๐Ÿ“š ISLAM MENJAGA KEMULIAAN KAUM WANITA

Dalam sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, disebutkan kisah pelaksanaan haji Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika itu beliau memalingkan wajah al-Fadhl bin Abbas radhiallahu anhuma yang sedang memperhatikan seorang gadis dari suku Khatsโ€™am yang bertanya kepada beliau shallallahu alaihi wa sallam.

๐Ÿ’กBeliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุดูŽุงุจู‹ู‘ุง ูˆูŽุดูŽุงุจูŽู‘ุฉู‹ ููŽู„ูŽู…ู’ ุขู…ูŽู†ู’ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ูŽุง

โ€œAku melihat seorang pemuda dan seorang gadis, maka aku tidak merasa aman dari setan atas keduanya.โ€ (HR. at-Tirmidzi no. 885)

โ—๏ธHanya melihat dan memperhatikan, tidak lebih dari itu; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saja sudah mengkhawatirkannya. Itu pun terjadi di masa sahabat, kaum yang paling beriman.

โ‰๏ธ Lantas, apakah kita dapat menerima alasan sebagian orang, โ€œPacaran kan untuk menjajaki calon pasangan. Mereka dapat menjaga diri.โ€ Alasan yang dibisikkan oleh setan, Allahul mustaโ€™an.

๐Ÿ’กDalam hadits lain, dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงูŽ ูŠูŽุฎู’ู„ููˆูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุจูุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูุณูŽุงููุฑูŽู†ู‘ูŽ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉูŒ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ูˆูŽู…ูŽุนูŽู‡ูŽุง ู…ูŽุญู’ุฑูŽู…ูŒ

โ€œJanganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita, dan janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya.โ€

Seorang sahabat bertanya, โ€œWahai Rasulullah, aku telah tercatat dalam sebuah pasukan perang, padahal istriku akan berangkat haji.โ€

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, โ€œBerangkatlah haji bersama istrimu!โ€ (HR. al-Bukhari no. 2844 dan Muslim no. 1341)

๐Ÿ’กDemikian juga sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits Uqbah bin Amir radhiallahu anhu,

ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุฏู‘ูุฎููˆู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู

โ€œBerhati-hatilah kalian. Jangan menemui (berduaan dengan) kaum wanita!โ€

ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑู: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุฃูŽููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ูˆูŽุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ูˆู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู

Seorang sahabat dari Anshar bertanya, โ€œWahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang al-hamwu?โ€

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, โ€œAl-Hamwu adalah kematian.โ€ (HR. al-Bukhari no. 4934 dan Muslim no. 2172)

๐Ÿ“ An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, al-hamwu adalah kerabat laki-laki suami, seperti kakak, adik, paman, sepupu, dan keponakan.

Astaghfirullah, bagaimana dengan keadaan kita dan kaum muslimin?

๐Ÿ–ฅ Simak selengkapnya:

๐ŸŒ https://asysyariah.com/katakan-tidak-untuk-pacaran/

๐Ÿ“ฒ https://t.me/asysyariah