HAKIKAT DUNIA (Bagian 1)

 

Hijau warna dunia telah membuat manusia ‘takatsuron’, yaitu berlomba-lomba di dalam mengumpulkan segala kemewahannya. Materi melimpah yang telah ada tidaklah mencukupi ambisi duniawi budak-budak harta. Terus saja mereka menggali dan mencari, hingga tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali tanah.

 

Allah -سبحانه وتعالى berfirman di dalam Tanzil-Nya:

 

(أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ)

 

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.” [Surat At-Takathur 1 – 2]

 

Dan juga yang tertuang di dalam hadits Nabi صلى الله عليه وسلم :

 

ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﺎﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﻭَﺍﺩِﻳَﺎﻥِ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻝٍ ﻟَﺎﺑْﺘَﻐَﻰ ﻭَﺍﺩِﻳًﺎ ﺛَﺎﻟِﺜًﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻤْﻠَﺄُ ﺟَﻮْﻑَ ﺍﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﺘُّﺮَﺍﺏُ

 

“Andaikan saja manusia itu mempunyai harta benda sebanyak dua lembah, tentu mereka masih ingin mendapatkan lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perutnya bani Adam kecuali tanah (maut).” [HR. Muslim dari Anas bin Malik]

 

Seabad umur terlalu sempit bagi para penghamba dunia untuk tujuan meraih harta dan kekayaan. Seribu tahun, itulah batas nyawa yang dicita-citakan. Bahkan kalau bisa mereka ingin hidup di dunia selama-lamanya tanpa ajal. Dan itulah ‘AL-WAHN’, cinta dunia dan takut akan kematian.

 

Begitulah fenomena mayoritas manusia dalam bermualah dengan dunia.

————

 

LALU BAGAIMANA ESENSI DAN HAKIKAT DUNIA ITU SEBENARNYA?

 

Allah Ta’ala telah menjelaskan:

 

(زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ)

 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [Surat Ali Imran 14]

 

Allah تعالى juga berfirman:

 

(اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ)

 

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

[Surat Al-Hadid 20]

 

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 

الدُّنيا سِجْن المُؤمِن وجَنَّة الكافِر

“Dunia adalah penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir.” [HR. Muslim, At Tirmidzy, Ibnu Majah, dan Ahmad dari Abu Hurairah]

 

Dunia hanyalah tempat persinggahan dan bukan tempat tinggal yang kekal. Dahulu Adam ‘Alaihissalam diturunkan hanyalah sebagai bentuk satu hukuman[1].

 

Zuhud terhadap dunia adalah dengan meninggalkannya. Orang yang kaya sebenarnya ialah mereka yang miskin di sisi dunia. Akan hina siapa saja yang memuja dunia. Akan tercerai berai siapa pun yang menghimpun kemewahannya. Umpama racun yang ditelan oleh orang yang tidak mengerti dan akhirnya dia pun mati binasa. Dan itulah penggalan nasihat Al Hasan al Bashri Rahimakumullah.

 

Sebagian ulama telah menyebutkan satu perumpamaan:

 

( الناس نِيام فإذا ماتوا انتبهوا)

“Manusia seolah-olah sedang tertidur. Setelah mati maka barulah dia terjaga.”

 

Yakni, mereka baru terjaga setelah ajal meregang nyawa dalam keadaan tiada satu pun bekal sebagai harapan yang denganya dia bisa bahagia saat berjumpa dengan Allah.

 

Wallahu Ta’ala a’lam.

———————

Catatan kaki:

[1] Maksudnya: Adam ‘Alaihissalam diturunkan ke dunia karena beliau telah terjatuh kepada larangan Allah untuk tidak mendekati satu pohon di al-jannah.

———————

Mayoritas faedah disarikan dari kitab ‘Minhajul Qashidin’ al imam Ibnu Qudamah al Maqdisi.

———————

Ahad, 10 JumadilTsani  H

20 Maret 2016

 

Penulis:

Admin Appsalafy

http://appsalafy.salafymedia.com

———————-

 

Publikasi pertama:

– Salikat Manhaj Salaf

– AppSalafiyah