= Nilai Dunia di Mata Hamba Allah Yang Bertakwa =

 

Disebut ‘dunia’ memang karena dialah yang ‘daniyyah’ [1]. Disifati dengan ‘madzmumah’ karena dialah pula yang menyebabkan banyak manusia lupa akan Rabbnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 

ﺃَﻟَﺎ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﻠْﻌُﻮﻧَﺔٌ وﻣَﻠْﻌُﻮﻥٌ ﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺫِﻛْﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻭَﺍﻟَﺎﻩُ ﻭَﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺃَﻭْ ﻣُﺘَﻌَﻠِّﻢٌ ‏

“Ketahuilah sesungguhnya dunia itu telah terlaknat. Dan telah terlaknat pula apa-apa yang ada di dalamnya. Kecuali dzikir kepada Allah serta seluruh amal ketaatan lainnya, begitu pula orang yang berilmu, dan penuntutnya.”

 

(HR. At Tirmidzy dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Syaikh al Albani: Hadits hasan no. 1609)

 

Berkata syaikh Ibu Baz Rahimahullah[2]:

“Laknat bermakna tercela, yaitu kehinaan dunia. Karena kebanyakan penduduk dunia telah tersibukkan dengannya dari akhirat, menghalangi mereka dari urusan akhiratnya dengan segala kemewahan dan ambisinya.”

 

Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang paham akan esensi dunia selalu menghindar dari segala kemegahan yang melalaikan. Terukir di dalam bingkai sejarah bagaimana para hamba yang mulia bermualah dengan dunia.

 

Telah terhimpun perbendaharaan dunia di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, kedudukan maupun materi. Namun lihatlah, alas daun kurma tak juga alpa sebagai penghias profil kholilullah, Nabi yang suci.

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Anas Radhiyallahu ‘Anhum, bahwa Umar bin Khattab berkata:

 

“Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di rumah beliau. Ketika itu beliau sedang berbaring di atas sehelai tikar (dari daun kurma) yang membekas pada lambung beliau. Lalu aku menatap ke ruangan itu dan kudapati sekantong gandum sekitar satu sha’, dedaunan ‘qarzh’ di tepian dinding dan ada pula sehelai kulit yang sudah disamak.

 

Seketika itu mengucurlah air mataku. Lalu beliau menoleh kepada Umar seraya berkata, “Apa yang membuatmu menangis wahai Ibnul Khattab?! Aku menjawab, “Wahai Rasulullah. Bagaimana aku tidak menangis sementara tikar ini telah membekas di lambung engkau. Padahal kisra dan kaisar bernikmat-nikmat dengan buah-buahan, sungai, ranjang-ranjang dari emas serta permadani dari sutera. Dan engkau adalah Nabiullah serta pilihan-Nya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Wahai Ibnul Khattab, tidakkah engkau ridha kalau semua kemegahan itu untuk kita di akhirat dan untuk mereka di dunia?” Aku menjawab, “Tentu aku ridha wahai Rasulullah.”

 

(Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad, Al Hakim dalam Al-Mustadrak – sahih atas syarat Muslim. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam Sahihnya, Ibnu Majah, dan lain-lain)

 

Begitu pula Umar bin Khattab. Seorang khalifah yang sangat disegani karena wibawa dan ketegasannya, telah mampu meruntuhkan benteng-benteng berbalut batu milik bangsa Persi dan Romawi di masanya. Limpahan harta ghanimah hampir tak terhitung banyaknya.

 

Namun semua itu sama sekali tidak mengubah perihal hidup hamba yang mulia ini. Siapa pun yang membaca kitab-kitab para ulama tentang tarikh sang khalifah kedua niscaya dia akan mendapati Umar bin Khattab sebagai penguasa yang zuhud dan waro’ dengan materi duniawi.

