​..
*🚇 HUKUM BERDOA SETELAH SHALAT*

_Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah_
❓Pertanyaan :

*“Apakah berdoa setelah shalat itu bid’ah atau makruh?*

Jawaban:
“Doa setelah shalat fardhu adalah bid’ah. Sebab Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- tidak melakukannya.
Dan setiap orang yang menghambakan diri kepada Allah dengan sesuatu yang :
◾️tidak dilaksanakan oleh Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam-,

◾️tidak diperintahkan,

◾️dan tidak tsabit (tetap) datang dari syariatnya..
❗MAKA itu adalah bid’ah.
Berdasarkan sabda Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam-:
فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
_Setiap perkara yang muhdats(baru dan tidak ada dalilnya) adalah bid’ah._
Adapun Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- telah membimbing kepada waktu berdoa di dalam shalat, beliau bersabda:
وَأَمَّا اَلسُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي اَلدُّعَاءِ , فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
_Adapun sujud maka bersungguh-sunguhlah dalam berdoa, maka itu sudah dekat dikabulkannya  untuk kalian._ H.R. Muslim
Dan Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepada Abdullah ibnu Mas’ud ketika beliau mengajarkan tasyahud kepadanya:
ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
_Lalu ia(yang telah selesai dari tasyahud akhir) memilih permintaan(doa) yang ia inginkan._ H.R. Muslim
Yaitu: Sebelum ia berpaling (mengucap salam) dari shalatnya.
Begitu pula, sebagaimana doa di dalam shalat sebelum salam tersebut adalah hal yang ditunjukkan nash-nash yang syar’i, demikian juga  hal itu merupakan tuntutan dari sudut pandang yang benar. 
Sebab seseorang selama ia di dalam shalatnya maka ia sedang bermunajat  dengan Rabb-nya dan Dia ada di hadapannya. 
Lalu bagaimana bisa diakhirkan doa sampai ia salam, berpaling, dan memutus sambungan antara dia dengan Allah Ta’ala di dalam shalatnya?
Hal ini menyelisihi logika yang lurus.

Dan dengan ini maka kami katakan:
▪Shalat Fardhu disunnahkan setelahnya berdzikir, sedangkan berdoa sebelum salam. Hal ini berasaskan firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ ﴿١٠٣﴾
_Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah (berdzikir) di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring._ Q.S. An-Nisaa’: 103.
▪Adapun doa setelah nafilah (shalat sunnah) maka hal tersebut juga menyelisihi sunnah. Sebab tidak datang riwayat dari Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- bahwa Beliau berdoa setelah shalat nafilah. Maka kita katakan:
“Jika kamu ingin berdoa maka berdoalah kepada Allah Ta’ala sebelum salam dari shalat” dengan alasan yang telah kami sebut  terkait shalat fardhu di atas.

❓Kemudian jika ada seseorang yang berkata:
Bukankah telah _tsabit_ dari Nabi -shalallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda kepada Mu’ad bin Jabal –radhiallahu ‘anhu-:
لَا تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولُ :
اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Janganlah kamu meninggalkan di setiap dubur (akhir) shalat untuk berdoa:

_”Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur, dan baik dalam beribadah kepada-Mu.”_
Dan ini doa(setelah shalat)?

*📚 Kita jawab:*
Ini benar. Ucapan itu adalah doa. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memberi wejangan kepada Mu’adz bin Jabal untuk membacanya.
📌Namun apa yang dimaksud _dubur_(akhir) shalat?
📌Apakah doa tersebut dilakukan setelah salam (selesai shalat) atau di akhir shalat?
Jawaban atas pertanyaan ini diambil dari konsekuensi kandungan nash-nash yang syar’i:
🔺Maka (berdasar keterangan terdahulu) Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- telah menjadikan setelah tasyahhud (sebelum berdoa) tempat untuk berdoa.
🔺Dan di dalam Al-Quranul Karim, Allah Ta’ala telah menjadikan setelah salam untuk berdzikir. Allah berfirman:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ ﴿١٠٣﴾
_Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah (berdzikir) di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring._ Q.S. An-Nisaa’: 103.
🔺Dan Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Ibnu Mas’ud –radhiallahu ‘anhu-:
ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ
_Lalu ia(yang telah selesai dari tasyahud akhir) memilih permintaan(doa) yang ia inginkan._
☝🏻Dalam keterangan ini menjelaskan bahwa  doa –yang Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan Mu’adz bin Jabal –radhiallahu ‘anu- untuk berdoa dengannya—tidak lain setelah tasyahhud dan sebelum salam yang dibangun di atas pendalilan dari Al-Qur’an dan Sunnah yang disebut barusan.
Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- ditanya tentang perkara ini maka beliau berkata:
📌“Sesungguhnya _dubur_  (akhir) dari segala sesuatu adalah bagian dari sesuatu tersebut. Seperti dubur hewan.”
Berdasar penjelasan ini maka dubur(akhir) dari shalat adalah bagian darinya. Namun ia ada di akhirnya. Sehingga doa dengan ucapan:
اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Itu dilakukan sebelum salam bukan setelahnya.

*❓Selanjutnya jika ada yang berkata:*
Bukankah telah _tsabit_ dari Nabi –shalallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau jika berpaling dari shalatnya ber-_istighfar_ tiga kali dan berucap:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ
Dan ini adalah doa(setelah selesai shalat)?
*📚 Maka jawabannya:*

Bahwa doa ini khusus terkait shalat (bukan doa yang umum). 
☝🏻Sebab istighfar -memohon ampunan- setelah salamnya beliau dari shalat karena terkadang kurang sempurna dalam shalatnya bahkan ada kekurangan di dalamnya. Baik dengan sebab gerakan, hati yang lalai, atau yang semisalnya.
✍🏻Sehingga doa tersebut untuk memohon ampunan yang melekat dengan shalat sebagai penyempurna(dari kekurangan dalam pelaksanaannya).  Bukan doa yang mutlak dan bebas(seperti yang dilakukan sebagian orang setelah selesai shalat).
*📖 Fataawa Nuurun ‘alad Darb: 1/ 586 – 588*
📑 Penerjemah: Al-Ustadz Abu Yahya al-Maidany hafidzahullah
••••

📶 https://t.me/ForumBerbagiFaidah [FBF] 

🌍 www.alfawaaid.net