Dalam Islam, peran domestik kaum istri memiliki kedudukan yang sangat mulia. Namun musuh-musuh Islam terus berusaha meruntuhkan sendi dasar rumah tangga ini dengan menggalang berbagai opini menyesatkan. “Pemberdayaan perempuan”, “kesetaraan gender”, “kungkungan budaya patriarkhi” adalah sebagian propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak wanita-wanita Islam.

Islam, oleh musuh-musuhnya, dituding sebagai ajaran yang tidak sensitif gender. Posisi wanita dalam Islam, menurut mereka, selalu termarginalkan atau terpinggirkan dalam lingkungan yang didominasi dan dikuasai laki-laki.

Permasalahan yang sering ‘diserang’ kaum feminis dan aktivis perempuan antiislam adalah peran istri/ibu dalam mengurusi tugas-tugas kerumahtanggaan. Oleh mereka, peran ibu yang hanya mengurusi tugas-tugas domestik hanya akan menciptakan ketidakberdayaan sekaligus ketergantungan istri terhadap suaminya.

Dikesankan pula bahwa wanita yang hanya tinggal di rumah adalah pengangguran dan menyia-nyiakan setengah dari potensi masyarakat. Propaganda ini didukung dengan opini negatif yang berkembang di masyarakat di mana wanita selama ini tak lebih dari sekadar “konco wingking”, wanita tak lepas dari “dapur, kasur, dan pupur”, “masak, macak, manak “, dan sebagainya. Oleh karena itu, agar wanita bisa “maju”, para wanita harus direposisi dalam ruang publik yang seluas-luasnya.

Gerakan ini gencar dilancarkan musuh-musuh Islam karena mereka sangat paham bagaimana merusak Islam dengan menjadikan wanita muslimah sebagai sasaran bidik. Dengan semakin jauhnya kaum wanita dari rumah, mereka berharap pintu-pintu kerusakan akan semakin terbuka lebar. Lebih jauh, jika wanitanya telah rusak, maka tatanan masyarakat Islam akan rusak pula.

 

Rumahmu Istanamu

Seorang wanita perlu mengetahui bahwa tempat asalnya berdiam adalah dalam rumahnya, dan rumah ini pula yang menjadi tempatnya bekerja. Dalil-dalil dari syariat yang mulia telah menetapkan dan mempersaksikan tentang hal ini, di antaranya:

  • Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Ummahatul Mukminin:

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian.” (al-Ahzab: 33)

Makna ayat ini, kata al-Imam al-Qurthubi rahimahullah, adalah perintah untuk selalu menetap dalam rumah. Walaupun sasaran pembicaraan dalam ayat ini ditujukan kepada para istri Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam namun secara makna wanita selain mereka juga termasuk di dalam perintah ini. (al-Jami’ li Ahkamil Quran, 14/117)

  • Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

لَا تُخۡرِجُوهُنَّ مِنۢ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخۡرُجۡنَ

“Janganlah kalian mengeluarkan mereka (istri-istri yang telah ditalak) dari rumah-rumah mereka dan janganlah mereka keluar.” (ath-Thalaq: 1)

Walaupun ayat di atas berkenaan dengan wanita/istri yang tengah menjalani masa ‘iddah, namun kata ulama, hukumnya tidaklah khusus bagi mereka namun juga berlaku bagi wanita yang lain. (Daurul Mar’ah fi TarbiyatulUsrah, asy-Syaikh Shalih bin Abdillah Alu Fauzan, hlm. 1. www.alfauzan.net)

  • Pelajaran dari kisah antara Nabi Musa ‘alaihissalam dengan dua orang wanita di Madyan, yang Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan kepada kita dalam Tanzil-Nya,

وَلَمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡيَنَ وَجَدَ عَلَيۡهِ أُمَّةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ يَسۡقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ ٱمۡرَأَتَيۡنِ تَذُودَانِۖ قَالَ مَا خَطۡبُكُمَاۖ قَالَتَا لَا نَسۡقِي حَتَّىٰ يُصۡدِرَ ٱلرِّعَآءُۖ وَأَبُونَا شَيۡخٞ كَبِيرٞ ٢٣ فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلۡتَ إِلَيَّ مِنۡ خَيۡرٖ فَقِيرٞ ٢٤ فَجَآءَتۡهُ إِحۡدَىٰهُمَا تَمۡشِي عَلَى ٱسۡتِحۡيَآءٖ قَالَتۡ إِنَّ أَبِي يَدۡعُوكَ لِيَجۡزِيَكَ أَجۡرَ مَا سَقَيۡتَ لَنَاۚ فَلَمَّا جَآءَهُۥ وَقَصَّ عَلَيۡهِ ٱلۡقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفۡۖ نَجَوۡتَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٢٥ قَالَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسۡتَ‍ٔۡجِرۡهُۖ إِنَّ خَيۡرَ مَنِ ٱسۡتَ‍ٔۡجَرۡتَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡأَمِينُ ٢٦

Tatkala Musa sampai di sumber air negeri Madyan, di sana ia menjumpai sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternak mereka dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat ternaknya. Musa berkata, ‘Apa maksud kalian berbuat begini, kenapa kalian tidak ikut meminumkan ternak kalian bersama mereka?’ Kedua wanita itu menjawab, ‘Kami tidak dapat meminumkan ternak kami sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan ternak mereka, sedangkan ayah kami[1]telah berusia lanjut.’

Akhirnya Musa memberi minum ternak itu untuk menolong keduanya, kemudian ia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu sembari berjalan dengan malu-malu, ia berkata, ‘Ayahku memanggilmu untuk membalas kebaikanmu memberi minum ternak kami.’ Tatkala Musa mendatangi ayahnya, ia menceritakan kisah dirinya. Sang ayah berkata, ‘Janganlah takut, engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu (Fir’aun dan pengikutnya).’

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, ‘Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja pada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja pada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya’.” (al-Qashash: 2326)

Karena sifat wara dan takwa yang ada pada keduanya, kedua wanita ini enggan untuk bercampur (ikhtilath) dengan para penggembala tersebut. Adapun keduanya keluar rumah untuk memberi minum ternaknya adalah karena darurat di mana sang ayah telah berusia senja sehingga tak mampu lagi mengurus ternak yang ada.

Perjumpaan dengan Nabi Musa ‘alaihissalam membuahkan gagasan di benak salah seorang dari putri tersebut bahwa telah tiba saatnya untuk mengembalikan perkara pada tempat yang semestinya. Ia pun berkata kepada sang ayah:

“Wahai ayahku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja pada kita, karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja pada kita adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”

Sang ayah pun menyambut usulan putrinya, beliau berkata kepada Nabi Musa ‘alaihissalam,

قَالَ إِنِّيٓ أُرِيدُ أَنۡ أُنكِحَكَ إِحۡدَى ٱبۡنَتَيَّ هَٰتَيۡنِ عَلَىٰٓ أَن تَأۡجُرَنِي ثَمَٰنِيَ حِجَجٖۖ فَإِنۡ أَتۡمَمۡتَ عَشۡرٗا فَمِنۡ عِندِكَۖ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أَشُقَّ عَلَيۡكَۚ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ٢٧

“Berkatalah Syu’aib, ‘Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua putriku ini, atas dasar engkau bekerja denganku selama delapan tahun dan jika engkau cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah suatu kebaikan darimu, aku tidaklah hendak memberatkanmu. Dan engkau Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik’.” (al-Qashash:27) [Daurul Mar’ah, hlm. 1]

  • Shalat di masjid sebagai satu amalan yang utama disyariatkan kepada kaum lelaki, banyak pahala akan diraih terlebih bila shalat itu dilakukan di masjid Nabawi.

Namun ternyata bersamaan dengan itu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menganjurkan kaum wanita untuk shalat di rumah mereka. Ketika istri Abu Humaid as-Sa’idi datang kepada beliau shallallahu ‘alahi wa sallam seraya menyatakan, “Wahai Rasulullah, aku senang shalat berjamaah bersamamu.”

Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab,

قَدْعَلِمْتُأَنَّكِتُحِبِّيْنَالصَّلاَةَمَعِيْ،وَصَلاَتُكِفِيْبَيْتِكِخَيْرٌلَكِمِنْصَلاَتِكِفِيْحُجْرَتِكِ،وَصَلاَتُكِفِيحُجْرَتِكِخَيْرٌمِنْصَلاَتِكِفِيدَارِكِ،وَصَلاَتُكِفِيْدَارِكِخَيْرٌلَكِمِنْصَلاَتِكِفِيمَسْجِدِقَوْمِكِ،وَصَلاَتُكِفِيمَسْجِدِقَوْمِكِخَيْرٌلَكِمِنصَلاَتِكِفِيمَسْجِدِيْ

Sungguh aku tahu engkau senang shalat jamaah denganku, namun shalatmu di ruang yang khusus yang ada di rumahmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di kamarmu, shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di rumahmu, shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” (HR. Ahmad, 6/371, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 155)

Bila seorang wanita tetap tinggal di rumahnya, ia akan bisa menunaikan tugas-tugas dalam rumahnya, memenuhi hak-hak suaminya, mendidik anak-anaknya dan membekali dirinya dengan kebaikan. Bila seorang wanita sering keluar rumah, ia akan menyia-nyiakan sekian banyak kewajiban yang dibebankan kepadanya. (Nashihati Lin Nisa’, Ummu Abdillah al-Wadi‘iyyah, hlm. 101)

 

Keluar Rumah Saat Ada Hajat

Dari penjelasan di atas, janganlah dipahami bahwa wanita dilarang secara mutlak untuk keluar dari rumahnya. Bahkan telah datang keterangan dari syariat tentang kebolehan wanita keluar dari rumahnya saat ada kebutuhan dan karena darurat.

  • Aisyah radhiallahu ‘anha berkisah, “Suatu malam, Saudah bintu Zam’ah radhiallahu ‘anha keluar dari rumahnya untuk membuang hajat. Ketika itu Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu melihatnya dan mengenalinya. Umar pun berkata, ‘Engkau Saudah, demi Allah, tidak tersembunyi bagi kami.’ Saudah pun kembali menemui Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, lalu ia ceritakan kejadian tersebut kepada beliau. Saat itu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam sedang makan malam di rumahku. Dalam keadaan tangan beliau sedang memegang tulang yang padanya ada sisa daging, turunlah wahyu, beliau pun berkata,

قَدْأَذِنَاللهُلَكُنَّأَنْتَخْرُجْنَلِحَوَائِجِكُنَّ

Allah telah mengizinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian.” (HR. al-Bukhari no. 5237 dan Muslim no. 2170)

  • Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam memberi tuntunan kepada para suami untuk tidak melarang istri mereka shalat di masjid bila si istri minta izin kepadanya,

إِذَااسْتَأْذَنَتِامْرَأَةُأَحَدِكُمْإِلَىالْمَسْجِدِفَلاَيَمْنَعْهَا

“Apabila istri salah seorang dari kalian minta izin ke masjid, janganlah ia melarangnya.” (HR. al-Bukhari no. 873 dan Muslim no. 442)

Beliau menyatakan,

لاَتَمْنَعُوْاإِمَاءَاللهِمَسَاجِدَاللهِ

“Janganlah kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah dari masjid-masjid Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. al-Bukhari no. 900 dan Muslim no. 442)

  • Dari sejarah para shahabiyyah, kita mengetahui ada di antara mereka yang keluar menyertai mahram mereka ke medan jihad untuk memberi minum kepada mujahidin dan mengobati orang yang luka.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

        كَانَرَسُوْلُاللهِيَغْزُوْبِأُمِّسُلَيْمٍوَنِسْوَةٍمِنَالْأَنْصَارِمَعَهُإِذَاغَزَافَيَسْقِيْنَالْمَاءَوَيُدَاوِيْنَالْجَرْحَى

“Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallampernah berperang bersama Ummu Sulaim dan beberapa wanita dari kalangan Anshar ikut bersama beliau ketika beliau berperang. Mereka memberi minum dan mengobati mujahidin yang terluka.” (HR. Muslim no. 1810)

Ummu ‘Athiyah radhiallahu ‘anha bertutur, “Akupernah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam tujuh kali peperangan, aku menjaga dan mengurus tunggangan-tunggangan mereka (mujahidin), membuatkan makanan untuk mereka, mengobati orang yang luka, dan merawat orang sakit.” (HR. Muslim no. 1812)

  • Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam sendiri bila hendak safar, beliau mengundi di antara istri-istrinya untuk menentukan siapa di antara mereka yang akan menyertai beliau dalam safarnya.

