*Krisis Tauhid di Tengah Wabah Covid*

Diriwayatkan dari sahabat ‘Imran bin Hushain bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam suatu hari melihat ada seorang laki-laki mengalungkan sesuatu semacam gelang yang terbuat dari kuningan di tangannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepadanya, “Apa ini?”

Maka orang itu menjawab, “Aku memakainya dalam rangka menangkal suatu penyakit (yang biasa menyerang tangan).”

Rasulullah bersabda, “Lepaskan benda itu (dari tanganmu), karena sesungguhnya benda tersebut tidaklah menambahmu melainkan kelemahan (dan rasa sakit).” (HR. Ahmad, 4/445)

Menggantungkan atau mengalungkan suatu benda pada badan, hewan, mobil, pintu rumah dan tempat-tempat yang lain dengan keyakinan benda tersebut sebagai penangkal dari penyakit, penangkal dari marabahaya (tolak balak), penangkal dari kebangkrutan, dan lain sebagainya merupakan kebiasaan jahiliyah yang wajib ditinggalkan oleh setiap mukmin. Namun sungguh menyedihkan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah tersebut pada zaman yang disebut sebagai milenial ini masih kerap dilakukan. Fenomena ini semakin bertambah marak seiring dengan semakin marajalelanya kebodohan terhadap ilmu agama di tengah masyarakat.

Sebagaimana apa yang terjadi di masa ini. Pada saat seluruh dunia pontang panting menangani menjalarnya Covid-19, korban tewas pun berjatuhan mencapai angka ratusan ribu. Sebagian manusia tergerak melakukan berbagai macam ritual, yang mereka mengklaim ritual itu bertujuan memohon perlindungan dari wabah Covid-19. Seperti yang dilakukan oleh sebagian kaum yang melakukan suatu ritual di tengah sawah yang belum ditanami, kemudian orang-orang duduk melingkar serta memanjatkan “doa-doa”, kemudian setelah itu mereka menyampaikan keluhannya kepada para leluhur bahwasanya saat ini kampung tersebut dalam ancaman, terdapat semacam wabah mengerikan menyerang Indonesia yakni Covid-19, penyakit ini menular serta mematikan.

Sungguh pemandangan yang sangat miris dan benar-benar membuat seorang mukmin sedih. Saat manusia membutuhkan pertolongan Allah agar Dia mengangkat musibah dan wabah yang menimpanya, namun sebagian mereka justru berdoa dan minta keselamatan kepada selain Allah Ta’ala. Mestinya seorang hamba berdoa kepada Allah satu-satu-Nya, malah dia berdo’a kepada selain Allah, atau berdo’a kepada leluhur di samping berdoa kepada Allah. Ini merupakan perbuatan menyekutukan Allah, yang telah dilarang dengan ancaman keras oleh Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (117)

“Barangsiapa beribadah/berdoa kepada tuhan yang lain di samping kepada Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Allah. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (al-Mukminun: 117)

Ayat ini merupakan ancaman keras bagi siapapun yang berdoa kepada selain Allah di samping dia berdoa kepada Allah. Dengan kata lain, ancaman keras bagi yang menduakan atau menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah dan doa. Baik itu berdoa kepada nabi, kepada malaikat, apalagi berdoa kepada wali, orang shalih, leluhur, dan lain-lain, siapa pun apa pun dia.

Allah Ta’ala berfirman:

{قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ (38)} [الزمر: 38]

“Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang sesuatu yang kamu berdoa kepadanya selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan musibah kepadaku, apakah mereka (yang kamu berdoa kepadanya) itu dapat menghilangkan musibah itu? Atau jika Allah menghendaki mendatangkan rahmat kepadaku, apakah mereka bisa mencegah rahmat-Nya?” Katakanlah: Allah adalah sebagai penjaminku, dan orang-orang yang bertawakkal hanya bertawakkal kepada-Nya.” (az-Zumar: 38)

Sungguh Allah sangat murka jika hamba-Nya menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Allah Ta’ala mengatakan tidak akan mengampuni dosa perbuatan menyekutukan-Nya:

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (48)} [النساء: 48]

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang tingkatannya di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (an-Nisa: 48)

Maka sadarlah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin,

Janganlah kita berdoa kecuali hanya kepada Allah. Jangan Anda berdoa kepada leluhur, orang shalih, dll di samping Anda berdoa kepada Allah. Terlebih dalam kondisi musim pandemi Covid-19. Kita sangat butuh pertolongan Allah. Berdoalah minta perlindungan dan pertolongan-Nya, dengan doa yang sungguh-sungguh dan serius. Murnikan doa tersebut hanya kepada Allah. Jangan engkau nodai dengan meminta dan berdoa kepada selain Allah, siapa pun dan apa pun dia.

Di tengah situasi musibah wabah ini, kita harus membenahi dan memurnikan tauhid (menjadikan Allah sebagai satu-satu-Nya yang kita berdo’a dan beribadah kepada-Nya). Jangan sampai di tengah musibah wabah ini kita mengalami krisis tauhid, yang ini musibah yang lebih besar lagi. Musibah di atas musibah.

Semua perkara ada di tangan Allah, hanya Allah satu-satunya Dzat yang bisa menangkal semua kejelekan. Maka wajib untuk menggantungkan hati ini hanya kepada Allah dan mengikhlaskan (memurnikan) doa hanya kepada Allah satu-satu-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.

Barangsiapa yang menggantungkan hati hanya kepada Allah saja maka tidak ada sesuatupun yang akan membahayakannya melainkan dengan izin Allah.

Dan barangsiapa yang menggantungkan hatinya kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan dirinya kepada sesuatu yang dia bergantung padanya.

https://www.tanggapcovid19.com/krisis-tauhid-di-tengah-wabah-covid/