🦠 Kita Harus Memahami Situasi Wabah Covid-19

Agar Kita Tidak Abai dan Lalai

(dari hati ke hati)

untuk kalangan sendiri

🧾 Bagian 1

📝 Melalui tulisan ini, penulis ingin mengetuk hati saudara-saudaraku semua, agar kita sama-sama menyadari apa dan bagaimana situasi pandemi saat ini.

***

📟 Menyikapi situasi Pandemi Covid-19, memang kita tidak boleh panik. Namun tidak boleh pula teledor, meremehkan atau abai serta menganggap enteng bahaya Covid-19. Apalagi disertai dengan sikap semaunya sendiri dan ngeyel. Akibatnya, dia tidak hanya menzhalimi diri sendiri, tapi menzhalimi anak isterinya, lingkungannya, masyarakatnya, termasuk dokter dan perawat yang merawatnya. Prinsip Islam menyatakan, sebagaimana dalam hadits:

« لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ »

La Dharar wa La Dhirar (kamu jangan merugikan orang lain dan dirimu pun jangan dirugikan)

🍊 Penyampaian ini bukan bermaksud membuat suasana gawat atau tegang. Namun menyikapi penyakit menular memang ada peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

« وَفِرَّ مِنَ المَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ »

“Larilah kamu dari orang yang sakit kusta seperti larimu dari singa.”

(HR. al-Bukhari 5707)

Tentu orang yang mendengar ini, pasti tegang. Namun peringatan ini sengaja disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam agar umat waspada.

🏷 Demikian tuntunan Islam dalam menyikapi penyakit menular dari seorang pribadi, dan tidak menyebar luas.

🛑 Maka terlebih lagi menyikap pandemi (wabah internasional) Covid-19, yang:

– Menular,
– Mematikan,
– Menyebar dengan cepat dan luas.

‼ Maka perlu kewaspadaan wahai saudaraku. Waspada… waspada. Jangan mengangap remeh, jangan abai dan lalai.

🖇️ Tulisan ini masih bersambung. Ini bagian pertama. Sebelum melanjutkan pada bagian berikut, mohon diulangi lagi membaca bagian pertama ini agar Anda benar-benar paham.

✉️ Sekali lagi, bacalah tulisan di atas secara berulang. Insyaallah nanti kita akan lanjut pada bagian-bagian berikutnya.

bersambung, Insyaallah

☎ dipublikasikan oleh:

✅ Humas Satgas Tanggap Covid-19 Ma’had Minhajul Atsar Jember

🦠 Kita Harus Memahami Situasi Wabah Covid-19

Agar Kita Tidak Abai dan Lalai
(dari hati ke hati)

untuk kalangan sendiri

🧾 Bagian 2

✅ Berikut tulisan kedua. Sengaja penulis menyajikan tulisan ini secara bertahap, agar memudahkan saudara-saudara mengikuti isi tulisan. Karena melalui tulisan ini, penulis ingin mengetuk hati saudara-saudara sekalian. Barakallah fikum.

***

🍏 Sekali lagi, penulis berharap saudara-saudaraku sekalian telah membaca dengan baik tulisan bagian pertama.

🥬 Jika sudah dipahami dengan baik, pada tulisan ke-2 penulis mengajak mari kita lihat kenyataan berikut:

🌍 Situasi Dunia

Corona telah menyebar ke lebih dari 200 negara! Hingga Selasa (14/4) lebih dari 1,9 juta orang di seluruh dunia positif Corona. 119 ribu orang lebih meninggal.

⏹️ Amerika Serikat merupakan episentrum Corona dunia tertinggi saat ini. Total 560 ribu kasus, 22 ribu meninggal. Lonjakan kasus terbesar terjadi pada 4 April, yaitu 34 ribu kasus baru dalam sehari. Kendati demikian AS belum sampai pada puncak. Karena diperkirakan puncaknya pada Mei mendatang.

Satu sumber menyebutkan bahwa virus Corona di AS menyebabkan 1.970 kematian per hari. Sebagai perbandingan, penyakit jantung merenggut nyawa 1.774 orang per hari, kanker merenggut 1.641 nyawa per hari di AS.

