Lanjutan…

CEK FAKTA : BERLINDUNG KE MASJID PADA MUSIM WABAH PENYAKIT VIRUS CORONA (COVID-19)

Hadits keempat
Al-Imam al-Sya’bi, ulama salaf dari generasi tabi’in, رحمه الله تعالى berkata :

“كَانُوا إِذَا فَرَغُوا مِنْ شَيْءٍ أَتَوُا الْمَسَاجِدَ ”

Mereka (para sahabat) apabila ketakutan tentang sesuatu, maka mendatangi masjid.
Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman (juz 3 hlm 84 [2951]).

_________________

Beberapa riwayat di atas mengantarkan pada kesimpulan, bahwa dalam situasi wabah dan virus yang mengancam masyarakat ini, umat Islam dianjurkan untuk semakin rajin ke masjid, bukan meninggalkan masjid, kecuali bagi orang yang terkena penyakit menular, maka tidak boleh ke masjid.

Ucapan diatas bukan hadits, namun ucapan seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in

Tampak terdapat kerancuan dalam penerjemahannya, mestinya terjemahanya sebagai berikut :

Mereka (para sahabat) apabila kosong dari suatu pekerjaan, maka mendatangi masjid, yakni jika ada waktu luang, maka mereka selalu menghabiskannya di masjid
Ucapan ulama tabi’in ini tidak ada kaitannya dengan ketakutan

Dari pemaparan singkat di atas, tampak dengan jelas bahwa dalil atau hadits-hadits yang digunakan dalam tulisan di atas adalah tidak sah.

Bahkan al-Imam al-Albani mengatakan : Bahwa teks hadits yang dhaif (lemah) tersebut bertentangan dengan hadits :

” إذا أنزل الله بقوم عذابا أصاب العذاب من كان فيهم، ثم بعثوا على أعمالهم”

“Apabila Allah menurunkan adzab pada suatu kaum, maka adzab tersebut akan mengenai orang yang berada di tengah kaum tersebut. Kemudian Allah akan bangkitkan mereka sesuai dengan amalannya masing-masing.” (HR. al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad; dari shahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’)

Hadits ini keumuman maknanya mencakup pula orang-orang yang meramaikan masjid dan selain mereka pula, maka renungkanlah.” (lihat Silsilah adh-Dha’ifah 1851).

Artinya adzab Allah berupa bencana, musibah, termasuk wabah penyakit bisa mengenai siapa saja, tanpa kecuali. Baik orang beriman maupun kafir, orang shalih maupun orang ahli maksiat. Namun nilai dan kedudukan mereka di hadapan Allah akan berbeda-beda, sesuai dengan nilai amal masing-masing di dunia.

Sehingga sebagai pernyataan penutup pada tulisan di atas, bahwa dalam situasi wabah dan virus yang mengancam masyarakat ini umat Islam dianjurkan untuk semakin rajin ke masjid, bukan meninggalkan masjid, tidak bisa dibenarkan secara mutlak, karena jika kondisinya mengkhawatirkan untuk tertular atau menulari, maka diizinkan untuk tidak ke masjid.

Tindakan ini tidak kemudian dikatakan sebagai perbuatan meninggalkan masjid

Dengan demikian jelas pula bagi pembaca, bahwa dalam situasi wabah seperti ini, berlaku hukum darurat, yaitu dalam kondisi terpaksa, seorang muslim diizinkan tidak hadir ke masjid untuk shalat berjama’ah

Selesai, Alhamdulillah…

https://www.inifaktabukanfitnah.com/cek-fakta-berlindung-ke-masjid-pada-musim-wabah-penyakit-virus-corona-covid-19/