:: KALIMAT-KALIMAT YANG MENDIDIK ::

Asy Syaikh rahimahullaahu berkata,

“Diantara sebab yang bisa meningkatkan kebaikan ialah menghilangkan iri dan dengki diantara sesama saudara kaum muslimin dan meninggalkan sikap saling membenci. Karena tidaklah seorang muslim memaafkan saudaranya kecuali akan bertambah kemuliaannya.

Hendaklah seorang muslim mengetahui bahwa syaithon adalah musuh bagi dia, karena syaithon lah yang menyalakan api permusuhan dan kebencian diantara orang-orang yang beriman.

Sehingga sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk melihat kepada apa saja yang bisa memberikan manfaat dan mudharat bagi dirinya kemudian dia mengambil hal- hal yang bisa mendatangkan maslahat dan manfaat serta meninggalkan hal-hal yang bisa mendatangkan kejelekan dan kerusakan.

Kemudian Asy Syaikh rahimahullaahu berkata,

“Wajib bagimu untuk bersungguh-sungguh dalam melawan jiwa/hawa nafsumu meskipun engkau harus merendahkannya secara kasat mata, namun sebenarnya engkau sedang memuliakannya. Karena tidaklah seorang bertawadhu (rendah hati) karena Allah, kecuali Allah akan meninggikannya dan tidaklah Allah menambah bagi seorang yang memaafkan kecuali kemuliaan.

Maka cobalah! Engkau akan dapatkan kehidupan yang lapang dan tenang, kelapangan dada, serta kebahagian hati ketika engkau memaafkan dan memperbaiki apa yang terjadi antara engkau dan saudara-saudaramu.

Akan tetapi, apabila dalam hatimu ada sifat iri dan permusuhan kepada mereka, maka engkau akan dapatkan jiwamu berada di atas puncak kesedihan dan kegundahan.

Syaithon akan datang kepadamu dengan segenap kemungkinan-kemungkinan yang terkandung di dalam ucapan saudara-saudaramu.

Apabila ucapan tersebut mengandung kemungkinan yang baik dan buruk, maka syaithon akan berkata kepadamu, “Bawalah ucapannya kepada kemungkinan yang buruk”. Padahal yang disyariatkan adalah hendaknya seseorang membawa ucapan saudara-saudaranya kepada hal yang baik ketika di dalam ucapannya terdapat kemungkinan-kemungkinan.

Maka apabila engkau dapatkan kemungkinan yang baik maka bawalah kepada kebaikan -sama saja apakah dalam ucapan ataupun perbuatan- janganlah engkau bawa kemungkinan-kemungkinan yang terdapat pada ucapan atau perbuatan saudara-saudaramu kepada kejelekan.

Sebagian manusia -kita berlindung kepada Allah dari hal itu- membawa ucapan atau perbuatan saudara-saudaranya kepada kejelekan. Sehingga syaithon akan membujuknya untuk mencari-cari kejelekan dan kesalahan saudaranya, dia akan selalu mengikuti saudaranya dan selalu berusaha untuk melihat apa yang dia lakukan? Apa yang dia ucapkan?

Engkau akan dapati dia terus-menerus berusaha untuk melihat apa yang dia ucapkan, apa yang dia perbuat.

Duhai kiranya dia membawa ucapan atau perbuatan saudaranya kepada yang terbaik atau yang baik. Akan tetapi sangat disayangkan, dia membawanya kepada yang terjelek atau yang jelek. Semua itu dia lakukan dengan sebab bujukan syaithon yang terus-menerus dibisikkan kepadanya -kita berlindung kepada Allah dari semua itu-.

Yang wajib bagi seorang mu’min apabila dia melihat ucapan atau perbuatan saudaranya memiliki kemungkinan yang baik atau yang jelek adalah membawanya kepada yang baik selama didapatkan tanda-tanda yang kuat yang menghalangi kemungkinan tersebut untuk dibawa kepada yang jelek.

Beda halnya, apabila ucapan atau perbuatan tersebut muncul dari seorang yang dikenal dengan kejelekannya atau kerusakannya, maka tidak mengapa engkau membawanya sesuai dengan kemungkinan yang dikandung oleh ucapan atau perbuatannya tersebut.

Adapun seorang yang tertutup dan tidak diketahui adanya kejelekan darinya maka apabila di dalam ucapan atau perbuatannya terkandung kemungkinan yang baik atau yang jelek, bawalah kepada yang baik sehingga engkau bisa beristirahat dan tidak tersibukkan dengannya.

Bahkan terkadang orang yang selalu mencari aib-aib dan kesalahan-kesalahan manusia -baik dari ucapannya ataupun perbuatannya- akan ditimpa dengan hal yang sebaliknya -yaitu ada orang lain yang akan mencari aib dan kesalahannya-.

Barang siapa yang mencari aib saudaranya, maka Allah akan mencari aibnya. Maka barang siapa yang dicari aibnya oleh Allah, maka Allah akan membukanya walaupun dia berada di dalam rumahnya”.

Sumber: Asy Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’, 2/241.

✔️ Tim penerjemah WSC
📚 WhatsApp Salafy Cirebon | @salafy_cirebon

https://www.atsar.id/2016/05/kalimat-kalimat-yang-mendidik.html?m=1

Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy
Telegram : t.me/atsarid
Twitter: twitter.com/atsarid
Line : https://line.me/R/ti/p/%40bqg5243o
YT : https://www.youtube.com/c/AtsarID
Website: www.atsar.id