💐📝FATWA DAN PENJELASAN 3 ULAMA TENTANG JAMAAH TABLIGH

📋Pendahuluan

Ada begitu banyak fatwa Ulama Ahlussunnah tentang bahaya Jamaah Tabligh dan penyimpangannya. Namun di sini hanya dikutipkan penjelasan dari 3 Ulama saja, yaitu Syaikh al-Albaniy, Syaikh Abdurrazzaq Afifi, dan Syaikh Robi’ bin Hadi. Syaikh al-Albaniy kami kutipkan 2 penjelasan dari beliau. Walaupun sebenarnya penjelasan Syaikh al-Albaniy tentang Jamaah Tabligh masih lebih banyak dari itu.

Semoga dengan membaca penjelasan para Ulama itu kita mendapat pencerahan dan perbaikan dalam cara pandang dan pola pikir kita. Akankah kita merasa lebih berilmu, lebih hikmah dalam dakwah dibandingkan para Ulama tersebut, atau justru kita kedepankan perasaan mengalahkan kesadaran ilmiyyah? Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufiq, rahmat, dan pertolongan kepada segenap kaum muslimin.

🗒FATWA SYAIKH AL-BANIY TENTANG JAMAAH TABLIGH

❓Pertanyaan:

Bagaimana pendapat anda tentang Jamaah Tabligh seperti (gerakan) dakwah. Apakah lama masa khuruj (keluarnya mereka) ada (dalilnya) dalam Sunnah?

💡Jawaban Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah:

Pertanyaan ini adalah tentang waktu. Saya sendiri memiliki jawaban ringkas, suatu kalimat benar yang wajib diucapkan. Saya meyakini bahwasanya dakwah (Jamaah) Tabligh adalah Sufi di masa ini. Tidak berlandaskan alQuran maupun Sunnah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Sebagaimana diungkapkan:

المكتوب مبين من عنوانه

Sesuatu yang tertulis dijelaskan dari judulnya.

Aktivitas khuruj (keluar ke daerah-daerah) yang diberi batasan 3 hari, 40 hari, mereka berupaya berdalil dengan sebagian nash yang tidak ada hubungannya dengan hal tersebut secara mutlak. Tentang khuruj ini, cukup bagi kita yang menisbatkan pada Salafus Sholih (para pendahulu yang sholih seperti Nabi dan para Sahabatnya, pent). Inilah penisbatan yang benar. Seorang muslim tidaklah boleh menisbatkan kepada….

Bagi yang berpegang dengan Salafus Sholih wajib untuk mengetahui hakikat ini. Bukanlah seperti berpegang kepada pribadi tertentu yang dikatakan ini adalah peletak dasar mazhab ini atau kepada Syaikh tertentu yang dikatakan bahwa ia adalah pendiri thariqah tertentu, atau bersandar kepada orang tertentu yang merupakan pendiri organisasi tertentu. Berpegang dengan Salaf adalah berpegang pada sesuatu yang terjaga (dari kesalahan). Sedangkan bersandar pada selain mereka (Salaf) adalah bersandar pada sesuatu yang tidak terjaga.

Cukuplah dipahami bahwa kita bersandar kepada Salafus Sholih…Khuruj-nya Jamaah Tabligh tidaklah dilakukan oleh Salaf, bahkan tidak juga dilakukan oleh Kholaf (Ulama setelah Salaf). Karena ini (gerakan Jamaah Tabligh) baru terjadi di masa ini. Tidaklah dikenal di generasi-generasi yang lama dari Salaf sampai pada setelah mereka dari kalangan Kholaf di pertengahan masa ini.

Kemudian, yang mengherankan adalah bahwasanya mereka keluar untuk melakukan tabligh (menyampaikan dakwah) padahal mereka sendiri mengakui bahwasanya mereka bukanlah ahli dalam berdakwah. Dakwah itu haruslah dilakukan oleh orang yang berilmu. Sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.