⏹️ Spanyol menempati rangking ke-2 dunia, dengan 163.027 kasus, korban meninggal mencapai 16.606 orang.

⏹️ Italia merupakan negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di Eropa setelah Spanyol. Hingga Senin (13/4) Italia memiliki 156.363 kasus, total kematian 19.899. Tertinggi ketiga setelah AS dan Spanyol. Pada 27 Maret tercatat 969 orang positif Corona meninggal dalam tempo sehari!!

⏹️ Berikutnya Prancis, dengan 129.654 kasus, 13.832 orang meninggal.

🛰️ Ini semua menunjukkan Corona telah membuat negara-negara maju kelabakan.
Padahal, sekali lagi, itu adalah negara maju.

Di negara-negara maju itu tentu segala upaya pencegahan telah dikerahkan, baik itu protokol-protokol kesehatan, aturan kedisiplinan, dll.

Demikian pula rata-rata penduduk di negara-negara maju itu relatif berpendidikan lebih maju. Fasilitas kesehatan, teknologi kesehatan, tenaga kesehatan sudah sangat maju dan memadai. Bahkan beberapa di antara negara tersebut telah me- lockdown negaranya.

📕 Namun demikianlah, dengan kehendak Allah Yang Maha Perkasa, itu semua terjadi menimpa negara-negara maju itu.

🛍️ Maka kondisi ini semoga bisa menjadi bahan renungan bagi kita. Bahwa betapa dampak Covid-19 benar-benar sangat serius. Ancamannya benar-benar nyata.

📑 Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

bersambung, Insyaallah
Nantikan bagian berikutnya…

dipublikasikan oleh:

Humas Satgas Tanggap Covid-19 Ma’had Minhajul Atsar Jember

🦠 Kita Harus Memahami Situasi Wabah Covid-19

Agar Kita Tidak Abai dan Lalai

(dari hati ke hati)

untuk kalangan sendiri

🧾 Bagian 3

Sebelum melanjutkan tulisan bagian ke-3 ini, Anda mesti ingat baik-baik dua tulisan sebelumnya. Jika sudah,
mari kita lanjutkan pada tulisan ke-3 … inilah tulisan ke-3 untuk mengetuk hati Anda.

****

🇮🇩 Pemerintah Indonesia

1️⃣ Qadarallah wa Syaa fa’al Virus Corona juga menginfeksi negeri kita, Indonesia. 2 Maret 2020 yang lalu, Pemerintah RI mengumumkan pertama kali kasus positif Corona di Indonesia. Hari demi hari, sebagaimana telah dialami negara-negara lain, kasus terus meningkat.

2️⃣ Alhamdulillah Pemerintah RI telah menempuh langkah konkret untuk melakukan pencegahan Covid-19, antara lain berupa:

– Himbauan: PHBS, CTPS, Social Distancing, Physical Distancing, #di rumah saja.

– Menerbitkan protokol-protokol resmi

– Anggaran dana yang besar untuk penanganan Covid-19. Sebagai contoh, yang paling akhir 13 April kemarin Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalihkan dana pembangunan infrastruktur Rp 36,19 triliun untuk membantu menangani Pandemi Covid-19.

– Kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar)

– Pemprov dan Pemda melarang warganya mudik.

– Beberapa daerah sampai menutup wilayahnya (Lockdown Local)

3️⃣ Pemerintah meminta MUI berfatwa dalam masalah-masalah terkait kondisi pandemi ini, antara lain:

– pelaksanaan ibadah shalat berjamaah dan shalat jumat dalam sikon pandemi,

– perawatan Jenazah penderita Covid-19,

– tata cara shalat dan bersuci bagi tenaga medis.
Hal ini menunjukkan masalah ini benar-benar serius.

4️⃣ Pemerintah melalui Polri melakukan aksi nyata mengawal pelaksanaan kebijakan-kebijakan dan imbauan-imbauan pemerintah di lapangan, antara lain:

– pembubaran acara-acara yang menyebabkan kumpul orang banyak,

– membubarkan kumpul-kumpul anak muda, dll.