Keluarnya wanita dari rumahnya ini merupakan pengecualian dari hukum asal[2] dan disebabkan kepentingan yang darurat dengan memerhatikan dan menjaga adab-adab ketika keluar rumah seperti berhijab dan sebagainya, dan juga tidak ada fitnah dan kerusakan yang akan timbul saat ia keluar rumah.

Adapun bila wanita keluar rumah untuk bekerja karena menuruti bualan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu setan bahwasanya bila wanita tetap tinggal di rumahnya ia akan menjadi pengangguran, maka hal ini tidaklah dibolehkan oleh syariat yang agung dan sempurna ini.

Bila sampai wanita keluar dari rumahnya karena memenuhi ajakan manis nan berbisa dari pengikut hawa nafsu tersebut maka akan terjadilah kerusakan yang besar di tengah masyarakat dan sendi-sendi keluarga pun akan hancur.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata, “Islam menetapkan masing-masing dari suami istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya dapat menjalankan perannya, hingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah.

Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya seperti mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, merawat dan mengobati mereka dan pekerjaan yang semisalnya yang khusus bagi wanita.

Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya berarti ia menyia-nyiakan rumah berikut penghuninya. Hal tersebut berdampak retaknya keluarga baik secara hakiki maupun maknawi.” (KhatharuMusyarakatil Mar’ah lir Rijal fi Maidanil‘Amal, hlm. 5)

 

Arti Wanita Dalam Keluarga

Keberadaan seorang wanita sebagai istri dan ibu dalam keluarga memiliki arti yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan dia merupakan satu tiang yang menegakkan kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak “orang-orang besar.” Tepat sekali bila dikatakan, “Di balik setiaporang besar ada seorang wanita yangmengasuh dan mendidiknya.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menyatakan, “Perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara:

Pertama: Perbaikan secara dzahir, yang dilakukan di pasar-pasar, di masjid-masjid dan selainnya dari perkara-perkara yang dzahir. Ini didominasi oleh lelaki karena merekalah yang biasa tampil di depan umum.

Kedua: Perbaikan masyarakat yang dilakukan dari balik dinding/tembok. Perbaikan seperti ini dilakukan di rumahrumah dan secara umum diserahkan hal ini kepada kaum wanita.

Sebab, wanita adalah pengatur dalam rumahnya sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang ditujukan ketika itu kepada para istri Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam,

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ وَأَقِمۡنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِيرٗا ٣٣

“Tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan jangan kalian bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa dari kalian wahai ahlul bait dan mensucikan kalian dengan sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 33)

Kami yakin setelah ini bahwasanya tidak salah bila kami katakan perbaikan setengah masyarakat itu atau bahkan mayoritasnya tergantung pada wanita dikarenakan dua sebab berikut ini:

Pertama: Kaum wanita itu jumlahnya sama dengan kaum lelaki bahkan lebih banyak, yakni keturunan Adam mayoritasnya wanita sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh as-Sunnah an-Nabawiyyah.

Akan tetapi, hal ini tentunya berbeda antara satu negeri dengan negeri lain, satu zaman dengan zaman lain. Terkadang di satu negeri jumlah wanita lebih banyak daripada jumlah laki-laki dan terkadang di negeri lain justru sebaliknya. Sebagaimana di satu masa kaum wanita lebih banyak daripada laki-laki namun di masa lainnya justru sebaliknya, laki-laki lebih dominan.

Apa pun keadaannya wanita memiliki peran yang besar dalam memperbaiki masyarakat.

Kedua: Tumbuh dan berkembangnya satu generasi pada awalnya berada dalam asuhan wanita. Dengan inilah jelaslah tentang kewajiban wanita dalam memperbaiki masyarakat.” (DaurulMar’ah fi Ishlahil Mujtama’, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Bila demikian keadaannya, apakah bisa diterima ucapan yang mengatakan wanita yang bekerja dalam rumahnya, berkhidmat pada keluarganya adalah pengangguran?

