💐📝KISAH PERNIKAHAN IBNU ABI WADA’AH DENGAN PUTRI SAID BIN AL-MUSAYYIB

Said bin al-Musayyib disebut oleh sebagian Ulama sebagai Tabi’in yang paling utama dalam keilmuan. Beliau adalah murid dari sekian banyak Sahabat Nabi. Bahkan, istri beliau adalah putri Abu Hurairah. Ya, Said bin al-Musayyib adalah menantu Abu Hurairah.

Beliau termasuk salah satu dari 7 fuqaha’ (ahli fiqh) Madinah yang telah memiliki kelayakan berfatwa. Bahkan, rekomendasi kelayakan berfatwa itu berasal dari Sahabat Nabi. Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu menyatakan:

هُوَ وَاللهِ أَحَدُ الْمُفْتِيْن

Dia (Said bin al-Musayyib) demi Allah adalah salah satu orang yang layak berfatwa (Siyaar A’laamin Nubalaa’)

Bahkan Ibnu Umar juga dikabarkan pernah bertanya kepada Said bin al-Musayyib tentang kebijakan yang pernah diputuskan Umar. Malik menyatakan:

وَبَلَغَنِي أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يُرْسِلُ إِلَى سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ يَسْأَلُهُ عَنْ قَضَايَا عُمَرَ وَأَحْكَامُهُ

Dan telah sampai berita kepadaku bahwasanya Ibnu Umar mengirim surat pada Said bin al-Musayyib bertanya tentang kebijakan dan hukum yang diputuskan Umar (al-Bidayah wan Nihaayah (9/118)).

Khalifah pada waktu itu, yaitu Abdul Malik bin Marwan sangat ingin menikahkan putranya, al-Walid dengan putri Said bin al-Musayyib. Namun Said menolaknya. Beliau justru menikahkan putrinya tersebut dengan seorang penuntut ilmu miskin, Ibnu Abi Wadaa’ah yang sering duduk mengikuti kajian ilmu di majelis Said, dengan mahar hanya 2 atau 3 dirham saja. Bahkan, Said menikahkan putrinya saat Ibnu Abi Wadaa’ah menjadi duda yang baru saja ditinggal mati istrinya.

Ibnu Abi Wada’ah (Katsir bin al-Muththolib bin Abi Wadaa’ah) mengisahkan:

Saya biasa duduk di majelis ilmu Said bin al-Musayyib. Namun beberapa hari ini saya tidak bisa menghadirinya. Ketika saya kembali hadir, Said bertanya: Ke mana saja engkau selama ini? Saya berkata: Istri saya meninggal dunia, sehingga saya tersibukkan dengan hal itu. Said menyatakan: Mengapa engkau tidak mengkhabari kami, sehingga kami bisa hadir (membantumu).

Ketika saya akan berdiri, Said bertanya: Apakah engkau akan menikah lagi? Saya berkata: Semoga Allah merahmati anda, siapakah yang mau menikahkan putrinya dengan saya. Saya tidak punya (harta) kecuali 2 atau 3 dirham saja. Said berkata: Akulah orangnya (yang mau menikahkan putrinya dengan engkau). Saya berkata: Apakah benar demikian? Said menyatakan: Ya.

Kemudian Said memuji Allah Ta’ala dan bersholawat kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam, kemudian menikahkan saya (dengan putrinya) dengan (mahar) 2 dirham atau 3 dirham.
Saya pun berdiri dan tidak tahu apa yang akan saya lakukan karena saking gembiranya. Saya pulang ke rumah saya sambil berpikir keras, kepada siapa saya akan meminjam uang.

Saya kemudian sholat Maghrib dan pulang kembali ke rumah untuk beristirahat. Saya sendirian berbuka puasa dengan roti dan minyak zaitun. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu. Saya pun bertanya: Siapa? Orang itu menjawab: Said. Yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah semua orang yang bernama Said, kecuali Said bin al-Musayyib, karena selama 40 tahun beliau tidak terlihat kecuali antara rumah beliau dengan masjid. Saya pun bangkit dan keluar. Ternyata itu adalah Said bin al-Musayyib.

Saya pun berkata: Duhai semestinya saya yang mendatangi anda (jika anda ada keperluan kepada saya). Said berkata: Engkau lebih berhak untuk didatangi. Saya berkata: Apa yang anda perintahkan pada saya? Said berkata: Engkau sebelumnya lelaki yang tidak menikah (duda) kemudian engkau sekarang telah menikah. Aku tidak suka jika engkau melewati malam ini sendirian. Ini istrimu (aku antarkan).