– Memberikan sanksi pidana bagi yang melanggar.

Dalam keadaan para aparat kepolisian dilecehkan, dihina, sampai diludahi ketika melaksanakan upaya tersebut.
Menunjukkan kondisi masyarakat sangat banyak yang acuh dan abai, alias ngeyel.

🥏 Saudara pembaca….
Dari penjelasan singkat di atas, setidaknya kita bisa mengambil pelajaran:

• Pemerintah Indonesia sangat serius memberikan perhatian dan arahan untuk pencegahan dan penanganan Covid-19.

• Betapa banyak masyarakat yang abai dan lalai, tak mau peduli, tak mau waspada, dan menganggap enteng bahaya Covid-19.

🍒 Kita sebagai insan beriman, yang mengerti bagaimana imbauan dan petunjuk dalil-dalil agama terkait penyakit menular dan wabah, serta mengerti pula kewajiban mentaati pemerintah, tak sepantasnya larut seperti sikap kebanyakan orang.
Semestinya kita bisa lebih sadar dan waspada, lebih tertib dan terarah.

⛵ Sekali lagi kami ketuk hati Anda wahai para pembaca, saudara-saudara seiman.

Sampai di sini dulu tulisan bagian ke-3 ini. Silakan diulang-ulang lagi membacanya. Sambil menunggu bagian berikutnya.

bersambung Insyaallah

dipublikasikan oleh:

Humas Satgas Tanggap Covid-19 Ma’had Minhajul Atsar Jember

🦠 Kita Harus Memahami Situasi Wabah Covid-19

Agar Kita Tidak Abai dan Lalai

(dari hati ke hati)

untuk kalangan sendiri

🧾 Bagian 4

Saat ini kita akan masuk satu sub judul paling ‘menarik’ dari rangkaian tulisan ini. Semoga saudara-saudara pembaca bisa mengikutinya dengan baik.
Karena panjang, penulis terpaksa memecahnya menjadi beberapa bagian lagi dalam penyajiannya. Harapannya tulisan ini tetap ringan dibaca.

Sekali lagi, rangkaian tulisan ini adalah **ajakan dari hati ke hati**, semoga benar-benar bisa mengetuk hati saudara-saudaraku.

**

Tabiat Covid-19 (1)

1️⃣ Virus Corona musuh yang tak terlihat. Sehingga membuat kita tidak bisa mendeteksi kehadirannya. Ukuran virus Corona hanyalah 0,12 micron (mikrometer), atau 1/1.200 milimeter. Ibaratnya 1 butir debu seujung kuku dipotong menjadi 1.200 potongan.
Virus Corona ini tergolong benda mati. Namun dia bisa berkembang dan menular jika ada inangnya. Siapa inangnya? Salah satunya adalah manusia.

2️⃣ Penyebaran Covid-19 sangat pesat, luas, dan mematikan. Dalam rilis terbarunya, pada Selasa 14/4, WHO menyatakan bahwa Virus Corona sepuluh kali lebih mematikan ketimbang pandemi Flu Babi 2009! Covid-19 saat ini telah menyerang lebih dari 200 negara di dunia.

3️⃣ Orang yang terinfeksi virus Corona tidak mesti menjadi orang sakit atau menampakkan gejala sakit, namun cukup dengan itu tubuhnya menjadi media penularan virus. Orang seperti ini disebut carier. Dengan kata lain dia telah berpotensi membahayakan orang lain, termasuk keluarganya. Sehingga dia lebih berbahaya dari pada orang-orang yang tampak gejalanya.

4️⃣ Banyak ODP, PDP, yang bisa jadi tidak terdeteksi dan tidak terlaporkan. Sampai-sampai salah seorang gubernur mengatakan kepada Wapres, “Saya Yakin Kasus Corona di Indonesia Sebenarnya Berlipat-lipat”, dan ucapan ini berdasarkan keterangan ahli epidemiologi.

