🌍 https://t.me/Majalah_Qudwah

*Umat Terdahulu*

🎇 *HIDUP KEMBALINYA SANG PEMBARU BANI ISRAIL* 🌠

✍🏻 *Al-Ustadz Abu Hisyam Sufyan حفظه الله تعالى*

🅰neh tapi nyata❗ *Orang ini dimatikan Allah سبحانه وتعالى selama 100 tahun lamanya.* Kemudian, dengan hikmah-Nya, *Allah سبحانه وتعالى pun kembali menghidupkannya.* Benar, *ia hidup kembali setelah kematiannya.* Lebih dari itu, ketika ia kembali menemui kaumnya, ia pun melakukan suatu hal yang sangat besar dan sangat berharga untuk mereka. Bagaimana tidak❓ ❗Taurat, kitab suci mereka, yang di masa-masa penyerangan sang durjana *Bukhtanashar* telah dilenyapkan, dikembalikan dan diperbarui lagi olehnya.

Ya, *dialah Uzair. Si pembaru bagi Bani Israil.*

Kalau kita cermati, sebenarnya *nama Uzair telah tersebut di dalam Al Qur’an.* Cobalah tengok *surat At Taubah ayat 30.* Allah سبحانه وتعالى mengungkapkan yang artinya, *_“Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Uzair adalah anak Allah._* _Dan *orang-orang Nashara mengatakan bahwa Al Masih adalah anak Allah.* Inilah ucapan yang muncul dari mulut-mulut mereka yang menyerupai ucapan orang-orang kafir sebelumnya. *Semoga Allah membunuh mereka.* Bagaimana mungkin mereka tertipu_ ❓❗”

Di dalam ayat yang mulia ini, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan nama Uzair. Ternyata, *Uzair adalah seorang yang benar-benar diagungkan oleh kalangan Yahudi. Mereka menjulukinya sebagai anak Allah.* _Subhanallah._ Suatu bentuk _ghuluw_ yang jelas haram. *Ya, ghuluw atau melampaui batas memang merupakan watak dan tabiat orang-orang Yahudi.*

Lantas, *mengapa Uzair sampai dijuluki sebagai anak Allah*❓❗ Kisah kita inilah yang akan menjelaskannya.

*Kisah ini pun sebenarnya sudah Allah سبحانه وتعالى isyaratkan di dalam Al Qur’an. Hanya saja tanpa menyebut namanya.* Ketika Allah sedang menegaskan keMahaKuasaan-Nya dalam menghidupkan dan membangkitkan manusia setelah kematiannya, *maka Allah pun memberikan beberapa kisah nyata. Kisah tentang Allah membangkitkan orang yang telah mati. Ia سبحانه وتعالى menghidupkan kembali orang yang telah mati ketika masih di dunia.* Di antara kisah yang Allah سبحانه وتعالى sebutkan, ialah seperti dalam Al Baqarah.

_“Atau seperti kisah seseorang yang melewati sebuah qaryah (negeri) yang telah hancur berantakan. Dimana, ia mengatakan, *apakah mungkin Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah kematiannya*❓ *Maka Allah pun mematikannya selama 100 tahun,* kemudian kembali membangkitkannya. ‘Berapa lama kamu tinggal di sini❓’ ‘Aku tinggal di sini sehari atau bahkan setengah hari saja.’_

*_‘Bahkan kamu telah tinggal selama 100 tahun lamanya._* _Coba perhatikan makananmu yang tidak berubah. Dan lihatlah keledaimu. Kami akan menjadikanmu sebagai tanda kekuasaan Allah untuk manusia. Lihatlah, dan Kami liputi kembali ia dengan daging.’ Ketika hal itu demikian jelas baginya, ia pun mengungkapkan, *‘Aku yakin Allah Maha Mampu melakukan segala hal yang ia inginkan’.”*_
*(Q.S. Al Baqarah: 259)*

Dalam ayat di atas, *Allah tidak menyebutkan namanya adalah Uzair.* Hanya saja, *banyak ahli tafsir yang menerangkan bahwa ia adalah Uzair. Ini adalah pendapat Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Al Hasan, Qatadah, As Suddi, Sulaiman bin Buraidah,* dan lainnya. Dan *ini adalah pendapat yang paling masyhur di kalangan ahli tafsir.*

Adapun qaryah yang secara harfiyah bermakna desa, menurut pendapat yang masyhur dari kalangan ahli tafsir *ialah Baitul Maqdis yang runtuh setelah penyerangan Bukhtanashar dan bala tentaranya.* (lihat *Tafsir Ibnu Katsir* dalam menafsirkan ayat di atas).

Dalam kitab *Qashashul Anbiya, [2/340-341]* Ibnu Katsir رحمه الله dengan panjang lebar mengisahkan kepada kita kejadian yang menakjubkan ini. Kisahnya adalah sebagai berikut:

*Uzair adalah seorang hamba yang shalih.* Suatu hari, dengan mengendarai keledainya, ia keluar menuju salah satu ladang. Sebuah kegiatan yang biasa ia lakukan. Ketika hendak pulang, ia mendatangi suatu reruntuhan bangunan. Karena hari telah beranjak siang dan panas sangat menyengat, *maka ia pun segera berteduh di balik reruntuhan bangunan tersebut.*

Segera ia turun dari keledainya. Ketika itu, *ia telah membawa dua kantong makanan. Satu kantong berisi buah tin dan yang lain berisi anggur.* Ia keluarkan mangkok makanannya. Lantas ia peras anggur tersebut. Ia ambil roti yang kering yang ia bawa dan ia letakkan di dalam perasan anggur agar meresap di dalamnya. Dan segera ia memakannya. Kemudian, ia berbaring telentang dengan menyandarkan kakinya di tembok bangunan tersebut. Ia dapati bangunan ini masih kokoh, walaupun sudah tidak berpenghuni.