 

Al-Imam Asy-Sya’bi menyebutkan sebuah kisah tentang harta Kisra yang berhasil dikuasai oleh kaum muslimin pada zaman Khalifah Umar. Berikut penggalan kisah tersebut:

 

ﻓﻠﻤﺎ ﻧﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﻳﺎﻗﻮﺗﻪ ﻭﺯﺑﺮ ﺟﺪﻩ ﻭﺟﻮﻫﺮﻩ ﺑﻜﻰ . ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﻮﻑ : ﻣﺎ ﻳﺒﻜﻴﻚ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ، ﻓﻮﺍﻟﻠﻪ ﺍﻥ ﻫﺬﺍ ﻟﻤﻮﻃﻦ ﺷﻜﺮ . ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ : ‏« ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺫﻟﻚ ﻳﺒﻜﻴﻨﻲ ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺃﻋﻄﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﺬﺍ ﻗﻮﻣﺎً ﺍﻻ ﺗﺤﺎﺳﺪﻭﺍ ﻭﺗﺒﺎﻏﻀﻮﺍ . ﻭﻻ ﺗﺤﺎﺳﺪﻭﺍ ﺍﻻ ﺍﻟﻘﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺄﺳﻬﻢ ﺑﻴﻨﻬﻢ ‏»

 

“Maka tatkala Umar melihat intan, permata dan berliannya beliau pun menangis. Abdurahman bin Auf lalu bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Amirul Mu’minin? Demi Allah, ini adalah momen untuk bersyukur. Kemudian Umar berkata, “Demi Allah bukan (kemenangan) itu yang membuat aku menangis. Demi Allah, Tidaklah Allah memberikan harta ini kepada suatu kaum, kecuali mereka akan saling hasad dan saling membenci. Dan tidaklah mereka saling membenci melainkan akan ditimpakan kejelekan di antara mereka.”[3]

 

Telah diriwayatkan pula dari Anas bin Malik bahwasanya beliau berkata:

 

ﺭﺃﻳﺖ ﺑﻴﻦ ﻛﺘﻔﻲ ﻋﻤﺮ ﺃﺭﺑﻊ ﺭﻗﺎﻉ ﻓﻲ ﻗﻤﻴﺼﻪ

 

“Aku melihat pada bagian pundak di gamis Umar terdapat empat tambalan.”

(Dikeluarkan oleh Abdullah Ibnu Abi Syaibah dalam kitab ‘Ahaditsul Ahkam’)

 

Dan teramat banyak kisah-kisah kesederhanaan salafush shalih di dalam kutub para ulama. Semuanya menunjukkan ‘baro’ah’ (lepas diri) mereka dari keserakahan ahli dunia yang mengejar harta semata-mata untuk ‘takatsuran’ belaka.

 

Al Imam Asy-Syafi’i telah menggubah sebuah sair yang penuh makna[4]:

 

ﺇﻥَّ ﻟﻠَّﻪِ ﻋِﺒَﺎﺩﺍً ﻓُﻄَﻨَﺎ – ﺗَﺮَﻛُﻮﺍ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺧَﺎﻓُﻮﺍ ﺍﻟﻔِﺘَﻨَﺎ

ﻧﻈﺮﻭﺍ ﻓﻴﻬﺎ ﻓﻠﻤﺎ ﻋﻠﻤﻮﺍ – ﺃﻧﻬﺎ ﻟﻴﺴﺖ ﻟﺤﻲٍّ ﻭﻃﻨﺎ

ﺟﻌَﻠُﻮﻫَﺎ ﻟُﺠَّﺔ ً ﻭَﺍﺗَّﺨَﺬﻭﺍ – ﺻﺎﻟﺢَ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝِ ﻓﻴﻬﺎ ﺳﻔﻨﺎ

 

Allah memiliki hamba-hamba yang cendikia….

Meninggalkan gemerlap dunia dan takut akan fitnah….

Dilihatnya dunia lalu yakinlah mereka….

Bahwa dunia bukanlah rumah yang sebenarnya….

Mereka anggap dunia bagai samudera ( )…..

Amal salih sebagai bahteranya….

 

Firman Allah Ta’ala:

 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

 

“Dan tidak lain kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)

 

Maka cukuplah ayat yang mulia ini sebagai dalil akan kehinaan dunia dan para penghambanya. Ahli dunia memandang dunia bagaikan segalanya. Adapun hamba-hamba yang bertakwa, mereka lebih memilih kecintaan kepada Allah.

 

والله تعالى أعلم بالصواب. وبارك الله فيكم

 

———————

Catatan kaki:

[1] Ucapan Sufyan ats-Tsauriy. ‘Daniyyah’ maknanya adalah ‘rendah’

[2] Di situs resmi binbaz.org.sa/noor/2526

[3] Lihat Al-bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir

[4] Muqaddimah Riadush Sholihin

———————

 

Ahad, 17 JumadilTsani  H

28 Maret 2016

 

Penulis: Admin Appsalafy

http://appsalafy.salafymedia.com

————

Bagikan Komentarmu