5️⃣ Ibarat perang, orang yang carier dan ODP yang tidak terlaporkan ini adalah ‘lawan yang berpenampilan teman’. Sehingga membuat kita merasa aman dan tidak waspada. Bagaimana tidak, karena dia adalah musuh yang telah menyamar menjadi teman; bertamu, bertandang, bertemu muka, berdekatan. Saat itulah dia akan mengubah setiap orang menjadi bagian dari dirinya, yakni menjadi PDP, ODP, dan OTG!! biidznillah

6️⃣ Bagaimana jika yang berhasil diubah menjadi PDP, ODP atau OTG tanpa sadar, akibat kontak jarak dekat tanpa sengaja adalah diri kita. Misalnya kita interaksi ketika di pasar atau tempat belanja. Atau ketika naik motor tiba-tiba ketemu seseorang, sehingga kita berhenti sebentar. Orang tersebut ternyata adalah “lawan yang sudah berpenampilan teman” alias pembawa virus. Terjadilah kontak jarak dekat. Akibat kontak jarak dekat yang terjadi hanya sebentar itu, biidznillah telah mengubah kita menjadi bagian dari lawan tersebut!!
Kemudian kita pulang ke rumah, disambut anak-anak, dipeluk, demikian pula disambut Isteri di rumah… Apa jadinya keluarga kita? Allahul Musta’an.

🥏 Ikuti lanjutannya…

bersambung Insyaallah

dipublikasikan oleh:

Humas Satgas Tanggap Covid-19 Ma’had Minhajul Atsar Jember

🦠 Kita Harus Memahami Situasi Wabah Covid-19

Agar Kita Tidak Abai dan Lalai

(dari hati ke hati)
untuk kalangan sendiri

🧾 Bagian 5

Tulisan ke-5 masih melanjutkan sub judul Tabiat Covid-19… Pahami baik-baik tulisan sebelumnya, supaya Anda bisa memahaminya dengan runut.
Mari kita lanjutkan

*******

Tabiat Covid-19 (2)

7️⃣ Keumuman masyarakat abai dan tidak ada kejujuran, sampai-sampai “tega” mengorbankan dokter dan para perawat yang melakukan tindakan pemeriksaan kesehatan atau tindakan operasi terhadapnya.

Contoh 1:
Ada seorang ibu rumah tangga dikarantina mandiri, sambil menunggu hasil tes. Dia setiap hari dipantau oleh dinas kesehatan melalui telepon, dan selalu diingatkan tidak boleh keluar rumah. Namun ternyata dia tidak jujur. Ternyata beberapa kali kedapatan beraktivitas keluar rumah. Bahkan ikut kumbokarnan (persiapan pernikahan). Belakangan hasil tesnya adalah dia positif Corona!! Padahal dia sudah “terlanjur” berinteraksi dengan sekian banyak orang.

Contoh 2:
Seorang dokter, terpaksa harus menangani pasien kecelakaan. Kondisi pasien harus segera dioperasi, jika tidak akan membahayakan nyawanya. Maka sang dokter melakukan pengecekan, dan memastikan kepada keluarga tentang riwayat perjalanan dan kontak si pasien. Ketika proses pengecekan itu, pihak keluarga tidak jujur. Tidak mau menceritakan apa adanya. Walhasil, operasi pun dilaksanakan.
Setelah semuanya selesai, diketahui bahwa ternyata sang pasien adalah positif Corona!! Tega sekali, mengorbankan para dokter dan perawat yang bertugas menangani proses operasi tersebut.

Contoh 3:
Seorang pasien memeriksakan diri kepada dokter spesialis paru di sebuah rumah sakit, dengan keluhan ada sesak di dadanya. Ketika ditanya tentang riwayat perjalanan, menyatakan tidak pernah ke mana-mana. Setelah diperiksa oleh sang dokter, hasilnya dokter menyatakan ada kelainan pada jantungnya.
Ternyata belakangan diketahui, bahwa si pasien adalah seorang yang pekerjaannya mengharuskan dia sering bolak-balik ke kota zona merah!!

