🌍 https://t.me/KajianAhadBadaShubuh

*Uswah*

⚖️🔮 *lTSAR,*
*MENGUTAMAKAN ORANG LAIN*

*Itsar adalah salah satu sifat yang sangat dihasung dalam agama Islam. Yaitu mengutamakan orang Iain daripada diri sendiri dalam perkara dunia yang kita juga membutuhkannya.* Tidak dipungkiri, *saat ini jarang kita dapati seseorang yang berhias dengan sifat mulia ini.* Maka untuk menggugah hati kita agar senantiasa mengamalkannya, kami suguhkan kisah-kisah teladan dalam hal ini.

⭕ *TELADAN SANG USWAH HASANAH*
🅿ernah ada seseorang mendatangi Rasulullah ﷺ. *Orang itu mengatakan bahwa dia kelaparan.* Maka beliau datang menemui salah seorang istri beliau. Beliau ﷺ menanyakan apakah ada makanan untuk orang tersebut. *Namun ternyata beliau tidak menemukan selain air.* Lalu beliau datang kepada istri yang lain. *Ternyata sama, beliau hanya mendapatkan air. Demikian keadaanya pada seluruh istri beliau.*

Kemudian beliau bertanya kepada para shahabat, *apakah ada yang mau menjamu tamu beliau itu.* Maka seorang dari kalangan Anshar menyanggupi. Lantas dia pulang ke rumah dan mengabarkan hal itu kepada istrinya. *Dia menyuruh istrinya agar tidak menyia-nyiakan tamu Rasulullah.* Tak jauh berbeda dengan keadaan Rasulullah, *istrinya mengatakan bahwa mereka hanya punya makanan untuk anak-anak.*

*Demi memuliakan tamunya, shahabat Anshar itupun menyuruh istrinya agar menidurkan anak-anak.* Lalu menghidangkan makanan mereka untuk tamu tersebut. Lampu rumah pun dia perintahkan agar dimatikan. *Supaya sang tamu tidak mengetahui bahwa makanan yang ada hanya untuknya.* Tak hanya itu, *dia juga menyuruh istrinya agar mereka berdua pura-pura ikut makan bersama tamu, agar tamu tersebut merasa nyaman.*

Subhanallah❗Paginya, saat shahabat Anshar itu datang menemui Rasulullah, beliau mengatakan *bahwa Allah merasa takjub dengan perbuatannya bersama istrinya dalam menjamu tamu tadi malam.*

⭕ *AL-WAQIDI DAN SEKANTONG DIRHAM*
Al-Qadhi Iyadh رحمه الله dalam kitab beliau *Tartibul Madarik* menyebutkan; Al-Waqidi رحمه الله mengisahkan, ”Aku memiliki dua orang sahabat, salah satunya adalah dari Bani Hasyim. Suatu saat aku ditimpa kesempitan. Lalu istriku berkata, *”Sungguh, kita bisa bersabar atas kesulitan ini.* Namun, anak-anak kita, hatiku terluka melihat keadaan mereka. Apakah kita bisa melakukan sesuatu bagi mereka❓”

Aku pun menulis surat kepada sahabatku dari Bani Hasyim. *Aku minta tolong kepadanya tentang keadaanku.* Kemudian ia mengirimkan sebuah kantong yang masih tersegel. Dia sebutkan *bahwa di dalamnya ada 1000 dirham.* Belum sampai aku membukanya, *ternyata aku menerima surat dari temanku yang Iain. Dia juga mengalami kesulitan sama sepertiku. Aku pun serahkan kantong itu dalam keadaan sama seperti saat aku menerimanya.*

Kemudian aku pergi ke masjid untuk bermalam di sana, karena malu terhadap istriku. Saat aku kembali, *ternyata istriku menganggap baik apa yang aku lakukan.*

Beberapa waktu kemudian, datanglah temanku dari Bani Hasyim membawa kantong tadi, dan masih dalam keadaan yang sama. *Dia memintaku untuk jujur menceritakan apa yang terjadi.* Aku pun menyampaikan kepadanya. Lalu dia berkata, “Engkau mengadu kepadaku, *sementara aku tidak punya apa-apa selain kantong yang aku berikan kepadamu.* Lalu aku menulis surat kepada teman kita untuk meminta pertolongan. Lalu dia mengirimkan kantong ini dan masih ada segelku.” *Lalu kami membagi uang itu menjadi tiga bagian,* setelah menyerahkan 100 dirham untuk istriku.

Sampailah berita ini kepada Al-Makmun. Dia lalu memanggilku. Setelah aku menyampaikan peristiwa kami kepadanya, *dia memberiku 7000 dinar. Masing-masing dari kami bertiga 2000 dinar dan untuk istriku 1000 dinar.*

🌏📕 *Sumber* ||
Majalah Qudwah Edisi 07