Beliau mengirim utusan-utusan (dakwah) yang merupakan Sahabat-Sahabat pilihan yang termasuk berilmu untuk mengajarkan Islam kepada manusia. Nabi pernah mengirim Ali sendirian. Beliau pernah mengirim Abu Musa sendirian. Beliau pernah mengirim Muadz sendirian.

Nabi tidaklah mengirim sekelompok Sahabat dalam jumlah yang masyaallah (banyak). Yang lain adalah Sahabat Nabi juga tapi belum memiliki ilmu seperti orang-orang yang dikirim itu. Lalu apa yang bisa kita katakan terhadap orang yang keilmuannya tidak bisa dibandingkan dengan Sahabat yang paling sedikit ilmunya, padahal Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tidak mengirimkan mereka juga untuk menyertai (dalam dakwah) bersama para Ulama dari kalangan Sahabat yang telah kami sebutkan.

Sedangkan mereka (Jamaah Tabligh) keluar puluhan orang bahkan ratusan. Padahal orangnya tidaklah berilmu (bukan Ulama). Bahkan bukan pula penuntut ilmu. Mereka hanya mengambil ilmu dari sana dan dari sini (dari sumber mana saja, pent). Sedangkan yang lain adalah manusia awam. Terdapat pernyataan terdahulu:

فاقد الشيئ لا يعطيه

“orang yang tidak memiliki sesuatu, tidak bisa memberikannya”

Lalu apa yang didakwahkannya kepada para manusia kalau mereka…(seperti itu).

Kami menasihati mereka di Suriah, di Oman, agar mereka duduk dan tinggal di negeri mereka saja, mempelajari agama secara khusus, belajar akidah tauhid yang keimanan seseorang tidak akan sah meskipun banyak puasa dan shalat. Tidak akan sah imannya setelah ia benarkan akidahnya.

Kami menasihati mereka agar mereka sebaiknya duduk saja di negeri mereka, tinggal di negeri mereka. Ikut halaqah (majelis ilmu) di masjid. Hendaknya mereka mempelajari ilmu yang bermanfaat dari orang yang berilmu di sana daripada mereka keluar seperti itu…

(Tafrigh al-Fataawa al-Imaarotiyyah lisy Syaikh al-Albaniy (6/7)).

❓Pertanyaan yang lain:

Bagaimana pendapat anda tentang Jamaah Tabligh. Apakah boleh bagi seorang penuntut ilmu atau selainnya untuk keluar (khuruj) bersama mereka dengan anggapan sebagai dakwah menuju Allah?

💡Jawaban Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaniy rahimahullah:

Jamaah Tabligh tidaklah berjalan di atas manhaj alQuran dan Sunnah Rasul-Nya shollallahu alaihi wasallam maupun manhaj para pendahulu kita yang shalih (Salafus Shalih).

Jika demikian keadaannya, tidaklah boleh khuruj bersama mereka. Karena hal itu menafikan manhaj kita untuk menyampaikan dakwah sesuai manhaj Salafus Sholih. Dakwah di jalan Allah itu dilakukan oleh orang yang berilmu. Adapun orang-orang yang keluar bersama mereka (Jamaah Tabligh) mereka itu wajib untuk tinggal di negeri mereka, mempelajari ilmu di masjid-masjid. Hingga melahirkan orang-orang berilmu yang menegakkan dakwah menuju Allah di kampung-kampung mereka.

Selama kondisinya seperti itu, wajib bagi penuntut ilmu untuk mengajak mereka di kampung mereka untuk mempelajari alQuran dan Sunnah serta mengajak manusia kepada ajaran tersebut.

Jamaah Tabligh itu tidaklah memaksudkan dengan dakwah kepada Quran dan Sunnah sesuai dengan landasan umum yang berlaku. Justru mereka menganggap dakwah semacam itu akan memecah belah. Karena itu, mereka hampir sama dengan kelompok Ikhwanul Muslimin.