Contoh 4:
Kasus meninggalnya seorang laki-laki berusia 48 tahun, setelah dilakukan pemakaman oleh warga dan dilakukan acara tahlilan selama tujuh hari, belakangan diketahui penyakit yang diderita bukan serangan jantung melainkan positif Covid-19.
Dari hasil tracing sementara yang dilakukan, sedikitnya ada 25 warga yang mengikuti acara tahlilan tersebut. Saat ini akan dilakukan tes swab terhadap pihak keluarga. Bila tes yang dilakukan menunjukkan positif corona, maka secara otomatis warga sekitar akan naik statusnya menjadi orang dalam pemantauan (ODP) dan interaksi mereka di kampung akan dibatasi.

Contoh 5:

Seorang ibu rumah tangga, ternyata positif Corona. Padahal ibu rumah tangga ini tidak punya interaksi luas. Seringnya di rumah. Interaksinya hanya ketika belanja, interaksi dengan tukang sayur.

Contoh 6:

4 pasien positif Corona di salah satu kabupaten, kondisinya sehat dan tidak ada keluhan-keluhan signifikan, serta masih beraktifitas seperti biasa.

Contoh 7:

Salah satu kabupaten selama ini masih bertahan berstatus masih hijau. Tanpa disangka, ada seorang ibu hamil warga kabupaten tersebut baru mudik dari Jakarta. Ibu hamil itu dinyatakan suspect Covid-19, dan menunggu hasil tes swab. Saat ini ditangani sesuai SOP Covid-19.
Ibu hamil ini diketahui setelah ibu kandungnya (yakni nenek calon bayi) kembali ke Jakarta sepekan lalu. Setelah itu sang ibu hamil itu menunjukkan gejala tidak enak badan. Badan panas dan kulit tangan mengeluarkan bintik merah. Awalnya dibawa ke bidan desa setempat, kemudian diminta dirujuk ke RSUD setempat, dan dilakukan rapid tes kepada keluarga dan si ibu. (perhatikan dia sudah berinteraksi dengan berapa orang). Hasil rapid tes menunjukkan semua negatif, kecuali sang ibu. Maka dilakukan tes lanjutan, tes PCR. Kalau nantinya hasilnya positif, maka nenek calon bayi itu juga akan dilaporkan ke Dinkes Jakarta, karena telah membawa virus ke kabupaten tersebut.

⬆️ Contoh-contoh di atas, di samping menunjukkan banyak orang yang abai bahkan teledor, sekaligus menunjukk

an kepada kita betapa bahayanya kontak fisik jarak dekat.

💦 Itu semua tidak bisa ditebus dengan “afwan akhi” atau ucapan “iya lupa, gak sengaja.” Atau “Itu kan hanya sebentar,” “gak pa pa, kok. Itu teman dekat saya.”__“orang itu tidak dari mana-mana, kok. Sehari-hari cuma di sini-sini saja, gak jauh, gak dari luar kota.”__

bersambung, Insyaallah

dipublikasikan oleh:

Humas Satgas Tanggap Covid-19 Ma’had Minhajul Atsar Jember

🦠 *Kita Harus Memahami Situasi Wabah Covid-19*
*Agar Kita Tidak Abai dan Lalai*
(dari hati ke hati)
_untuk kalangan sendiri_

🧾 Bagian 6

Pada Tulisan ke-6 ini memuat bagian akhir dari sub judul *Tabiat Covid-19*.

*********

*Tabiat Covid-19* (3)

8️⃣ Fakta, bahwa seorang tenaga medis salafy positif Corona. Sebab dia positif karena dia mengikuti pelatihan TKHI.

