(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

 

Anak bagaikan permata yang begitu berharga bagi orangtua. Tak ternilai harganya dan senantiasa melekat dalam sanubari ayah ibunya. Hal ini dirasakan oleh setiap orangtua, bahkan oleh seseorang yang paling mulia, Rasulullah n. Demikian pula orang yang paling mulia setelah beliau, Abu Bakr Ash-Shiddiq z. ‘Aisyah x menceritakan:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ z يَوْمًا: وَاللهِ، مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ عُمَرَ، فَلَمَّا خَرَجَ رَجَعَ فَقَالَ: كَيْفَ حَلَفْتُ أَيْ بُنَيَّةُ؟ فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ: أَعَزُّ عَلَيَّ، وَالْوَلَدُ أَلْوَطُ

“Suatu hari, Abu Bakr Ash-Shiddiq z mengatakan, ‘Demi Allah, tak ada seorang pun di atas bumi ini yang lebih kucintai daripada ‘Umar (Umar bin Khaththab z, red.)!’ Ketika Abu Bakr kembali, dia pun bertanya, ‘Bagaimana sumpahku tadi, wahai putriku?’ Aku pun mengatakan kembali apa yang diucapkannya. Kemudian Abu Bakr berkata, ‘Dia memang sangat berarti bagiku, namun anak lebih melekat di dalam hati’.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 61: hasanul isnad)

Memang, begitu dalam rasa cinta dan kasih sayang orangtua kepada anaknya. Tak heran, ketika anak sakit, derita yang berat pun turut dirasa oleh orangtua. “Sakit anak derita ibu,” begitu kata sebuah ungkapan.

Tak sampai hati rasanya melihat permata hati terbaring pucat, kehilangan gairah dan keceriaannya, ditambah lagi demam yang tak kunjung reda, diiringi tangisan menahan rasa sakit. Terbang sudah rasanya hati orangtua. Ada sesuatu yang terasa kosong di dalam dada. Ingin rasanya menggantikan sakit dan derita si anak. Ingin rasanya berbuat sesuatu untuk mengenyahkan segala penderitaannya. Namun ternyata kita tak mampu berbuat apa-apa.

Saat-saat seperti ini, kita benar-benar merasakan kelemahan diri kita. Terasa, bukan kita yang kuasa memberikan kesembuhan. Terasa, kita sendiri membutuhkan topangan.

Tentu tak pantas kita berkeluh kesah atas musibah ini. Bahkan yang satu ini harus kita jauhi, karena dapat menjerumuskan kita dalam azab, menjadi bahan bakar jahannam, wal ‘iyadzu billah! Seperti dalam sabda Rasulullah n ketika memberikan wejangan kepada para wanita di hari raya. Dikisahkan oleh Jabir bin ‘Abdillah z:

شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ n الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيْدِ، فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ، ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلاَلٍ، فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ، وَوَعَظَ النَّاسَ، وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، فَقَالَ: تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ. فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟

قَالَ: لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ. قَالَ: فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِيْنَ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ

Aku menghadiri shalat pada hari raya bersama Rasulullah n, maka beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah tanpa adzan maupun iqamat. Kemudian beliau berdiri sambil bertelekan pada Bilal, memerintahkan manusia agar bertakwa kepada Allah, menghasung mereka untuk menaati-Nya, memberi wejangan serta mengingatkan mereka. Kemudian beliau pun berlalu, hingga mendatangi para wanita, lalu memberi wejangan kepada mereka serta mengingatkan mereka. Beliau bersabda, “Bersedekahlah kalian, karena kebanyakan kalian adalah bahan bakar Jahannam!” Maka berdirilah salah seorang wanita dari kalangan orang yang terbaik mereka yang di pipinya ada kehitaman, lalu bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak berkeluh kesah dan kufur kepada suami.” Maka mulailah mereka bersedekah dengan perhiasan mereka, mereka melemparkan anting-anting dan cincin-cincin mereka ke baju Bilal.” (HR. Muslim no. 885)

Oleh karena itu, di saat himpitan melanda seperti ini, kiranya kita harus mengingat kembali apa kata syariat yang sempurna. Di saat itu pula kita akan mendapatkan bimbingan, arahan, dan nasihat yang begitu sempurna, hingga kita tak putus harapan.

Dalam Al-Qur’an, Allah l telah mengingatkan hamba-hamba-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kekurangan jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mengatakan, ‘Kami ini milik Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali’. Mereka itulah yang mendapatkan kebaikan yang sempurna dan rahmah dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157)

Kekurangan jiwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah kematian orang-orang yang dicintai, baik anak-anak, karib kerabat maupun sahabat. Juga berbagai penyakit yang menimpa diri seorang hamba ataupun menimpa orang yang dicintainya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 76)

Berbagai cobaan yang disebutkan dalam firman Allah l ini pasti akan menimpa seorang hamba, karena Dzat Yang Maha Mengetahui telah mengabarkannya, sehingga pasti hal itu akan terjadi sebagaimana Allah l kabarkan. Maka ketika musibah itu terjadi, manusia pun terbagi menjadi dua golongan: orang yang sabar dan yang tidak sabar.

