أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ * أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ * أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain?, Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.”
[Surat Al-A’raf 97 – 99]

Ma’asyiral muslimin,
Telah berlalu kejadian demi kejadian, bencana yang menggores sejarah kelam bagi segenap penduduk bumi. Sebagai teguran dari Allah kepada seluruh umat manusia, baik bagi yang langsung menyaksikan kejadian di kala bencana terjadi, maupun sebagai pelajaran bagi siapa saja yang hidup setelahnya.

Bentangan abad hampir tak pernah kosong dari malapetaka yang luar biasa. Sejak manusia sudah mampu mengarsipkan dokumentasi jejak sejarah.

Bencana terbesar pertama yang masih bisa didokumentasi di tanah air ini adalah tragedi meletusnya gunung Tambora yang terjadi pada bulan April tahun 1815 yakni sebuah gunung merapi berketinggian 4300 m yang berada di pulau Sumbawa.

Semuanya atas kehendak Allah. Gunung ini meletus dengan kekuatan yang luar biasa. Sepertiga dari gunung ini hancur-runtuh kemudian hanya menyisakan tiga perempatnya saja. Dentuman suara yang menakutkan terdengar hingga ke pulau sumatera yang berjarak lebih-kurang 2000 km. Sementara tebal kabut asap menjadikan bumi tidak mengalami musim panas dalam kurun waktu setahun lamanya. Tim investigasi mencatat tidak kurang dari 71.000 korban meninggal dunia di kalangan umat. Wallahu a’lam.

Disusul dengan meletusnya gunung krakatau yang terletak di selat sunda yang menggegerkan dunia. Semuanya atas kehendak Allah. Para ahli memprediksi letusan itu diperkirakan 30.000 kali lipat lebih besar dibanding ledakan bom atom hirosima dan nagasaki. Getaran terasa sampai ke benua eropa. Dentuman menakutkan itu terdengar oleh hampir 1/8 penduduk bumi. Lebih-kurang 36.000 orang mati akibat awan panas dan tsunami. Dua setengah hari bumi gelap tanpa cahaya matahari. -Allahu a’lam hanya Allah yang mengetahui kejadian dan hitungan yang sebenarnya.

Berikutnya pada tahun 2004 Allah menimpakan musibah kepada penduduk bumi aceh. Bencana itu terjadi pada waktu dhuha. Di saat manusia mulai beraktifitas, di antara mereka sedang berolahraga, ada yang sedang di pasar. Tiba-tiba terjadilah gempa berkekuatan besar meruntuhkan gedung-gedung dan bangunan lainnya. Seketika itu juga kota aceh mengalami kerusakan parah.

Tidak hanya itu. Ternyata gempa yang telah meluluh-lantakkan kota tersebut bukanlah bencana terakhir. Itu baru pembukaan. Tsunami datang dengan ketinggian 10 meter atau lebih. Gulungan ombak ‘beringas’ tanpa pandang bulu menerjang apa saja yang ada di depannya. Gemuruh suara, jeritan tangis manusia terdengar di dalam reruntuhan bangunan dan genangan air asin. 115.000 lebih korban meninggal dunia.
——-

Ma’asyiral muslimin,
Itu baru gambaran global dari sumber referensi yang kita terima. Adapun menurut keterangan para saksi mata yang Allah takdirkan selamat, maka bencana seperti ini telah menyisakan trauma dan bayang-bayang yang menakutkan hingga akhir hayat mereka.

Mereka harus menerima ujian yang Allah timpakan kepada mereka. Dengan kehilangan keluarga, tempat tinggal, pekerjaan. Semoga Allah menjaga kita semuanya.

Di antara saudara kita ada yang mengisahkan, kala itu dia sedang bekerja. Tiba-tiba terjadilah gempa dahsyat yang menghuncang bumi. Lalu diapun bergegas pulang ingin melihat kondisi anak istri. Sesampainya di rumah dia dapati anak istrinya selamat, alhamdulillah. Setelah itu dia pun pergi lagi, akan tetapi baru bebera jauh balik belakang tiba-tiba badai tsunami datang. Seusai tsunami menyapu daratan dia pun cepat-cepat kembali pulang ke rumah, ternyata rumah beserta anak istrinya sudah tidak ada, semuanya hilang tak tersisa.

Begitu pula bencana yang menimpa saudara -saudara kita di kota Palu sepekan lalu. Saksi mata bercerita. Saat dia dan istri sedang duduk santai di rumah. Sementara anak-anak sedang asyik bermain di halaman. Tiba-tiba tsunami datang. Semua anggota keluarganya hilang. Senyum tawa anak-anaknya kini tinggal cerita.
———

Ma’asyiral muslimin,
Sungguh Allah Maha Mampu melakukan segalanya. Lihatlah bencana-bencana dahsyat yang kita sebutkan tadi. Tidak ada seorang pun yang mengira bahwa musibah besar akan terjadi di hari itu. Pagi harinya mereka masih beraktifitas normal seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sebagai muqaddimah. Ternyata hari itu merupakan hari terakhir, hari perpisahan antara dia dengan orang-orang yang dicintainya.
——–

Ikhwaati fillah ‘azzakumullah,
Jadikanlah musibah sebagai ibrah.