Dalam pelatihan itu, para tenaga kesehatan itu sedang pelatihan kesehatan haji, bukan datang untuk merawat pasien atau penderita Covid-19. Interaksinya dalam acara tersebut adalah dengan para nakes. Kegiatannya di ruang tertutup ber-Ac.
– tidak ada masker
– tidak ada _Social Distancing_
Korbannya para nakes, notabene adalah orang-orang yang mengerti kesehatan.
Beberapa hari sebelum dinyatakan positif, sang dokter sudah terlanjur berinteraksi dengan beberapa orang. _Qadarallah wa syaa fa’al_

9️⃣ Ada seorang ibu di salah satu komunitas ponpes salafy, yang meninggal kemudian dimakamkan sesuai prosedur Covid-19. Padahal dia belum dinyatakan postif Covid-19. Namun pihak RS memutuskan untuk jenazahnya diproses secara Covid-19 lantaran ada orang tuanya yang datang dari Jakarta. Padahal orang tua datang sudah sejak lama, lebih dari 1 bulan sebelumnya.

Hal ini menunjukkan:
– Keseriusan pemerintah dalam melakukan tindakan antisipasi.
– Bahaya interaksi/kontak dengan orang yang dari Zona merah. Padahal orang tuanya itu datang sekitar satu bulan setengah yang lalu, kondisi di mana Indonesia saat itu baru mengumumkan 19 orang positif!! Kondisi Jakarta belum sebagai episentrum dengan kondisi sangat merah seperti hari ini.

🔟 Pandemi Covid-19, wabah yang meluas dengan cepat, menular, dan mematikan serta telah memakan korban ribuan nyawa, jangan disikapi dengan _*”Berpikir positif”.*_

_*“Berpikir Positif”*_ yang dimaksud adalah: jangan mengganggap pandemi Corona sebagai peristiwa besar. Jangan takut dengan corona. Jangan terlalu takut untuk keluar beraktivitas seperti biasa dan kontak dengan orang lain. Virus Corona bisa dilawan dengan imunitas tubuh. Ini yang dimaksud dengan _*“Berpikir Positif”.*_ (Sebenarnya lebih tepat disebut sebagai pemikiran/sikap yang salah atau tidak benar).

_*“Berpikir Positif”*_ seperti ini diklaim akan meningkatkan daya tahan tubuh dan bisa menangkal virus. Anjuran ini tidak sepenuhnya benar, dan bahkan membahayakan nyawa banyak orang. Khususnya dalam situasi pandemi yang kesuksesan intervensinya sangat bergantung pada perubahan perilaku manusia secara massal, bersamaan, dan terkoordinasi.
Anjuran _*“Berpikir Positif”*_ dengan harapan agar meningkatkan sistem kekebalan tubuh justru berisiko menimbulkan bias optimisme yang berperan besar memunculkan sikap tidak patuh, tidak tertib, parahnya akan menimbulkan sikap ngeyel!!
Ketika menghadapi ancaman yang ringan (langsung, singkat, dan mudah dikontrol), optimisme atau _*“Berpikir Positif”*_ memang memberikan efek positif pada kekebalan seluler.
Namun bila yang dihadapi adalah ancaman yang lebih serius (kompleks, persisten, dan tak bisa dikontrol) maka yang terjadi justru sebaliknya.
Mengapa ini bisa terjadi? Dalam situasi sulit, optimisme justru menurunkan motivasi untuk mengambil tindakan mengakhiri atau menghindari sumber stres. Akibatnya, kemampuan sistem kekebalan tubuh justru malah menurun, bukan meningkat.
Bukti menunjukkan menunjukkan bahwa responden yang merasa dirinya sangat mungkin tertular atau menularkan COVID-19 akan ada kecenderungan yang lebih besar dalam melakukan tindakan pencegahan, seperti mencuci tangan lebih sering dan menjaga jarak fisik dengan orang lain.
Sebaliknya, yang _*“Berpikir Positif”*_ justru menyebabkan tidak waspada, tidak peduli dengan jaga jarak, menjauhi kerumunan, dll. Sehingga lebih ke arah sikap teledor.
(demikian, dikutip secara ringkas dari tulisan seorang Psikolog Unair)

1️⃣1️⃣ Seorang profesor menyarankan: “Untuk Saat Ini, Asumsikan Semua Orang Dapat Bawa Virus”. Dia menyatakan, __“Bahkan sekalipun dengan banyak pengujian, kita cenderung meremehkan penyebaran virus. Untuk saat ini, kita harus berasumsi bahwa siapapun dapat membawa virus. J

ika Anda memiliki kemungkinan terpapar dan gejala menunjukkan infeksi Covid-19, Anda mungkin memilikinya, sekalipun jika tes Anda negatif.”__

📑 Kondisi Jember hingga hari ini berstatus zona merah, bahkan Bupati menyatakannya sebagai KLB. Namun hingga hari ini di Jember belum terjadi kasus transmisi lokal, semoga Allah jaga.

