œโ”›

๐Ÿ“–๐Ÿ’ฌ๐Ÿ“ข *FAEDAH YANG BERKAITAN TENTANG AIR KENCING BAYI*

Dalam hal ini, terdapat hadis Rasulullah _shallallahu alaihi wa sallam_.

ุนูŽู†ู’ ุฃูู…ู‘ู ู‚ูŽูŠู’ุณู ุจูู†ู’ุชู ู…ูุญู’ุตูŽู†ู ุงู„ู’ุฃูŽุณูŽุฏููŠู‘ูŽุฉูโ€“ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุงโ€“ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุฃูŽุชูŽุชู’ ุจูุงุจู’ู†ู ู„ูŽู‡ูŽุง ุตูŽุบููŠุฑูุŒ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ูƒูู„ู’ ุงู„ุทู‘ูŽุนูŽุงู…ูŽุŒ ุฅู„ูŽู‰ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูโ€“ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽโ€“ููŽุฃูŽุฌู’ู„ูŽุณูŽู‡ู ูููŠ ุญูุฌู’ุฑูู‡ูุŒ ููŽุจูŽุงู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุซูŽูˆู’ุจูู‡ูุŒ ููŽุฏูŽุนูŽุง ุจูู…ูŽุงุกู ููŽู†ูŽุถูŽุญูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุซูŽูˆู’ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุบู’ุณูู„ู’ู‡ู.

โ€œDari Ummu Qais binti Mihshan al-Asadiyyah _radhiyallahu โ€˜anha_, bahwa dia menemui Rasulullah _shallallahu โ€˜alaihi wa sallam_ dengan membawa putranya yang masih bayi dan belum makan makanan. Rasulullah lalu mendudukkan anak kecil itu dalam pangkuannya sehingga ia kencing dan mengenai pakaian beliau. Beliau kemudian minta diambilkan air, lalu memercikkannya dan tidak mencucinya.โ€ (H.R. Al-Bukhari, no. 223 dan Muslim, no. 287)

Faedah yang diambil dalam hadis ini:

1๏ธโƒฃ Najisnya air kencing bayi karena Rasulullah _shallallahu โ€˜alaihi wa sallam_ menyiramnya. Inilah pendapat yang benar berdasarkan hadis di atas.

Anak bayi yang masih menyusu dengan ibunya dan belum sampai pada usia mengonsumsi selain asi, maka ketika air kencingnya mengenai seseorang, pakaian, tempat, dan benda lainnya untuk menyucikannya cukup dengan menyiramkan biasa saja, yakni cukup membasahi tanpa dikucek.

Para ulama berbeda pendapat, apakah semua bayi apabila kencing cara menyucikannya demikian atau dikhususkan sebagian dan tidak untuk sebagian?

Sebagian ulama berpendapat bayi lelaki dan perempuan sama hukumnya, yakni cara membersihkannya cukup dengan dipercikkan.

Sebagian ulama berpendapat bayi lelaki ataupun perempuan wajib dibasuh, tidak cukup dengan dipercikkan air.

Pendapat ketiga adalah bahwa hukum memercikkan air hanya berlaku pada bayi laki-laki berdasarkan hadis,

ุฃู†ู‡ุง ุฃุชุช ุจุจู† ู„ู‡ุง ุตุบูŠุฑ.

“Bahwa Ummu Qais mrnemui Rasulullah _shallallahu โ€˜alaihi wa sallam_ dengan membawa putranya yang masih bayi.”

Adapun bayi perempuan karena tidak ada dalil yang mengkhususkannya, maka kembali ke hukum asal, yakni sama seperti membersihkan najis yang lainnya, wajib untuk dicuci dengan dikucek.

Pendapat inilah yang benar yang berjalan di atas dalil. Pendapat ini adalah pendapat mazhab al-Syafiโ€˜i, Ahmad, Ishaq, al-Auzaโ€˜i, Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim, dan dipilih oleh Syekh โ€˜Abdurrahman bin Nashir al-Saโ€˜di _rahimahumullah_.

2๏ธโƒฃ Meneladan akhlak rendah hati nabi Muhammad _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ beliau memangku anak tersebut tanpa rasa gengsi dan berat hati.

๐Ÿ–‹ Oleh: Ustadz Abu Fudhail Abdurrahman ibnu Umar _hafizhahullah_.

โž– โž– โž– โž– โž–
๐Ÿ•Œ _โ€œTetap hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan berkah lebih banyak dan lebih besar, insyaallah.โ€_

๐Ÿ“ฒ *Ayo Join dan Share*:
โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–
๐Ÿ“š Faedah:
telegram.me/Riyadhus_Salafiyyin
๐Ÿ–ผ Poster dan Video:
telegram.me/galerifaedah
๐ŸŒ Kunjungi:
www.riyadhussalafiyyin.com