๐Ÿ’๐Ÿ“KEBAIKAN YANG MENGHAPUS KEBURUKAN DAN KEBAIKAN YANG AKAN TETAP TERSIMPAN ABADI

ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุญูŽุงุฑูุซู ู…ูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ุนูุซู’ู…ูŽุงู†ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฌูŽู„ูŽุณูŽ ุนูุซู’ู…ูŽุงู†ู ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ูˆูŽุฌูŽู„ูŽุณู’ู†ูŽุง ู…ูŽุนูŽู‡ู ููŽุฌูŽุงุกูŽู‡ู ุงู„ู’ู…ูุคูŽุฐู‘ูู†ู ููŽุฏูŽุนูŽุง ุจูู…ูŽุงุกู ูููŠ ุฅูู†ูŽุงุกู ุฃูŽุธูู†ู‘ูู‡ู ุณูŽูŠูŽูƒููˆู†ู ูููŠู‡ู ู…ูุฏู‘ูŒ ููŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃู ูˆูุถููˆุฆููŠ ู‡ูŽุฐูŽุง ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃูŽ ูˆูุถููˆุฆููŠ ุซูู…ู‘ูŽ ู‚ูŽุงู…ูŽ ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุตูŽู„ูŽุงุฉูŽ ุงู„ุธู‘ูู‡ู’ุฑู ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุตู‘ูุจู’ุญู ุซูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑูŽ ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ุธู‘ูู‡ู’ุฑู ุซูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจูŽ ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑู ุซูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูุดูŽุงุกูŽ ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุฑูุจู ุซูู…ู‘ูŽ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุจููŠุชูŽ ูŠูŽุชูŽู…ูŽุฑู‘ูŽุบู ู„ูŽูŠู’ู„ูŽุชูŽู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู’ ู‚ูŽุงู…ูŽ ููŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃูŽ ูˆูŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูุจู’ุญูŽ ุบูููุฑูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ุนูุดูŽุงุกู ูˆูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชู ูŠูุฐู’ู‡ูุจู’ู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽูŠู‘ูุฆูŽุงุชู ู‚ูŽุงู„ููˆุง ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชู ููŽู…ูŽุง ุงู„ู’ุจูŽุงู‚ููŠูŽุงุชู ูŠูŽุง ุนูุซู’ู…ูŽุงู†ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‡ูู†ู‘ูŽ ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ูˆูŽู„ูŽุง ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ู‚ููˆู‘ูŽุฉูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู

Dari al-Harits maula Utsman ia berkata: Suatu hari kami duduk bersama Utsman (bin Affan). Kemudian datang muadzdzin, Utsman meminta diambilkan air dalam bejana. Aku menyangka seukuran 1 mud. Kemudian Utsman berwudhu dan berkata: Aku melihat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berwudhu dengan wudhuโ€™ku ini kemudian beliau bersabda: Barang siapa yang yang berwudhu dengan wudhuku ini kemudian bangkit melaksanakan shalat Zhuhur, akan diampuni (dosa kecil yang dilakukan) antara waktu Zhuhur itu dengan Subuh (sebelumnya). Kemudian jika ia shalat Ashar, akan diampuni (dosa kecil yang dilakukan) antara Ashar itu dengan shalat Zhuhur (sebelumnya). Kemudian dia shalat Maghrib, akan diampuni (dosa kecil yang dilakukan) antara Maghrib itu dengan shalat Ashar, kemudian ia shalat Isya, akan diampuni (dosa kecil yang dilakukan) antara Isya itu dengan shalat Maghrib. Kemudian bisa jadi ia melewati malam dengan berlumuran (dosa kecil) pada malam itu, kemudian ia berwudhu dan shalat Subuh, akan diampuni (dosa kecil yang dilakukan antara waktu itu dengan shalat Isya). (Shalat-shalat) itu adalah kebaikan-kebaikan yang menghilangkan keburukan-keburukan. Orang-orang yang hadir di waktu itu bertanya: Ini adalah kebaikan-kebaikan (yang disebutkan dalam alQuran), lalu apakah makna al-Baqiyaat (kebaikan-kebaikan yang akan tetap tersimpan abadi) wahai Utsman? Utsman berkata: Itu adalah (ucapan) Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah), Subhanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), Allaahu Akbar (Allah adalah Yang Terbesar), dan Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illaa Billah (Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah) (H.R Ahmad, dinyatakan sanadnya shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir dan dinilai hasan li ghoirihi oleh Syaikh al-Albaniy)

๐Ÿ’กPenjelasan:

Utsman bin Affan radhiyallahu anhu mencontohkan tata cara berwudhu sesuai dengan yang beliau saksikan dari perbuatan Nabi shollallahu alaihi wasallam. Beliau meminta diambilkan air wudhu dalam ukuran yang sedikit, yaitu 1 mud saja. Demikianlah memang Nabi mencontohkan, berwudhu dengan jumlah air yang tidak banyak, sekitar 250 ml (seperti air mineral gelas) sampai 750 ml.

