📝Haruskah Taat Berdiam Di rumah ? Bagaimana Ekonomi Saya ?
▪▪▪▪bagian 2

UPAYA MEMINIMALISIR DAMPAK EKONOMI

Benar, dengan kita di rumah ekonomi sebagian besar kita akan terganggu. Pedagang kaki lima, pedagang asongan, buruh harian, dengan tinggal dirumahnya akan sangat terpengaruh neraca ekonominya.

Namun yakinlah bahwa, siapa yang meninggalkan sesuatu karena Alloh, Alloh akan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik. Termasuk saudara penanya, semoga Alloh mengganti kan untuk anda sesuatu yang lebih baik.

Sejenak kita ingat bagaimana dahulu para shahabat Muhajirin, meninggalkan Mekah, untuk hijrah ke Madinah. Membela Alloh dan Rasul-Nya. Semua ditinggalkan, rumah, pekerjaan, harta kekayaan, kerabat, belum lagi kesedihan emosional meninggalkan kampung halaman, ditinggalkan menuju Madinah dalam keadaan belum tahu di mana tinggal, pekerjaan apa yang akan dilakukan. Yang jelas mereka meninggalkan itu karena Alloh. Alloh pun memuliakan para shahabat…

BERUPAYA PRODUKTIF DI RUMAH

Terkait dampak ekonomi yang sama sama kita rasakan, dengan memohon pertolongan kepada Alloh, cobalah untuk kita produktif di rumah, berusaha untuk mandiri tidak mengulurkan tangan pada orang lain. Kita coba berusaha, apa yang mampu kita kerjakan, kita kerjakan. Tanah pekarangan yang tersisa bisa ditanami bayam, singkong, atau sayuran yang cepat dipanen. Polibag polibag atau ember ember bekas yang tidak terpakai bisa di tanami sayuran.

Bagi yang memiliki kemampuan membuat makanan ringan di rumah, bisa diproduksi dan dijual di zona yang masih aman seperti para tetangga, kerabat dekat dengan terus menerapkan protokol kesehatan.

TA’AWUN ‘ALAL BIRRI WAT TAQWA

Saling mbantu diatas kebaikan d dan ketakwaan salah satu solusi menghadapi problem ekonomi. Inilah satu prinsip islam yang tidak boleh kita lupakan. Asatidzah perlu kiranya mengingatkan dan menggerakkan ikhwah/kaum muslimin untuk mewujudkan prinsip ini di masa masa sulit.

Ketika para shahabat hijrah ke Madinah, para shahabat Anshor tidak tinggal diam, suasana saling membantu di atas kebaikan dan taqwa sangat tampak dan demikian indah, sehingga kendala kendala ekonomi pun teratasi dengan izin Alloh. Disamping pahala dan keridhoan Alloh terlimpah kepada Muhajirin dan Anshor.

Dahulu di Madinah ada para shahabat yang tinggal di salah satu bagian yang menempel Masjid Nabawi, mereka dikenal dengan ahlussuffah, mereka tidak memiliki tempat berteduh, tidak memiliki keluarga, belum memiliki pekerjaan. Dengan ta’awun hajat-hajat shahabat yang kekurangan terselesaikan dan menjadi sangat ringan.

Diantara sabda Rasulullah shollallohu’alaihi wasallam dalam bab ini adalah hadits Jabir bin Abdillah, beliau berkata:

سمعت رسول الله ﷺ يقول: طعام الواحد يكفي الاثنين، وطعام الاثنين يكفي الأربعة، وطعام الأربعة يكفي الثمانية[1]رواه مسلم.

Dari Shahabat Jabir: Aku mendengar Rasulullah bersabda: Makanan satu orang cukup untuk dua, makanan dua orang cukup untuk empat, makanan empat orang cukup untuk delapan (HR. Muslim).

Di masa-masa seperti ini masing masing kita juga berusaha mendidik keluarga untuk sabar, qana’ah, kemudian sederhana dalam nafaqah sebagaimana Alloh firmankan dalam Surat Al A’raf:

وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

“…makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al A’raf : 31)

Di saat-saat seperti ini peran seorang kepala rumah tangga untuk mendidik keluarganya, putra putri dan istrinya juga sangat terasa.

Mari kita taati penguasa kita, Mari kita peduli dengan keselamatan kita, keselamatan keluarga kita, keselamatan orang lain, Semoga Alloh mudahkan kita semua untuk bersabar menghadapi ujian-Nya, dan semoga Alloh berikan kepada kita semuanya keberkahan. Amin.
————💎————
🔑 Arsip Fawaid Ilmiyah:
https://telegram.me/fawaidsolo
🌏 Kunjungi:
www.fawaidsolo.com

☆☆☆☆☆☆☆☆
Sumber bacaan:

Home


____