Manakah yang hakikatnya lebih utama, lebih berhasil, dan lebih bahagia, wanita yang tinggal di rumahnya, menjaga diri dan kehormatannya, melayani suami hingga keluarganya menjadi keluarga yang sakinah, penuh cinta dan kasih sayang, dan ia mengasuh anak-anaknya hingga tumbuh menjadi anak-anak yang berbakti dan berguna bagi masyarakatnya, ataukah seorang wanita yang sibuk mengejar karier di kantor bersaing dengan para lelaki, bercampur baur dengan mereka, sementara suami dan anak-anaknya ia serahkan pengurusannya kepada orang lain? Manakah yang lebih merasakan ketenteraman dan ketenangan?

Hendaklah dipahami oleh para wanita bahwa pekerjaan berkhidmat pada keluarga merupakan satu ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Pekerjaan di dalam rumahnya bukanlah semata-mata gerak tubuhnya, namun pekerjaan itu memiliki ruh yang bisa dirasakan oleh orang yang mengerti tujuan kehidupan dan rahasia terwujudnya insan. (Daurul Mar’ah, hlm. 3)

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pernah bersabda,

إِذَاصَلَّتِالْمَرْأَةُخَمْسَهَاوَصَامَتْشَهْرَهَاوَحَفِظَتْفَرْجَهَاوَأَطَاعَتْبَعْلَهَادَخَلَتْمِنْأَيِّأَبْوَابِالْجَنَّةِشَاءَتْ

Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, ia menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya maka ia akan masuk surga dari pintu surga mana saja ia inginkan.” (HR. Ahmad, 1/191. Dalam Adabuz Zifaf, hlm. 182, asy-Syaikh al-Albani berkata, “Hadits ini hasan atau sahih, memiliki banyak jalan.”)

Surga sebagai tempat yang sarat dengan kenikmatan yang kekal abadi dapat dimasuki seorang wanita yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, menjaga kehormatan dirinya, dan taat kepada suaminya. Tentunya semua ini dilakukan oleh seorang wanita di dalam rumahnya.

 

Pekerjaan Wanita di Dalam Rumah

Beberapa pekerjaan yang bisa dilakukan wanita di dalam rumahnya, seperti:

Pertama: ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Ketika Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Ummahatul Mukminin untuk berdiam di rumah mereka, Allah subhanahu wa ta’ala gandengkan perintah tersebut dengan perintah beribadah.

وَقَرۡنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجۡنَ تَبَرُّجَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ٱلۡأُولَىٰۖ وَأَقِمۡنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ

“Dan tetaplah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliah yang terdahulu, tegaklah shalat, tunaikanlah zakat, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Ahzab: 33)

Dengan menegakkan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala ini, akan sangat membantu seorang wanita untuk melaksanakan perannya dalam rumah tangga. Dengan ia melaksanakan ibadah disertai kekhusyukan dan ketenangan secara total akan memberi dampak positif kepada orang-orang yang ada di dalam rumahnya, baik itu anak-anaknya ataupun selain mereka.

Kedua: Wanita berperan memberikan sakan (ketenangan dan ketenteraman) bagi suami dan juga bagi rumahnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan (istri) dari diri-diri kalian agar kalian merasakan ketenangan padanya dan Dia menjadikan di antara kalian mawaddah dan rahmah…” (ar-Rum: 21)

Seorang wanita tidak bisa menjadi sakan bagi suaminya sampai dia memahami hak dan kedudukan suami, kemudian ia melaksanakan hak-hak tersebut dalam rangka taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan penuh kesenangan dan keridhaan.

Seorang wanita perlu mengetahui tentang besarnya hak suami terhadapnya sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkanseseorang untuk sujud kepada oranglain niscaya aku perintahkan seorangistri untuk sujud kepada suami.” (HR.Ahmad 4/381. Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5295 dan Irwaul Ghalil no. 1998)

Ketika suaminya telah meninggal pun, ia diperintah untuk menahan dirinya dari berhias (ber-ihdad[3]) selama 4 bulan 10 hari.

