KONDANG LANTARAN PINTER MELUCU?

=================
“Kalau ustadz fulan wah mantap. Bagus sekali ceramahnya. Hadirin sampai terpingkal-pingkal tertawa. Pokoknya adaaa aja….!”

“Kalau ustadz anu itu….. ah, monoton! Isi ceramahnya dalil tok! Bosen!”
=================

Testimoni semakna ini lumrah didengar telinga. Asap rokok mengepul di atas kerumunan majelis bapak-bapak setengah baya. Ngobrol ngalor-ngidul tidak jelas ujung pangkalnya. Di antara yang disinggung adalah tentang penceramah yang pernah mereka ikuti.

Ya begitulah orang awam -semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan mereka. Bagus-tidaknya materi ceramah, mereka ukur dengan tingkat humor yang disampaikan. Makin kocak makin mantap. Sehingga wajar kalau yang mereka koleksi adalah ceramah para da’i yang lucu-lucu saja.

Tentu suara terbanyak akan menaikkan rating ketenaran sang da’i pujaan. Semakin banyak penggemar maka si da’i tersebut akan berusaha senantiasa meningkatkan kualitas ‘kelucuannya’.

Majelis ta’lim riuh gelak tawa, bak suasana pertunjukan ketoprak atau ria jenaka. “Hehehe…..hahaha….” Ada yang tepuk tangan, ada pula yang terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.

Kasihan!
Seusai acara, hadirin pulang tanpa membawa hasil apa-apa. Tidak ilmu, tidak pula peningkatan iman. Hanya tenggorokan serak dan suara parau yang didapatkan. Allahul Musta’an.

Tak heran jika realisasi praktik ibadah umat sejak mereka duduk di bangku TPA hingga menjadi sesepuh RT tetap saja begitu-begitu kondisinya. Yang jahil tetap jahil, Yang bid’ah tetap bid’ah. Selain faktor lingkungan, ternyata juga disebabkan karena asupan rohani yang salah.
◎ ◎ ◎ ◎

Kita tidak ingin menyebut nama person tertentu. Walaupun memang kenyataannya banyak para da’i yang acap kali melanggar rambu-rambu syar’i di dalam menyampaikan materi ceramahnya demi mendapatkan gelar “da’i terlucu”.

Pelanggaran tersebut antara lain:

‘Istihza’
Pelanggaran pertama yang sering terjadi adalah ‘istihza’ yakni menjadikan syiar-syiar islam sebagai bahan olok-olokan. Tidak ketinggalan jenggot, jubah, celana cingkrang, dan cadar ikut-ikutan jadi objek bidik ejek-ejekan.

Ketahuilah! Kita tidak boleh duduk di majelis yang mencela urusan agama Allah. Larangan keras dari Allah termaktub di dalam beberapa ayat, di antaranya adalah surat An-Nisa ayat 140:

(وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ )

“Dan sungguh, Allah telah menurunkan ketetapan bagimu di dalam Kitab bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain.” [Surat An-Nisa’ 140]

Disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya:
Berkata seseorang dari kalangan munafik, “Aku tidak melihat ‘qurro’ (para sahabat) kita melainkan sebagai orang-orang yang memiliki perut paling buncit, lisan yang paling dusta, dan paling pengecut ketika bertempur.” Maka disampaikanlah ucapan ini kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana di kala itu beliau sedang menunggangi unta. Lalu orang tersebut berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau.” Maka Nabi membaca:

(قل) أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۚ َ
إلى قوله: كَانُوا مُجْرِمِيْن **

“(Katakanlah,) “Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (*) Hingga firman-Nya: “Mereka adalah orang-orang yang berdosa.”

Dan sungguh kedua kaki orang tersebut tersandung-sandung batu namun Rasulullah tetap tidak menoleh kepadanya. Walaupun dia bergelantung pada pedang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam.
[Tafsir Ibnu Katsir, At-Taubah: 65-66]

Ayat-ayat di atas sebagai dalil umum bagi siapa saja yang mengolok-olokkan perkara agama. Baik dia seorang kafir, munafik, maupun muslim. Sebagaimana sabda Nabi -shalallahu ‘alaihi wasallam:

((مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنّي))
“Barangsiapa yang membenci sunnahku maka dia bukan golonganku.” [Hadits riwayat Al-Bukhori, dari Anas bin Malik]

Cerita dusta

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَبِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، ثُمَّ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah bagi orang yang berkata dan berdusta agar manusia tertawa. Celakalah dia dan celakalah dia.” [Diriwayatkan oleh imam yang tiga dengan sanad yang kuat, dari Bahz bin Hakim-dari ayahnya-dari kakenya]

Percaya diri membawakan dongeng-dongeng antah-berantah sudah menjadi kebiasaan lumrah di kalangan da’i-da’i lucu. Walaupun hadirin jelas tahu bahwa yang sedang dia bawakan adalah dongeng, bohong. Tapi mereka anggap itu sebagai udzur, demi menghibur, dan supaya masyhur.

Hadits di atas merupakan salah satu ilmu yang 99,9% tidak akan pernah disinggung oleh para da’i lelucon di tabligh-tabligh akbar mereka. Pasalnya hadits ini dianggap bisa mengancam pamor dan anjloknya vans. Kecuali orang-orang yang diberi taufiq oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

‘Asal Bapak Senang’
Saya pernah diberitahu oleh seorang kenalan. Temannya kebetulan pernah bertemu dan bertanya langsung kepada wartawan salah satu TV swasta di negeri ini, “Mas, kenapa sih, TV ini sering mengundang narasumber dari da’i-da’i yang banyak membolehkan hukum ini dan itu (acara-acara bid’ah)?” Jawab wartawannya, “ya memang sengaja dicari narasumber yang banyak disenangi pemirsa mas.”

Yakni maksudnya supaya penontonnya banyak. Dan memang tujuan keumuman media komersial adalah untuk meraih penggemar sebanyak-banyaknya. Maka dipilihlah narasumber yang asal menyenangkan pemirsa, menyedot penonton sebanyak-banyaknya. Sementara kalau narasumbernya anti ‘yasinan’, ini haram itu bid’ah, justru penontonnya pada tidak betah.
◎◎◎◎

YANG SEMESTINYA….
Ketahuilah bahwa majelis ilmu mestinya menjadi wahana tempat menimba ilmu syar’i, mempertebal iman, meningkatkan taqwa, menekan kejahilan, serta kepentingan ukhrowiyah lainnya. Sehingga majelis ta’lim bukanlah ajang mencari hiburan.

Memang terkadang para ulama membawakan sedikit humor di majelis ta’lim mereka. Akan tetapi tidaklah yang mereka sampaikan itu kecuali sesuatu yang hak, bukan kedustaan. Itupun hanya bersifat insidental, tidak mesti ada dalam setiap pertemuan.
الله أعلم بالصواب.

✫✫ ❅❅ ✹✹ ❅❅ ✫✫

~ Catatan al-basimiy ~

Sumber
http://alpasimiy.com/kondang-lantaran-pinter-melucu