Putri Said itu berdiri di belakang beliau kemudian Said memegang tangannya untuk memasukkannya. Pintu kemudian ditutup lagi. Wanita itu terjatuh karena perasaan malunya. Aku pun mengunci pintu. Kemudian aku arahkan ia duduk di tempat yang lebih depan. Aku pindahkan piring berisi minyak zaitun dan roti ke bayangan lampu agar ia tak melihatnya.

Kemudian aku naik ke atas rumahku, memanggil para tetangga. Mereka datang ke tempatku dan berkata: Ada apa? Saya berkata: Said bin al-Musayyib telah menikahkan putrinya dengan aku hari ini. Saat ini putrinya itu telah ada di sini.
Mereka berkata: Said bin al-Musayyab menikahkan engkau? Saya berkata: Ya. Ia sekarang di rumahku. Mereka pun turun menemuinya, dan menyampaikan pada ibu saya.

Ibu saya datang dan berkata: Wajahku haram melihat wajahmu jika engkau menyentuh dia sebelum aku rias selama 3 hari. Selama tiga hari kemudian aku pun masuk menyendiri bersamanya. Ternyata ia adalah termasuk wanita tercantik, paling hafal dengan Kitab Allah, paling tahu tentang sunnah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, paling tahu tentang hak suami.

Selama sebulan, Said tidak datang menemui saya dan saya pun tidak ke tempat beliau. Setelah kurang lebih sebulan, saya mendatangi Said di halaqoh (majelis) ilmunya. Saya mengucapkan salam kepada beliau dan beliau menjawab salamku.

Beliau tidak berbicara kepada saya hingga orang-orang di majelis sudah pergi. Ketika tidak tersisa kecuali saya (yang bersama beliau), beliau berkata: Bagaimana keadaan orang itu (istrimu)? Saya berkata: Baik, wahai Abu Muhammad, dia dalam keadaan yang disukai oleh teman dan dibenci oleh musuh. Said berkata: Jika diperlukan, silakan menggunakan tongkat. Aku pun pulang ke rumahku, ternyata Said mengirimkan uang sebanyak 20 ribu dirham.

Abdullah bin Sulaiman berkata bahwa putri Said bin al-Musayyib itu sebelumnya telah dipinang oleh Abdul Malik bin Marwan untuk putranya, yaitu al-Walid bin Abdil Malik, ketika Abdul Malik menjadi khalifah, tapi Said menolaknya (riwayat Abu Nuaim dalam Hilyatul Awliyaa’ (2/167-168)).

✅Beberapa Pelajaran Berharga dari Kisah yang Disampaikan Ibnu Abi Wadaa’ah

Pertama: Said bin al-Musayyib tidak silau dan tamak dengan harta dunia. Beliau menolak pinangan khalifah karena khawatir anaknya terfitnah gemerlap dunia.

Kedua: Parameter utama dalam mencarikan suami bagi putri kita adalah kebaikan Dien dan akhlaknya. Terlebih lagi seseorang penuntut ilmu yang sering hadir di majelis ilmu.
Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِينَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai akhlak dan agamanya, nikahkanlah dia. Jika tidak demikian, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah, sesuai lafadz Ibnu Majah, dari Abu Hurairah, dihasankan Syaikh al-Albaniy)

Ketiga: Begitu mudahnya proses akad nikah yang dilakukan di masa para Ulama Salaf. Cukup wali menikahkan dengan melakukan akad terhadap pengantin pria dengan mahar yang sederhana, dua dirham saja. Pada saat akad nikah tersebut, pengantin wanita tidak harus dihadirkan. Sebagian referensi menyebutkan bahwa Said memanggil orang-orang yang ada di masjid sebagai saksi. Wallaahu A’lam.

Keempat: Said bin al-Musayyib berhasil dalam mendidik putrinya menjadi seorang yang hafal alQuran, paham sunnah Rasul, dan sangat paham hak suami, sebagaimana pengakuan dari suaminya.

Kelima: Setelah menyerahkan putrinya pada sang suami, Said tidak mencampuri urusan putrinya dalam berumah tangga. Selama sebulan mereka tidak mendatangi Said, dan Said pun tidak menjenguk mereka. Saat pertama kali ketemu, Said cuma bertanya sedikit tentang anaknya. Tidak lebih. Bahkan Said mempersilakan, jika suatu saat diperlukan, “gunakanlah tongkat”. Tentunya dengan ketentuan yang tidak melanggar syariat. Tidak cukup sampai di situ, Said juga mengirimkan dana bantuan sejumlah 20 ribu dirham untuk membantu keperluan mereka. Itu menunjukkan bahwa beliau adalah seorang ayah sekaligus mertua yang baik.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al I’tishom