لاَيَحِلُّمِالْرَأَةٍتُؤْمِنُبِاللهِوَالْيَوْمِاْلآخِرِأَنْتُحِدَّعَلَىالْمَيِّتِفَوْقَثَلاَثٍإِلاَّعَلَىزَوْجٍفَإِنَّهَاتُحِدُّأَرْبَعَةَأَشْهُرٍوَعَشْرًا

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’aladan hari akhir untuk berihdad atas mayit lebih dari tiga hari, kecuali bila yang meninggal itu adalah suaminya maka ia berihdad selama 4 bulan 10 hari.” (HR. Muslim no. 1486)

Seorang wanita bisa menjadi sakan bagi rumahnya bila ia menegakkan beberapa hal berikut ini:

  1. Taat secara sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Taat ini merupakan asas ketenangan karena suami sebagai qawwam (pemimpin) tidak akan bisa melaksanakan kepemimpinannya tanpa ketaatan. Ketaatan kepada suami ini lebih didahulukan daripada melakukan ibadah-ibadah sunnah. Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

لاَيِحِلُّلِلْمَرْأَةِأَنْتَصُوْمَوَزَوْجُهَاشَاهِدٌإِلاَّبِإِذْنِهِ

Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapatkan izin suaminya.” (HR. al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

Al-Imam an-Nawawit berkata, “Larangan ini menunjukkan keharaman, demikian diterangkan dengan jelas oleh orang-orang dalam mazhab kami.” (Syarah Shahih Muslim, 7/115). Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama sebagaimana disebutkan dalam FathulBari (9/356).

Al-Imam an-Nawawi juga memberikan alasan dalam hal ini: “Sebabnya adalah suami memiliki hak untuk istimta’ (bermesraan) dengan si istri sepanjang hari, haknya dalam hal ini wajib untuk segera ditunaikan sehingga jangan sampai hak ini luput ditunaikan karena si istri sedang melakukan ibadah sunnah ataupun ibadah yang wajib namun dapat ditunda.” (Syarah Shahih Muslim, 7/115)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah, karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.” (Fathul Bari, 9/356)

Wajib bagi wanita/istri untuk taat kepada suaminya dalam perkara yang ia perintahkan dalam batasan kemampuannya, karena hal ini termasuk keutamaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada kaum lelaki di atas kaum wanita sebagaimana dalam ayat,

          ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ

Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (an-Nisa: 34)

dan ayat,

وَلِلرِّجَالِ عَلَيۡهِنَّ دَرَجَةٞۗ

Dan bagi kaum lelaki kedudukannya satu derajat di atas kaum wanita.” (al-Baqarah: 228)

Hadits-hadits sahih yang ada memperkuat makna ini dan menjelaskan dengan terang apa yang akan diperoleh wanita dari kebaikan ataupun kejelekan bila ia menaati suaminya atau mendurhakainya, demikian dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Adabuz Zifaf, hlm. 175—176.

  1. Mengerjakan pekerjaan rumah yang dibutuhkan dalam kehidupan keluarga seperti memasak, menjaga kebersihan, mencuci, dan semisalnya.

Seorang wanita semestinya melakukan tugas-tugas di atas dengan penuh kerelaan dan kelapangan hati dan disadari hal itu merupakan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Telah lewat teladan dari para sahabat dalam masalah ini, mungkin kita masih ingat bagaimana kisah Fathimah bintu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam yang menggiling gandum sendiri untuk membuat kue hingga membekaskan kapalan pada kedua tangannya. Ketika akhirnya ia meminta pembantu kepada ayahnya untuk meringankan pekerjaannya maka sang ayah yang mulia memberikan yang lebih baik bagi putri terkasih.

أَلاَأَدُلُّكُمَاعَلَىخَيْرِمِمَّاسَأَلْتُمَانِي؟إِذَاأَخَذْتُمَامَضَاجِعَكُمَافَكَبّرِاَاللهَأَرْبَعًاوَثَلاثِيْنَ،وَاحْمَدَاثَلاثًاوَثَلاثِيْنَ،وَسَبِّحَاثَلاثًاوَثلاثِيْنَ،فَإِنَّذَلِكَخَيْرٌلَكُمَامِمَّاسَأَلْتُمَاهُ

“Maukah aku tunjukkan yang lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu? Bila kalian berdua hendak berbaring di tempat tidur kalian, bertakbirlah 34 kali, bertahmidlah 33 kali dan bertasbihlah 34 kali. Maka yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian minta.” (HR.al-Bukhari no. 3113 dan Muslim no. 2727)

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam sama sekali tidak mengingkari khidmat yang dilakukan putrinya dengan penuh kepayahan, padahal putrinya adalah wanita yang utama dan mulia, bahkan beliau mengakui khidmat tersebut dan memberi hiburan kepada putrinya dengan perkara ibadah yang lebih baik daripada seorang pembantu.

