HARIMAU BUKAN ‘PUYANG’

Alpasimiy.com

Harimau sumatera atau yang dikenal dengan sebutan ‘puyang’ (orang tua), ‘nek ngau’ atau sêtuê adalah salah satu dari satwa liar yang terancam punah. Dalam bahasa Latin dinamakan dengan ‘Panthera tigris sumatrae’. Ia merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup sampai sekarang. Hewan ini termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah dalam daftar merah yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasinya di alam liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup ditaman-taman nasional di Sumatera. Harga kulitnya yang tinggi telah memicu terjadinya pemburuan gelap. Bahkan dijual secara utuh untuk aksesoris taksidermi.

Berbeda dengan anggapan sebagian masyarakat. ‘Nenek’ adalah sebutan santun bagi harimau oleh penduduk sumatera. Telah menjadi keyakinan turun temurun bahwa harimau adalah makhluk jejadian yang wajib diagungkan dan dihormati. Pada saat seseorang sedang berada di tengah hutan maka tidak boleh bicara sembarangan, tidak boleh sombong, tidak boleh bicara kotor, dan seterusnya. Mengapa? “Nanti nenek tersinggung!” Seakan-akan ‘nek ngau’ ini adalah sosok orang tua suci dan sakral.

Ketika terjadi insiden harimau menyerang manusia akan muncul berbagai statemen dari sebagian masyarakat, bahwa puyang minta tumbal. Maka sebagiannya melakukan acara-acara tolak balak dengan menyembelih kurban untuk dipersembahkan kepada makhluk yang juga dikenal dengan ‘mak sumai’ tersebut.

Sekali lagi, bahwa harimau sumatera tergolong spesis yang terancam punah karena pemburuan gelap dan juga karena habitanya yang semakin sempit. Bukan makhluk jejadian seperti yang digambarkan masyarakat. Kalaulah benar anggapan ini, maka mustahil harimau bisa dikurung di penangkaran.

Takut kepada binatang buas yang bisa menyerang dan mencederai kita ada takut yang wajar. Akan tetapi jika ketakutan tersebut telah merembet kepada ‘ta’zhim’, pengagungan sebagaimana takutnya mereka kepada syaithan maka hukumnya haram. Allah berfirman:

(إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّیۡطَـٰنُ یُخَوِّفُ أَوۡلِیَاۤءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ)

“Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.” [Surat Ali ‘Imran 175]

Di dalam ayat tersebut Allah melarang untuk merasa takut ‘ta’zhim’ kepada syaithan. Sementara Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

“Sesungguhnya syaithan itu merasuki tubuh manusia melalui aliran darah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya bisa saja syaithan menyakiti anak manusia dengan leluasa di mana dan kapan saja. Namun itupun Allah Ta’la tetap melarang kita untuk takut kepada mereka dengan berlebihan sehingga berujung kepada pengagungan.

Apakah lagi takut ta’zhim kepada harimau yang notabeneh hanyalah satwa fauna. Ia bukanlah makhluk jelmaan jin. Bukan pula makhluk jadi-jadian yang diyakini sebagian orang.

Maka kita melihat harimau dari sudut pandang bahwa ia hanyalah binatang biasa dari sekian deretan fauna yang dilindungi, tidak lebih dari itu. Meyakini harimau sebagai sosok sakral yang dituakan bisa merambat kepada pengagungan yang dilarang oleh agama.

Semoga Allah selalu menjaga kita dari akidah dan keyakinan yang bertentangan dengan Islam.

Lahat, 19 Desember 2019

AD al-Basimiy