Di tempat itu pula ia melihat tulang belulang yang berserakan. Lantas, ia berkata, *“Mungkinkah Allah menghidupkan tulang-tulang ini setelah kematiannya.” Ia tidak ragu bahwa Allah Maha Mampu dan Kuasa untuk melakukannya.* Akan tetapi, ucapan ini muncul karena rasa takjub yang ia dapati kala melihat apa yang ia lihat.

*Maka Allah pun mengutus Malaikat Maut untuk mencabut nyawanya. Ia pun mati. Benar-benar mati dan tidak mengetahui apapun yang terjadi di sekelilingnya.* Waktu terus berlalu, berbagai kejadian pun terjadi di tengah-tengah Bani Israil. *Hingga ketika genap usia kematiannya 100 tahun, Allah kembali mengirimkan Malaikat-Nya. Allah perintahkan malaikat tersebut untuk kembali menghidupkannya.*

*“Wahai Uzair berapa lamakah kau tinggal di sisi❓” tanya Malaikat.*

*“Sepertinya, aku hanya tinggal sehari atau setengah hari saja,”* jawabnya. Benar, ia menyangka demikian *karena memang Allah mematikannya di siang hari dan kembali menghidupkannya di sore hari. Dan matahari pun belum tenggelam.* “Tidak, aku benar-benar tinggal di sini hanya setengah hari, tidak seharian penuh,’ tegasnya kemudian.

*“Bukan, bahkan engkau telah tinggal di sini selama 100 tahun lamanya.” Terang Malaikat. “Coba kamu lihat makanan dan minuman bekalmu, ia tidak berubah sama sekali bukan* ❓❗” Kali ini Uzair mengernyitkan dahi. *“Ah, mana mungkin aku tinggal di sini dalam waktu yang sangat lama. Sementara makanan bekalku masih saja utuh.”* Ia bergumam.

*“Kau tak percaya atas apa yang kukatakan❓❗” Kata Malaikat. “Sekarang, coba kau lihat keledai tungganganmu itu,”* lanjutnya.

Ternyata, *ia dapati keledainya telah hancur lebur. Tulang belulangnya berserakan. Maka Malaikat pun membangkitkannya.*

Dan kini, *dengan mata kepalanya sendiri, Uzair benar-benar menyaksikan kemampuan Allah yang begitu sempurna. Tulang belulang yang berserakan itu pun bersatu. Sedikit demi sedikit menuju awalnya. Hingga kemudian daging-daging pun mulai menyelimutinya. Dan akhirnya ditiupkan ruh padanya dan ia pun hidup kembali.*

Demi menyaksikan apa yang ia lihat, ia pun berikrar, *“Sungguh aku yakin bahwa Allah Maha Mampu melakukan segala halnya.”*

Ia pun kembali menaiki keledainya. Kemana❓Tentu kembali pulang dan ingin segera kembali ke rumahnya. Akan tetapi, *kini yang ia dapati hanyalah kebingungan. Manusia sudah tidak lagi mengenalnya, dan ia pun tidak mengenali mereka. Rumahnya juga telah berubah.* Pada awalnya ia ragu. Ia pun meninggalkan rumahnya. Akan tetapi, ia kemudian kembali. *Ketika itu, ia menemukan seorang wanita tua yang sudah lumpuh dan buta. Ya, dia adalah pelayan perempuannya. Ketika ia meninggalkannya dulu, ia masih berumur 20 tahun. Dan kini, dia telah berumur 120 tahun.*

*“Wahai nenek, apakah ini rumahnya Uzair*❓”

*“Ya benar, ini adalah rumahnya Uzair,”* jawabnya. *Kemudian nenek itu pun menangis. “Aku mendapati manusia dalam masa yang lama sudah tidak menyebut-nyebut namanya. Mereka sungguh telah melupakannya.”* Terangnya.

*“Wahai nenek, akulah Uzair. Allah telah mematikanku selama 100 tahun. Dan kini, Dia telah menghidupkanku kembali.”*

*“Subhanallah, memang kami telah kehilangan Uzair semenjak 100 tahun yang lalu.* Dan kami sama sekali tidak mengetahui hal ihwal keadaannya.”

*“Tapi, aku benar-benar Uzair.”*

*“Sebentar, dahulu Uzair adalah seorang yang mustahab do’anya. Ia mendoakan orang-orang yang sakit dan terkena musibah. Dan Allah menyembuhkannya. Maka sekarang coba kau berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku. Dan agar ia menyembuhkan kelumpuhanku. Kalau kau memang Uzair, kau pasti bisa melakukannya dan aku pasti mengenalmu.”*

🔽⬇⏬ *bersambung, إن شآء الله* …