  1. Menjaga rahasia suami dan kehormatannya sehingga menumbuhkan secara penuh kepercayaan suami terhadapnya.
  2. Menjaga harta suami.

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

خَيْرُنِسَاءِرَكِبْنَاْلإِبِلَصَالِحُنِسَاءِفُرَيْشٍ: أَحْنَاهُعَلَىوَلَدٍفِيصَغِيْرِهِ،وَأَرْعَاهُعَلَىزَوْجٍفِيذَاتِيَدِهِ

“Sebaik-baik wanita penunggang unta, wanita Quraisy yang baik, adalah yang sangat penyayang terhadap anaknya ketika kecilnya dan sangat menjaga suami dalam apa yang ada di tangannya.” (HR.al-Bukhari no. 5082 dan Muslim no. 2527).

Maksud sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam: adalah wanita itu sangat menjaga dan memelihara harta suami dengan berbuat amanah dan tidak boros dalam membelanjakannya. (FathulBari, 9/152)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini menunjukkan keutamaan sifat kasih sayang (dari seorang ibu), tarbiyah yang baik, mengurusi anak-anak, menjaga harta suami, mengurusi dan mengaturnya dengan cara yang baik.” (Fathul Bari, 9/152)

  1. Bergaul dengan suami dengan cara yang baik.

Dengan memaafkan kesalahan suami bila ia bersalah, membuatnya ridha ketika ia marah, menunjukkan rasa cinta kepadanya dan penghargaan, mengucapkan kata-kata yang baik dan wajah yang selalu penuh senyuman. Juga memerhatikan makanan, minuman, dan pakaian suami.

  1. Mengatur waktu sehingga semua pekerjaan tertunaikan pada waktunya serta menjaga kebersihan dan keteraturan rumah sehingga selalu tampak rapi hingga menyenangkan pandangan suami dan membuat anak-anak pun betah.
  2. Jujur terhadap suami dalam segala sesuatu, khususnya ketika ada sesuatu yang terjadi sementara suami berada di luar rumah. Jauhi sifat dusta karena hal ini akan menghilangkan kepercayaan suami.

 

Ketiga: mendidik anak-anak (tarbiyatul aulad)

Tugas ini termasuk tugas terpenting seorang wanita di dalam rumahnya karena dengan memerhatikan pendidikan anak-anaknya berarti ia mempersiapkan sebuah generasi yang baik dan diridhai oleh Rabbul Alamin. Tanggung jawab ini ia tunaikan bersama-sama dengan suaminya karena setiap mereka adalah mas’ul yang akan ditanya tentang tanggung jawabnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At-Tahrim:6)

 

Keempat: mengerjakan pekerjaan lain di dalam rumah bila ada waktu senggang dan kesempatan seperti menjahit pakaian untuk keluarga dan selainnya. Dengan cara ini ia bisa berhemat untuk keluarganya di samping membantu suami menambah penghasilan keluarga.

Apa yang disebutkan di atas dari tugas seorang wanita merupakan tugas yang berat namun akan bisa ditunaikan dengan baik oleh seorang wanita yang salihah yang membekali dirinya dengan ilmu agama, ditambah bekal pengetahuan yang diperlukan untuk mendukung tugasnya di dalam rumah. Adapun bila wanita itu tidak salihah, jahil lagi bodoh maka di tangannya akan tersia-siakan tugas yang mulia tersebut.

Wallahu ta’ala a’lam

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah


[1] Adapun penyebutan bahwa nama ayah kedua wanita tersebut adalah Nabi Syu’aib q, hal ini tidak tsabit (tidak benar). Hal ini diterangkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya (3/467), menukil perkataan Ibnu Jarir rahimahullah, “Yang benar bahwa hal seperti ini tidak dapat diketahui kecuali dengan adanya kabar/atsar, dan tidak atsar (berita) yang dapat menjadi pegangan dalam hal ini.” (ed)

[2] Yaitu wanita harus tinggal dalam rumahnya dan melakukan pekerjaan di dalam rumah.

[3] Meninggalkan berhias karena berkabung.

http://asysyariah.com

Bagikan Komentarmu