Pertama,
Janganlah kita sombong merasa kaya ataupun gagah. Semua kekayaan dan kekuatan hanya milik Allah. Sekaya apapun kita, sehebat apapun kita, jika Allah berkehendak, hanya dengan hitungan detik dan sekedip mata semuanya akan sirna tak tersisa.

Sungguh. Wallahi, demi Allah. Tanyakanlah kepada saksi-saksi mata yang masih hidup. Di antara mereka yang dahulunya mungkin memiliki harta melimpa, atau keluarga besar, atau anak-anak yang menyejukkan mata. Akan tetapi detik itu juga semuanya harus dia lepaskan. Kini semuanya telah pergi.

Petaka mengerikan itu datang seketika bagaikan mimpi. Hati para hamba yang lemah sama sekali belum siap menerima semua kenyataan yang terjadi ini. Sungguh alangkah lemahnya manusia. Cukuplah sebagai bukti kelemahan manusia dengan Allah menciptakan airmata untuk kita semua.
——-

Maka bayangkanlah. Sekiranya semua itu terjadi padamu. Tidak bermaksud untuk menakut-nakuti. Akan tetapi ketahuilah bahwa sesungguhnya deretan tragedi luarbiasa tersebut semuanya hanyalah miniatur saja dari bencana akhir zaman.

Karena Allah akan menurunkan sebuah bencana, bencana terbesar yang akan terjadi nanti. Tidak ada satu pun ahli yang bisa memprediksi berapa besar kekuatan gempa dan tsunami yang akan terjadi. Bencana tersebut telah Allah beritakan Empatbelas abad yang lalu. Bahkan telah termaktub di dalam Kitab-Nya yang mulia.

Namu sayang, kendati kita sering membacanya ternyata hati ini sedikit pun tidak tersentuh. Ini bertanda betapa lemahnya iman kita. Atau mungkin karena hati yang telah mati, keras kaku membatu.

Di antara manusia terkejut dan terperangah di depan kompas, jawa pos, BBC dan semisalnya ketika kolom berita mengutip kabar bencana alam yang melanda.

Akan tetapi ketika dibacakan Alqur’an, ayat-ayat yang memberitakan tentang dahsyatnya kejadian akhir zaman, ternyata suasana hati biasa-biasa saja. Seolah tidak ada yang mengejutkan. Subhãnallah.
——–

Bayangkan sekiranya kita digoncang oleh gempa yang berkekutan 20 atau 30 SR. Tentu tidak akan ada lagi bangunan yang berdiri, gunung-gunung akan runtuh, dan manusia tidak akan mendapati satu pun tempat berlindung.

Lalu bagaimana lagi sekiranya jika gunung tak sekadar runtuh, bahkan berhamburan beterbangan bagaikan bulu yang melayang diterpa angin.

ِ إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا * وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا * وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا*

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?”” [Al-Zalzalah: 1-3]

Manusia bertanya-tanya, “apa yang terjadi pada bumi ini?” Dalam keadaan mereka berlari tak tentu arah, tak tau harus berlari ke mana. Semuanya bingung mencari tempat berlindung.

(يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ * وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ)

“Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan, gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.”
[Surat Al-Qari’ah 4 – 5]

Mereka sibuk sendiri-sendiri tanpa memikirkan orang lain lagi.

( يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ * وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ * وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ * لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ)

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya, Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” [Surat ‘Abasa 33 – 37]
——–

Ma’asyiral muslimin -hafizhakumullah,

Bencana alam benar-benar peringatan dari Allah -subhanahu wata’ala agar manusia segera bertaubat dari segala dosa dan kemaksiatan.

Adapun bagi siapa yang masih membangkang setelah itu, bukannya sadar tapi justru mempersiapkan segala kemampuannya untuk menangkal bencana alam dengan anggapan bahwa musibah alam tidak ada kaitannya dengan Allah, maka silakan! Silakan kerahkan segala kemampuan, bangunan yang kokoh serta teknologi yang canggih. Dan ketahuilah bahwa orang-orang sombong sejak zaman dahulu kala mereka juga berbuat demikian. Namun ke mana mereka setelah datang bencana? Semuanya hancur binasa.

Dan adapun bagi yang mengimani bahwa semua bencana itu datang dari Allah kemudian dia segera bertobat kepada Allah maka mudah-mudahan Allah memeberikan keselamatan biaginya.

(مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ)

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Surat At-Taghabun 11]

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, amin. Wallahu a’lam bishshowaab.

* Catatan al-Basimiy *

Sabtu, 26 Al-Muharram 1440/06 Oktober 2018

Hamba Allah yang lemah,
AD al-Basimiy

Sumber:
alpasimiy.com/jadikanlah-sebagai-ibrah/