Mereka berkata bahwasanya dakwah mereka dibangun di atas alQuran dan Sunnah. Namun ini hanya ucapan semata. Tidak ada satu akidah yang menyatukan mereka. Sebagian mereka ada yang berakidah Maturidiyyah, sebagian lagi Asy’ariy. Ada lagi yang lain adalah Sufi. Sedangkan yang lain lagi ada yang tidak bermazhab.

Karena dakwah mereka berlandaskan ketentuan: Lekatkanlah orang-orang itu, kumpulkan mereka, kemudian beri wawasan. Pada hakikatnya tidak ada wawasan (yang benar) pada mereka. Telah berjalan lebih dari setengah abad tidak muncul orang berilmu dari mereka. Sedangkan kita menyatakan: Berikan wawasan (ilmu) kepada orang-orang kemudian kumpulkan mereka (di atas landasan ilmu itu, pent). Hingga bersatunya mereka itu adalah pada landasan yang tidak ada perselisihan.

Dakwah Jamaah Tabligh adalah dakwah Sufi di masa kini. Mereka berdakwah kepada akhlak (saja). Adapun perbaikan terhadap akidah masyarakat mereka tidak bergerak. Karena menurut mereka (dakwah akidah itu, pent) akan memecah belah.

Akh Sa’ad al-Hushain telah berkirim dan berbalas surat dengan pimpinan Jamaah Tabligh di India atau di Pakistan. Nampak jelas dari surat-surat itu bahwasanya ia (pimpinan Jamaah Tabligh itu) mengakui (bolehnya) tawassul (yang bid’ah), istighotsah, dan hal-hal (penyimpangan) lain yang masih banyak. Mereka meminta anggota-anggota mereka untuk berbaiat pada 4 thoriqoh (Sufiyyah). Di antaranya adalah thoriqoh anNaqsyabandiyah. Setiap pengikut Tabligh haruslah berbaiat pada asas ini.

Sebagian orang ada yang berkata: Sesungguhnya Jamaah ini dengan sebab kesungguhan mereka telah mengembalikan banyak orang kepada Allah. Bahkan kadangkala di tangan mereka masuk Islam banyak orang yang non muslim. Bukankah ini sudah cukup sebagai pembolehan khuruj (keluar) bersama mereka dan bergabung dengan dakwah mereka?

Kita katakan: Sesungguhnya kalimat-kalimat ini telah kami ketahui dan kami banyak dengar dari para Sufi. Misalkan, ada seorang syaikh akidahnya rusak, tidak mengenal sunnah, bahkan memakan harta manusia secara batil. Namun banyak orang-orang fasik yang bertobat melalui dia!

Setiap kelompok yang mengajak kepada kebaikan pasti akan memiliki pengikut. Namun kita harus melihat dari lubuk hati: dakwah mereka sebenarnya kepada apa? Apakah mengajak untuk mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasul shollallahu alaihi wasallam dan akidah Salafus Sholih, serta tidak fanatik pada mazhab, selalu mengikuti sunnah di mana pun dan bersama siapapun?

Jamaah Tabligh tidak memiliki manhaj keilmuan. Manhaj mereka sesuai tempat di mana mereka berada. Mereka berubah-ubah warna (sesuai tempat yang dituju, pent).

(al-Masaa-ilul ‘Ilmiyyah wal Fataawa asySyar’iyyah (32-34)).

📋FATWA SYAIKH ABDURRAZZAQ AFIFI TENTANG JAMAAH TABLIGH

❓Pertanyaan: Bolehkah keluar bersama Jamaah Tabligh untuk mengingatkan manusia akan keagungan Allah?