⛔ Namun sikap waspada dan hati-hati sebagaimana dipaparkan di atas sangat penting untuk benar-benar tertanam di benak kita dan kita jalankan dengan tertib, disiplin, dan penuh kesadaran. Terlebih kita sebagai komunitas, ditambah lagi kita punya tanggung jawab mengamankan para santri dan santriwati.

✉️ Sampai di sini selesai sub Judul Tabiat Covid-19. Jika pembaca masih kurang memahaminya, silakan bisa diulang-ulang kembali.
Semoga **ajakan dari hati ke hati** ini benar-benar bisa mengetuk hati para pembaca, saudara-saudaraku sekalian.

Tulisan ini masih ada lanjutannya. Penulis akan segera menyajikannya pada bagian berikutnya. Nantikan.

bersambung, Insyaallah

dipublikasikan oleh:

Humas Satgas Tanggap Covid-19 Ma’had Minhajul Atsar Jember

🦠 Kita Harus Memahami Situasi Wabah Covid-19

Agar Kita Tidak Abai dan Lalai

(dari hati ke hati)

untuk kalangan sendiri

🧾 Bagian 7 (selesai)

Bagian ke-7 merupakan bagian akhir dari rangkaian tulisan ini. Semoga dengan ini, penulis berhasil mengetuk hati para pembaca saudara-saudaraku seiman.

********

Data Grafik

1️⃣ Data yang terlaporkan menunjukkan grafik terus meningkat, dengan lonjakan-lonjakan yang selalu membuat kita terkejut
Ketika awal kita memulai program “Di Rumah 14 hari”, yaitu tanggal 2 April, data positif Corona di Indonesia saat itu
= 1.790

Pada tanggal 14 April data tersebut telah menjadi = 4.839
Dengan total PDP = 10.482; ODP = 139.137

Semoga Allah melindungi kita semua.

2️⃣ Para ahli memperkirakan data yang tidak terlaporkan bisa jadi jauh lebih banyak.

⏩ Pada tanggal 27 Maret, sebuah studi dari luar negeri menyatakan bahwa jumlah yang diumumkan di Indonesia hanya 2% dari data sebenarnya. (berarti mencapai lebih dari 34.000 kasus. Jumlah ini lebih tinggi daripada kasus yang tercatat di Iran saat itu, yaitu 27.000.

⏩ Pada 11 April 2020, para ahli gabungan dari berbagai univeritas menyatakan bahwa jumlah kasus Corona di Jakarta sudah mencapai angka 32.000. Para pakar epidemiologi yang terlibat dalam penelitian ini berasal dari ITB, Unpad, UGM, Brawijaya, dan perguruan tinggi luar negeri.

3️⃣ Indonesia dikhawatirkan menjadi episentrum ke-3
Regional Director WHO kawasan Asia Tenggara telah mengeluarkan peringatan dan saran kehati-hatian, bahwa gelombang episenter wabah Corona dari Amerika dan Eropa akan menuju Asia Tenggara. Ini bisa jadi sangat besar jika tidak terkontrol dari sekarang. Indonesia dan India, apabila epidemi tidak terkontrol di dua negara tersebut, maka kawasan Asia Tenggara akan menjadi episenter baru Covid-19 di dunia!

4️⃣ Di Jatim sempat terjadi lonjakan positif Corona melebihi lonjakan di Jakarta pada satu hari itu. Yaitu pada tanggal 12 April, lonjakan di Jatim 119, sementara lonjakan di Jakarta pada hari itu hanya 96.

