(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Istri pembesar Makkah adalah sebuah kedudukan yang mulia. Terlebih bila membuka hati untuk Allah l dan Rasul-Nya. Islam akan menghapus segala kesalahan yang pernah dibuatnya.

Istri pembesar Makkah itu adalah Hindun bintu ‘Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abdisy Syams bin ‘Abdi Manaf Ummu Mu’awiyah, istri Abu Sufyan bin Harb, ibu sahabat yang mulia, Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Ibunya bernama Shafiyyah bintu Umayyah bin Haritsah bin Al-Auqash bin Murrah bin Hilal bin Falij bin Dzakwan bin Tsa’labah bin Bahtah bin Salim.
Sebelum kehadiran Abu Sufyan dalam kehidupannya, Hindun pernah menikah dengan Hafsh bin Al-Mughirah bin Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Dari pernikahan itu, lahir seorang anak laki-laki bernama Aban.
Ketika Hindun menjanda, dia meminta kepada ayahnya, ‘Utbah bin Rabi’ah, “Aku seorang wanita yang bisa menentukan urusanku, maka jangan nikahkan aku sebelum engkau beritahukan padaku.” Sang ayah menyetujui permintaannya.
Suatu ketika, ‘Utbah menawarkan pilihan kepada Hindun, “Ada dua orang pria yang meminangmu dan aku tak akan menyebutkan namanya padamu sebelum kugambarkan padamu lebih dulu sifat mereka.” ‘Utbah menceritakan, laki-laki yang pertama adalah orang yang mulia, mudah diatur istrinya karena dia orang yang tak begitu peduli, halus budi pekertinya, dia akan mengikuti si istri bila si istri mengikutinya, istrinya pun bisa menguasai hartanya. Sementara yang lainnya, seorang yang sangat mulia, pandangannya tajam, keturunannya mulia, dia dapat mengatur keluarganya sementara mereka tak bisa mengaturnya, bila keluarganya mematuhinya dia akan memudahkan urusan mereka, namun bila keluarganya menjauhinya dia akan merasa cemburu. Dia orang yang emosional dan sangat menjaga kehormatan keluarganya.
Hindun memilih orang yang kedua. Dia terkesan dengan akhlak laki-laki itu. “Dia Abu Sufyan bin Harb,” kata ‘Utbah.
Hindun bintu ‘Utbah dan Abu Sufyan bersatu dalam rumah tangga, masih di atas agama nenek moyang mereka. Bahkan mereka turut membela agama itu tatkala perang Badr meletus. Begitu pula saat perang Uhud. Hindun bersama wanita-wanita musyrikah Makkah turut menghasung dan menyemangati pasukan musyrikin. Ketika perang telah berhenti, Hindun dan wanita-wanita yang lain datang mencincang jasad kaum muslimin. Hidung dan telinga mereka dipotong, perut mereka dirobek. Hindun sendiri merobek perut Hamzah bin ‘Abdil Muththalib z. Dipotongnya hati Hamzah, dimasukkannya ke mulut dan dikunyah-kunyahnya, lalu dia muntahkan kembali.
Namun Allah l berkehendak memberikan akhir kehidupan yang baik bagi mereka berdua. Bulan Ramadhan tahun 8 Hijriyah adalah tahun kemenangan, ketika Rasulullah n dan kaum muslimin memasuki kota Makkah dalam keadaan aman. Keadaan telah berubah. Kaum muslimin yang dulu terusir dari Makkah -tanah air mereka- dalam keadaan tertindas dan terhina, kini menjadi pasukan yang begitu menakjubkan dan disegani oleh kaum musyrikin Makkah. Tidak ada pilihan lain, kecuali mereka masuk Islam.
Demikian pula keadaan Hindun dan Abu Sufyan z. Mereka pun akhirnya menyongsong kebaikan yang Allah l anugerahkan lewat Nabi-Nya n.
Hindun bintu ‘Utbah x bersama para wanita lain yang masuk Islam mendatangi Rasulullah n ketika beliau berada di Al-Abthah untuk berbaiat di hadapan beliau n. “Wahai Rasulullah,” kata Hindun, “Segala pujian hanyalah milik Allah yang telah memenangkan agama yang telah dipilih-Nya untuk diri-Nya ini. Sungguh kekerabatanmu akan bermanfaat bagiku, wahai Muhammad. Aku adalah seorang wanita yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya. Aku Hindun bintu ‘Utbah.”
“Selamat datang, wahai Hindun,” sahut Rasulullah n.
“Demi Allah, dulu tak ada seorang pun di bumi ini yang paling kuinginkan kehinaannya selain engkau. Namun kini, tak ada seorang pun di bumi ini yang paling kuinginkan kemuliaannya selain engkau,” ujar Hindun. “Bahkan lebih dari itu,” kata Rasulullah n. Kemudian beliau n membacakan ayat-ayat Al Qur`an kepada mereka dan mereka pun berbai’at kepada beliau.
Ketika itu Hindun berkata, “Kami mau berjabat tangan denganmu, wahai Rasulullah!”
“Aku tidak berjabat tangan dengan wanita. Ucapanku pada seratus orang wanita sama dengan ucapanku terhadap seorang wanita,” jawab Rasulullah n .
Di antara isi bai’at itu, Rasulullah n meminta mereka untuk tidak berzina dan tidak mencuri. “Apakah ada wanita merdeka yang berzina dan mencuri, wahai Rasulullah?” sahut Hindun.
Rasulullah n mengatakan lagi, “Dan tidak membunuh anak-anak kalian.”
“Kami telah mengasuh mereka sejak kecil, tapi ketika besar engkau yang membunuh mereka di Badr,” kata Hindun.
Sepulang dari hadapan Rasulullah n, Hindun segera menghancurkan berhala di rumahnya dengan kapak hingga berkeping-keping sambil berujar, “Dulu kami tertipu denganmu!”
Hindun bintu ‘Utbah x pernah mendatangi Rasulullah n dan mengadukan kekikiran suaminya, “Wahai Rasulullah, Abu Sufyan itu seorang yang bakhil. Dia tidak memberikan kecukupan padaku dan anakku kecuali apa yang kuambil dari hartanya dengan diam-diam.”
Rasulullah n pun menasihatkan padanya, “Ambillah apa yang bisa mencukupimu dan anakmu dengan cara yang baik.”
Hindun bintu ‘Utbah x kini menjadi seorang shahabiyah yang mulia. Dia meninggal pada masa khilafah ‘Utsman bin ‘Affan z1.  Hindun bintu ‘Utbah, semoga Allah l meridhainya.
Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.

Sumber bacaan:
Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani (8/155-156)
Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (1/372-373, 4/1922-1923)
Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/235-237)
Mukhtashar Siratir Rasul, karya Al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 194)

Catatan Kaki:

1 Terjadi perselisihan di kalangan ahli sejarah tentang wafatnya Hindun bintu ‘Utbah, pada masa khilafah ‘Umar ibnul Khaththab z ataukah khilafah ‘Utsman bin ‘Affan z .

http://asysyariah.com/

Bagikan Komentarmu