💡Jawaban Syaikh Abdurrazzaq Afifi rahimahullah:

Kenyataannya, mereka adalah Ahlul Bid’ah yang menyimpang dan pengikut thariqah-thariqah (Sufiyyah) seperti Qodiriyyah dan selainnya. Keluarnya mereka bukanlah di jalan Allah. Namun di jalan Ilyas. Mereka tidaklah mengajak kepada alQuran dan Sunnah, namun (pada akhirnya) mereka mengajak kepada Ilyas (Syaikh mereka) di Bangladesh. Adapun keluar untuk tujuan (benar-benar) berdakwah kepada Allah (yang dilandasi ilmu, pent) adalah memang keluar di jalan Allah. Namun itu bukanlah khuruj (keluarnya) Jamaah Tabligh.

Saya telah mengenal Jamaah Tabligh sejak dahulu. Mereka adalah Ahlul Bid’ah di mana pun. Baik di Mesir, Israel, Amerika, dan Saudi. Seluruhnya memiliki keterikatan dengan Syaikh mereka, yaitu Ilyas.

(Fataawa wa Rosaail Samaahatusy Syaikh Abdurrazzaq Afiifi (1/174))

🗒PENJELASAN SYAIKH ROBI’ TENTANG JAMAAH TABLIGH

Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhaliy hafidzhahullah memberi catatan tentang ucapan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah : “tidak boleh khuruj bersama mereka (Jamaah Tabligh) kecuali orang yang memiliki ilmu dan bashiroh dengan akidah yang benar sesuai Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang akan membimbing, memberi nasihat, dan saling tolong menolong dengan mereka dalam kebaikan”.
Syaikh Robi’ menjelaskan: semoga Allah merahmati Syaikh (Bin Baz). Duhai seandainya mereka (Jamaah Tabligh) mau menerima nasihat dan arahan dari para Ulama, sehingga tidak mengapa keluar bersama mereka. Namun kenyataan yang sebenar-benarnya adalah mereka tidak mau menerima nasihat. Mereka tidak mau kembali dari kebatilan mereka (menuju kebenaran) karena sangat fanatiknya mereka dan mengikuti hawa nafsu.

Kalau seandainya mereka mau menerima nasihat-nasihat Ulama, niscaya mereka akan meninggalkan manhaj batil mereka dan mengikuti jalan orang-orang yang bertauhid dan mengikuti sunnah.

Kalau kondisinya seperti itu, tidaklah boleh khuruj (keluar atas nama dakwah) bersama mereka sebagaimana manhaj Salafus Sholih berjalan di atas Quran dan Sunnah dalam memperingatkan dari bahaya Ahlul Bid’ah dan bahaya bergaul maupun bermajelis dengan mereka. Karena hal itu bisa membuat jumlah mereka semakin banyak dan mendukung mereka dalam menyebarkan kesesatan mereka. Itu juga adalah bentuk tipuan terhadap Islam dan kaum muslimin, membuat terperdaya dengan mereka, serta bentuk tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Terlebih lagi mereka itu berbaiat dengan 4 thoriqoh Sufiyyah yang di dalamnya mengandung (akidah) al-Hulul dan Wihdatul Wujud (keyakinan bahwa Allah bersatu dengan makhlukNya, pent), dan juga kesyirikan dan kebid’ahan

(Aqwaalu Ulamaa-is Sunnah fi Jamaa’atit Tabligh karya Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhali halaman 8)

Syaikh Robi’ bin Hadi al-Madkhali juga menyatakan:

Jamaah Tabligh berbaiat kepada 4 thoriqoh Sufiyyah, yaitu al-Jisytiyyah, al-Qodiriyyah, anNaqsyabandiyyah, dan as-Sahruurardiyyah. Semuanya mengandung akidah Wihdatul Wujud dan al-Hulul, kesyirikan, dan kebid’ahan (http://www.rabee.net/ar/save.php?typ=1&newsid=175)

Penerjemah: Abu Utsman Kharisman

💡💡📝📝💡💡
WA al I’tishom
📲https://t.me/suaratauhidfm