13 Oktober, 2021
AD al-Basimiy

Sebelumnya kita menyangka bahwa acara gantung pisang di rangka atap rumah hanya diadakan di daerah tertentu saja. Akan tetapi setelah melihat keluar sana ternyata penomenanya tidak jauh berbeda. Acara yang sama telah menjadi tradisi umum di masyarakat Indonesia. Di jawa lebih dikenal dengan istilah ‘Munggah Molo’.

GAMBARAN
Setandan pisang digantungkan pada bagian ander, nook, atau kuda-kuda atap rumah yang baru selesai dipasang. Pisang yang diletakkan bukanlah sembarang pisang, akan tetapi pisang tertentu saja. Walaupun antara daerah satu dengan daerah lainnya tidak sepakat dengan jenis pisang yang sama. Bahkan di tempat yang lain lebih memilih menggantungkan labu (blewa) ketimbang pisang.

ANGGAPAN
Peletakan benda-benda ini bukan semata-mata tradisi tanpa alasan dan anggapan. Ada keyakinan terselip di balik tergantungnya setandan pisang masak dan labu tersebut. Yaitu supaya penghuni rumah terhindar dari keributan, keretakan keluarga dan semisalnya. Dan juga agar keluarga yang menempati rumah itu akan merasakan ketentraman dan kesejukan hati.

TINJAUAN SYAR’I
Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah ﷺ bersabda:
من علَّق تميمةً فقد أشركَ
“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah maka dia telah berbuat syirik.”
(HR. Ahmad no.17422, al-Harits no.563 dan disahihkan oleh al-Albani di dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 492 dari Uqbah bin Amir)

Tamimah adalah jimat yang gantungkan atau dipasangkan pada tempat-tempat tertentu dengan keyakinan akan bisa mencegah balak atau mendapat kebaikan darinya. Walaupun dalam bahasa Indonesia, tamimah lebih dikenal berupa batu, gulungan kertas, logam, atau benda kecil lainnya, akan tetapi maksudnya umum mencakup segala sesuatu yang diyakini akan bisa menolak bahaya atau mendapatkan kemanfaatan.

“Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu (dengan anggapan bisa menolak balak atau memberikan kemanfaatan) maka urusannya akan diserahkan kepada benda tersebut.”
(Shahih at-Tirmidzi no.2072 dari Abdullah bin Ukaim al-Juhani)

Maksud hadits di atas adalah bahwa Allah tidak akan memberikan pertolongan-Nya dengan perantara perbuatan syirik. Sementara benda-benda tersebut sama sekali tidak akan bisa memenuhi anggapan para pelakunya.

APAKAH SYIRIK BESAR ATAUKAH KECIL?
Asy-syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah ketika membahas tentang hukum mengenakan jimat-jimat beliau menjelaskan:

Jika pelakunya berkeyakinan bahwa benda itu memiliki kekuatan dengan sendirinya -tanpa bantuan Allah- maka ini adalah kesyirikan besar dalam perkara rububiyyah, lantaran dia telah meyakini bahwa ada pencipta selain Allah.

Adapun jika pelakunya meyakini bahwa benda itu adalah sebab semata, tidak memiliki kekutan dengan sendirinya maka ini adalah syirik kecil, karena dia telah menganggap sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab.

Https://t.me/ponselmuslim
http://t.me/albasimiy
Alpasimiy.com