5️⃣ Beberapa daerah sudah menerapkan PSBB. Tercatat ada 10 wilayah yang telah disetujui oleh pemerintah pusat untuk menerapkan PSBB, yaitu:
1. DKI Jakarta
2. Kota Tangerang
3. Kabupaten Tangerang
4. Kota Tangsel
5. Kota Bogor
6. Kabupaten Bogor
7. Kota Depok
8. Kota Bekasi
9. Kabupaten Bekasi
10. Kota Pekanbaru

Sementara itu Update Wilayah transmisi lokal Indonesia per 14 April 2020

1. DKI Jakarta
2. Kab. Dan Kota Tangerang
3. Tangerang Selatan
4. Kota Bandung
5. Kab. Dan Kota Bekasi
6. Kab dan Kota Bogor
7. Kota Depok
8. Kab. Karawang
9. Kota Solo
10. Kota Semarang
11. Kab. Malang
12. Kab. Magetan
13. Kab. Kediri
14. Kab. Sidoarjo
15. Kota Surabaya
16. Kota Pontianak
17. Kota Balikpapan
18. Kota Banjarmasin
19. Kota Makassar
20. Kota Kendari
21. Kab. Buleleng, Bali
22. Kota Prabumulih
23. Kab. Badung, Bali
24. Kab. Jembaran, Bali
25. Kota Denpasar
26. Kota Pekan baru, riau
27. Kab. Gowa, sulsel
28. Kab. Maros, sulsel
29. Kota Manado, sulut
30. Kota medan, sumut
31. Kota Padang Sidempuan, sumut
32. Kota Pematang Siantar, sumut.

Padahal tanggal Tgl 26 Maret lalu masih 15 wilayah transmisi lokal!!

Sampai di sini, penulis mencukupkan sajian rangkaian tulisan ini. Mohon maaf jika mungkin terlalu panjang. Tapi dengan cara sajian berseri, harapannya menjadikan tulisan ini mudah dan enak dibaca.

Pembaca sekalian, wahai saudara-saudaraku…

Di penghujung tulisan ini, semoga penulis benar-benar berhasil mengetuk hati saudara-saudaraku…

🛍️ Covid-19 benar-benar nyata ancamannya. Maka tak sepantasnya kita abai dan menganggapnya enteng. (sangat disayangkan sikap-sikap tersebut masih sangat banyak terjadi di masyarakat).

🥬 Kita tidak boleh egois, hanya berpikir untuk kepentingan pribadi semata.
Ingatlah, di sekitar kita ada anak dan istri. Ada pula saudara dan tetangga. Masing-masing membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kita. Jangan sampai kita menjadi sebab petaka bagi orang-orang yang kita sayangi akibat sikap ego dan tak mau peduli dengan aturan dan tata tertib yang ada.

📚 Salafiyyin semestinya paling

mudah untuk bisa tertib, mudah diarahkan, dan memiliki kesadaran tinggi.

🚤 Mari kita koreksi diri. Mari kita benar-benar serius menempuh sebab-sebab keselamatan.
Tak lupa banyak kita bertaubat dan beristighfar. Mari kita memperbaiki diri. Mari kita tingkatkan iman. Kita kuatkan dan luruskan kembali tawakkal dan tauhid kita.

🚇 Sampai di sini. Sekali lagi ini adalah ajakan dari hati ke hati.

Catatan:
• Ungkapan “mematikan” atau “menular” dalam tulisan ini semuanya adalah dengan kehendak Allah.

• Demikian pula penjelasan tentang cara penularan, tingkat bahaya, dll maka itu sebatas yang diketahui manusia. Segalanya kembali kepada Allah.

• Allah memerintahkan kita untuk menempuh sebab-sebab keselamatan, dan menjauhi sebab-sebab kebinasaan.

Kamis, 22 Sya’ban 1441 H / 16 April 2020

~~~~~~~~

dipublikasikan oleh:

Humas Satgas Tanggap Covid-19 Ma’had Minhajul Atsar Jember