Orang yang tidak sabar akan mendapatkan dua musibah; kehilangan orang yang dicintai yang ini merupakan wujud musibah yang menimpanya, dan kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada itu, yaitu hilangnya pahala menempuh kesabaran yang diperintahkan oleh Allah l. Dia pun mendapat kerugian dan berkurang pula keimanannya. Hilang pula dari dirinya kesabaran, rasa ridha dan syukur, sehingga yang ada pada dirinya hanyalah kemarahan yang menunjukkan betapa kurang keimanannya.

Sementara orang yang Allah l berikan taufik untuk bersabar saat terjadinya musibah, dia menahan diri agar terhindar dari kemarahan akibat ketidakpuasan, baik yang terungkap dalam ucapan maupun perbuatan. Dia pun mengharap balasan pahala musibah itu dari sisi Allah l. Dia tahu, pahala yang akan didapatkannya dengan kesabaran jauh lebih agung daripada musibah yang menimpanya. Bahkan sebenarnya musibah itu merupakan suatu nikmat, karena bisa menjadi jalan untuk meraih sesuatu yang terbaik baginya dan lebih bermanfaat daripada musibah itu. Dia pun melaksanakan perintah Allah l untuk bersabar dan meraih pahalanya. (Taisirul Karimir Rahman, hal. 76)

Inilah janji Allah l, yang termaktub pula dalam ayat yang lain.

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dicukupi pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)

Sabar. Demikian memang yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang beriman kala ditimpa musibah. Bagaimana tidak, sementara setiap keadaan, baik kelapangan ataupun kesusahan sebenarnya merupakan kebaikan baginya. Demikian yang dikatakan oleh Rasulullah n, seperti yang dinukilkan oleh Suhaib bin Sinan z:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya setiap perkaranya merupakan kebaikan baginya, dan ini tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mukmin: apabila memperoleh kelapangan, dia bersyukur, maka ini kebaikan baginya, dan apabila ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka ini pun kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Kebaikanlah yang akan didapat seorang mukmin yang bersabar saat diterpa cobaan. Dengan meyakini hal ini, kita akan berbesar hati. Memang, jika Allah l menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan menimpakan musibah kepadanya untuk mengujinya sehingga mengangkat derajatnya. Abu Hurairah z mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5645)

Tak lagi ciut nyali kita mendengar keutamaan seperti ini. Terlebih lagi kalau kita menyadari, beratnya cobaan yang menimpa akan membuahkan pahala yang besar pula. Abu Hurairah z pernah menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu bersama dengan besarnya cobaan. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha, maka dia akan mendapat ridha dari Allah, dan barangsiapa yang marah, maka dia akan mendapat kemurkaan dari Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396, dihasankan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Tak hanya itu keutamaan bersabar atas cobaan. Rasulullah n mengingatkan pula bahwa cobaan yang tengah kita hadapi akan menggugurkan dosa dan kesalahan kita. Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah c meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu kepayahan, penyakit, kegalauan, kesedihan, gangguan ataupun kegundahan, hingga duri yang mengenainya, kecuali Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan musibah itu.” (HR. Al-Bukhari no. 5641, 5642 dan Muslim no. 2573)

Abu Hurairah z juga mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda:

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ تَعَالَى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Senantiasa cobaan itu menimpa seorang mukmin atau mukminah pada dirinya, anak ataupun hartanya, sampai dia bertemu dengan Allah ta’ala dalam keadaan tidak memiliki kesalahan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2399, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: hasan shahih)

Di tengah-tengah kegalauan menghadapi sakit yang diderita sang buah hati, kita berharap, semoga Allah l berikan taufik kepada kita untuk bersabar. Allah l yang membimbing kita untuk menempuh kesabaran, Allah l pula yang memberikan pahala kesabaran itu. Kita pun berharap agar segala kesusahan yang kita alami dapat menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan surga. Abu Hurairah z menukilkan sabda Rasulullah n:

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka diliputi oleh berbagai kesenangan dunia, sementara surga diliputi oleh berbagai hal yang tidak menyenangkan di dunia.” (HR. Al-Bukhari no. 6487)

Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan pada saat-saat seperti ini adalah memohon kesembuhan bagi anak kita hanya kepada Allah l. Hanya Allah l semata yang dapat memberikan kesembuhan atas penyakit buah hati kita, sebagaimana kata Khalilur Rahman, Ibrahim q yang termaktub dalam Al-Qur’an:

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku.” (Asy-Syu’ara: 80)

Dengan penuh harap kita memohon kepada Allah l bagi anak kita, disertai keyakinan bahwa Allah l akan mengabulkan doa kita. Abu Hurairah z menyampaikan bahwa Rasulullah n pernah bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

“Ada tiga doa yang pasti akan terkabul, tidak diragukan lagi: doa orangtua, doa orang yang bepergian, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1536, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasan)

Akan lebih ringan terasa beban berat yang kita alami dengan menyimak kembali bimbingan Allah l dan Rasul-Nya n ini. Semoga kegundahan ini akan berakhir kelak dengan sesuatu yang lebih berarti.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

asysyariah.com

Bagikan Komentarmu