( ditulis oleh: _Al-Ustadz Muhammad Afifuddin_ )

*SYARAT KELIMA*
*Akad jual beli dari pemilik barang atau yang menggantikan posisinya*

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wata’ala :
_“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil kecuali berupa perdagangan yang diadakan atas keridhaan masing-masing di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian.”_

(An-Nisa`: 29)
Karena itu tidak diperbolehkan mengurusi harta orang lain tanpa seizin pemiliknya.
Juga dengan dalil hadits:
_“Janganlah engkau menjual sesuatu yang bukan milikmu (tidak ada padamu).”_
(HR. Ahmad 3/401, 403 dan Ashhabus Sunan dengan sanad shahih, lihat Al-Irwa` no. 1292)

🔁 *Adapun pihak yang menggantikan posisi pemilik, terbagi menjadi 2 kategori :*
*1. Pihak yang diizinkan secara syar’i, yaitu wali.*
📝 Wali ini dibagi menjadi 2 macam :
*a. Wali khusus*

_yaitu pihak yang mengurusi harta anak kecil/yatim, orang gila, atau orang yang tidak bisa mengelola hartanya._
*b. Wali umum*

_yaitu pemerintah._

✍ Mereka mengurusi hal-hal berikut :
🔺Harta benda yang tidak diketahui pemiliknya.
🔺Harta anak yatim yang tidak mempunyai wali khusus yang mengurusi hartanya.
🔺Menjual harta/aset seseorang yang telah wajib membayar hutangnya jika yang bersangkutan tidak mau menjual hartanya untuk memenuhi kewajibannya.

*2. Pihak yang diizinkan oleh sang pemilik barang/harta.*
📝 Mereka terdiri dari 3 jenis :
*a. Al-Wakil*

 _yaitu seseorang yang mengurusi harta orang lain semasa hidupnya dengan izinnya._
*b. Al-Washi*

_yaitu seseorang yang mengurusi harta orang lain sepeninggalnya dengan izin atau wasiat darinya._
⚠ Dalam masalah ini ada catatan :
a >> Harta yang diurusi tidak boleh lebih dari sepertiganya
b >> Diperbolehkan bagi salah seorang ahli waris untuk menjadi al-washi

*c. Pengurus harta wakaf*

_yaitu seseorang yang mengurus harta wakaf sesuai dengan kemaslahatannya._
Orang yang seperti ini ada 2 jenis :
a >> Diberi izin oleh pewakaf.

b >> Diberi izin oleh pemerintah.

📋 *Masalah 44 :*
*Jika ada seseorang datang lalu mengambil barang dagangan orang lain dan menjual barang tersebut di depan sang pemilik. Kemudian dia menyerahkan uangnya kepada sang pemilik dalam keadaan sang pemilik diam saja, tidak menyetujui dan tidak pula mengingkari. Apakah jual belinya sah?*
🔀 Ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama:
1. Jumhur ulama berpendapat jual belinya tidak sah.
2. Ibnu Abi Laila berpendapat jual belinya sah.
*Yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, karena sang pemilik tidak memberinya izin. Adapun sikap diamnya tidaklah menunjukkan keridhaan atau persetujuannya.*

*Bersambung ke bagian 18 insyaallah*_
✍  sumber asysyariah.com/jual-beli-sesuai-tuntunan-nabi

🚀 Dipublikasikan oleh: 

👉🏿 http://bit.ly/telegramTIC 

👉🏿 http://bit.ly/websiteTIC
📚 WA Tholibul Ilmi Cikarang

____________ ⓣⓘⓒ ____________

Sabtu, 25 Rabi’ul Awwal 1438 H atau 24 Desember 2016 M

Bagikan Komentarmu