Setelah selesai berwudhuโ€™ kemudian beliau menjelaskan bahwa dengan wudhu yang sempurna sesuai dengan bimbingan Nabi yang dilanjut dengan shalat yang ikhlas karena Allah dan sesuai bimbingan Nabi akan menghapus dosa-dosa yang dilakukan antara shalat wajib yang dilakukan ini dengan shalat wajib terakhir sebelumnya. Jika itu adalah shalat Zhuhur, akan menghapus dosa-dosa antara shalat Subuh sebelumnya hingga pelaksanaan shalat Zhuhur tersebut. Jika itu adalah shalat Ashar, akan menghapus dosa-dosa antara shalat Zhuhur sebelumnya dengan shalat Ashar tersebut. Demikian seterusnya.

Namun para Ulama menjelaskan bahwasanya dosa-dosa yang bisa terhapus dengan amalan shalat tersebut adalah dosa-dosa kecil. Sedangkan dosa-dosa besar haruslah dengan tobat nasuha: meninggalkan dosa itu karena Allah, menyesal atas perbuatan dosa itu, bertekad kuat untuk tidak melakukan lagi di masa mendatang, dan jika dosa itu terkait dengan hamba Allah yang lain, ia menggantinya atau meminta dihalalkan. Dalam hadits lain Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda:

ูŽุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ุงู’ู„ุฎูŽู…ู’ุณู ูˆูŽุงู’ู„ุฌูู…ูุนูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู’ู„ุฌูู…ูุนูŽุฉู ูˆูŽุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽ ู…ููƒูŽูู‘ูุฑูŽุงุชูŒ ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุงุฌู’ุชูŽู†ูŽุจูŽ ุงู’ู„ูƒูŽุจูŽุงุฆูุฑ

(antara) sholat lima waktu (yang satu dengan berikutnya), Jumat dengan Jumat, Ramadhan dengan Ramadhan, sebagai penghapus dosa di antaranya jika seseorang meninggalkan dosa-dosa besar (H.R Muslim)

Jika ada yang bertanya, apakah definisi dosa besar?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan: โ€œDosa-dosa besar adalah (dosa) yang akan mendapatkan had di dunia atau di akhirat, seperti zina, mencuri, dan menuduh (orang baik-baik berzina), yang akan mendapat hukum had di dunia. Atau seperti dosa-dosa yang mendapat had di akhirat berupa ancaman khusus, seperti dosa yang di dalamnya terdapat (ancaman) kemurkaan Allah, atau laknat-Nya, atau Jahannam. Atau (dosa yang mendapat ancaman) terhalangi dari surga seperti sihir, sumpah palsu, lari dari pertempuran, durhaka pada kedua orangtua, bersaksi palsu, minum khamr, dan selainnya. Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Sufyan bin Uyainah, Ahmad bin Hanbal, Ulama lainnya (Majmuโ€™ Fataawa (11/658)).

Sedangkan dosa-dosa lain yang tidak masuk definisi dosa besar adalah dosa kecil.

Kemudian Utsman bin Affan menjelaskan makna ayat:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชู ูŠูุฐู’ู‡ูุจู’ู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽูŠู‘ูุฆูŽุงุช

โ€ฆsesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan keburukan-keburukanโ€ฆ(Q.S Huud ayat 114)

Beliau menjelaskan bahwa kebaikan yang akan menghapus keburukan itu adalah shalat-shalat 5 waktu yang akan menghapuskan dosa-dosa (kecil) yang dilakukan antar pelaksanaan shalat 5 waktu tersebut.

Setelah mendengarkan penjelasan itu, sebagian orang yang hadir menanyakan makna al-Baaqiyaatus Shoolihat yang disebutkan dalam surah al-Kahfi ayat 46 maupun surah Maryam ayat 76. Utsman bin Affan pun menjelaskan bahwa itu adalah kalimat-kalimat dzikir seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar, dan Laa Hawla wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Pahala bacaan-bacaan yang dilakukan dengan ikhlas tersebut akan tetap tersimpan di sisi Allah dan pahala dari-Nya benar-benar akan diharapkan oleh setiap orang.

(Abu Utsman Kharisman)

๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ’ก๐Ÿ’ก
WA al I’tishom