Oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Apa yang telah lalu merupakan sepenggal catatan tentang terorisme dan korelasinya dengan kaum Khawarij terdahulu. Tentunya bila kita lebih giat mempelajari sejarah mereka, niscaya akan lebih banyak catatan berharga tentang terorisme dan para teroris itu. Setidaknya terkait dengan akar keislaman yang selalu dipegang erat oleh mereka dari masa ke masa. Berikut ini adalah tiga akar kekeliruan mendasar yang telah menjerumuskan para teroris Khawarij ke dalam lumpur terorisme

yang hitam dan mengerikan itu. Mudah. mudahan Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kita semua darinya.

Pertama: Akidah Takfir

Terorisme tak bisa dipisahkan dari akidah takfir, yaitu sikap mudah mengafirkan orang lain tanpa proses yang benar (syar’i). Bahkan, berbagai aksi teror dan kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti penculikan, pembunuhan, pengeboman, pemberontakan, dan semisalnya, baik yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok, mayoritasnya disebabkan oleh akidah takfir ini. Menurut sejarah, akidah takfir diprakarsai oleh kaum Khawarij terdahulu. Dengan akidah takfir, mereka lancang mengafirkan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para sahabat yang mulia. Mereka

menghalalkan darah dan harta siapa saja yang tak sepaham dengan mereka. Mereka melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan melancarkan berbagai aksi teror berskala internasional. Akidah takfir dan pergerakannya terus berlanjut secara estafet dari masa ke

masa hingga hari ini. Efeknya terhadap umat sangat berbahaya sepanjang masa, yaitu mengafirkan orang yang tak sepaham, menghalalkan darah dan harta mereka, melakukan serangkaian aksi teror, serta memberontak terhadap pemerintah muslim. Apakah Usamah bin Laden dan Imam Samudra mempunyai akidah takfir yang sangat berbahaya itu? Ya, keduanya mempunyai akidah takfir yang sangat berbahaya itu. Simaklah penuturan mereka berikut ini.

• Usamah bin Laden berkata, “Maka para penguasa tersebut telah berkhianat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, dengan itulah mereka telah keluar dari agama (Islam) ini dan berarti mereka juga telah mengkhianati umat.” (Ceramah Terakhir untuk Rakyat Irak pada bulan Dzulhijjah 1423 H, MAT hlm. 252)

• Usamah bin Laden berkata, “Para pemerintah itu telah melanggar dua kalimat syahadat (syahadatain) dalam masalah yang paling prinsip. Yaitu sikap loyal mereka terhadap orangorang

kafir, menjadikan undang-undang buatan manusia sebagai syariat, dan persetujuan mereka untuk berhukum kepada undang-undang atheis. Maka kepemimpinan mereka itu secara syar’i sudah lama gugur dan tidak ada lagi pemerintahan Islam setelahnya.” (al-Jazeera 5-12-1423 H, MAT hlm. 252)

• Imam Samudra berkata, “23 Mei 1924, mercusuar terakhir, benteng terakhir umat Islam, tumbang sudah… Saat Khilafah Islamiyah musnah, dunia kembali ke zaman jahiliah….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 89—90)

• Imam Samudra berkata, “Aku di jalan Islam, di jalan Allah Subhanahu wata’ala, sedangkan mereka di atas jalan jahiliah, di jalan Neo-Ilyasiq, atau clone (kembaran) Ilyasiq.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 200)

• Imam Samudra berkata, “Tetapi manusia, makhluk Allah Subhanahu wata’ala yang zalim, bodoh lagi lemah, malah membuat way of life sendiri, menandingi hukum Allah Subhanahu wata’ala yang sempurna. Manusia telah menyekutukan hukum Allah dengan hukum buatannya sendiri. ‘Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.(al-Ahzab: 72) TETAPI MEREKA ANGKUH LAGI MUSYRIK, ‘Manusia dijadikan bersifat lemah.(an-Nisa’: 28)Di Indonesia, dan di mana pun, banyak kita temukan tipe manusia seperti itu. Bahkan jumlah mereka mayoritas. Mereka telah menyekutukan hukum Allah Subhanahu wata’ala dengan hukum made-in gado-gado.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 200—201)

• Imam Samudra berkata , “Alhamdulillah, di atas segalanya, hal yang bagi saya cukup penting dan bermakna ialah bahwa naskah asli buku ini ditulis dengan tinta yang halal, di atas kertas yang halal pula, dengan perantaraan Pak Qadar, Pak Michdan, dan saudara-saudara seislam di TPM. Bukan tinta dan kertas milik polisi atau negara.” (Aku Melawan Teroris, hlm. 15) Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya, “Mengapa mereka terjatuh pada akidah takfir yang sangat berbahaya itu?” Menurut asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahsebabnya ada dua:

1. Dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama.

2. Ini yang terpenting, yaitu memahami agama tidak dengan kaidah syar’i (tidak mengikuti jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, pen.). (Fitnatut Takfir, hlm. 13) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menambahkan sebab ketiga, yaitu jeleknya pemahaman yang dibangun di atas niat yang jelek. (Fitnatut Takfir, hlm. 19) Demikian pula asy-Syaikh Shalih al- Fauzan hafizhahullah menambahkan sebab yang lain, yaitu adanya kecemburuan (ghairah) terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya. (Zhahiratut-Tabdi’ wat-Tafsiq wat-Takfir

wa-Dhawabithuha, hlm. 14)5

Kedua: Melecehkan Para Ulama Kibar (Besar)

Sejarah mencatat bahwa orangorang yang terbelenggu akidah takfir, tidak akan berjalan di atas bimbingan para ulama kibar (besar) dalam menyikapi berbagai permasalahan strategis yang ada di tengah umat. Lihatlah kaum Khawarij terdahulu! Mereka mencampakkan bimbingan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para ulama kibar (besar) di masa itu. Apa sebabnya? Tidak lain karena para sahabat tersebut tidak menyetujui penyimpangan-penyimpangan yang ada pada mereka. Bagaimanakah dengan Usamah bin Laden dan Imam Samudra dalam hal ini? Ternyata mereka tak jauh berbeda

dengan kaum Khawarij terdahulu. Untuk lebih jelasnya, simaklah penuturan mereka berikut ini:

• Usamah bin Laden, saat memperingatkan umat dari fatwa-fatwa asy-Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Baz t, berkata, “Oleh karena itu, kami mengingatkan umat dari fatwa-fatwa batil seperti ini yang tidak memenuhi syarat.” (Surat Usamah bin Laden, tanggal 28-8-1415, MAT hlm. 264)

• Imam Samudra berkata, “Pada saat mana ulama-ulama kian asyik tenggelam dalam tumpukan kitab-kitab dan gema pengeras suara. Mereka tidak lagi peduli dengan penodaan, penistaan, dan penjajahan terhadap kiblat dan tanah suci mereka….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 93)

• Imam Samudra berkata, “Ia (yakni Raja Fahd) dan gerombolan pembisiknya mengelabui Dewan Fatwa Saudi Arabia yang—dengan segala hormat—kurang mengerti trik-trik politik….” (Aku Melawan Teroris, hlm. 92) Mengapa para ulama kibar (besar) tersebut disikapi oleh mereka sedemikian rupa? Jawabannya sama, yaitu karena para ulama kibar (besar) tersebut tidak menyepakati penyimpanganpenyimpangan yang ada pada mereka. Subhanallah, setali tiga uang. Oleh karena itu, ketika para ulama kibar (besar) dicampakkan, tentu saja yang akan dijadikan rujukan adalah ruwaibidhah yaitu orang dungu yang berani berbicara tentang urusan strategis umat. Apabila demikian, maka jaminannya adalah kesesatan.

Ketiga: Akidah Khuruj alal Hukkam

Akidah khuruj alal hukkam, yaitu keyakinan boleh/wajib memberontak terhadap penguasa kaum muslimin. Sejarah mencatat bahwa akidah khuruj alal hukkam galibnya merupakan paket lanjutan dari akidah takfir, dan pelecehan terhadap para ulama kibar (besar). Demikianlah proses yang terjadi pada kaum Khawarij ketika memberontak terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Akidah khuruj alal hukkam sangat bertentangan dengan bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, bahkan sebagai sebab terbesar bagi hancurnya kehidupan umat manusia.

Al-Imam Ibnul Qayyim Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mensyariatkan kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran dengan harapan dapat berbuah kebaikan (ma’ruf) yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Jika pengingkaran terhadap kemungkaran itu memunculkan kemungkaran yang lebih besar (memperparah keadaan) serta lebih dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, pengingkaran tersebut tidak boleh dilakukan walaupun Allah Subhanahu wata’ala membenci kemungkaran tersebut dan pelakunya.

Di antaranya pengingkaran terhadap para raja dan penguasa (kaum muslimin) dengan pemberontakan. Sungguh, hal itu adalah sumber segala kejahatan dan fitnah sepanjang masa.” (I’lamul Muwaqqi’in 3/ 6) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, di antara prinsip Ahlus Sunnah yang masyhur adalah tidak boleh membangkang terhadap para penguasa dan tidak boleh pula memerangi mereka dengan senjata, walaupun mereka berbuat zalim. Hal ini sebagaimana yang telah dijelaskan dalam haditshadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih lagi banyak jumlahnya. Mengingat kerusakan (yang ditimbulkan oleh sikap membangkang dan memberontak, -pen.) berupa perang dan kekacauan yang lebih parah dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan oleh kezaliman penguasa semata.…. Hampirhampir tidak ada satu kelompok pun yang memberontak terhadap penguasa melainkan kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar dibandingkan kerusakan yang hendak dihilangkannya.” (Minhajus Sunnah, 3/391)6 Demikianlah sepenggal catatan tentang terorisme, semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi para pencari kebenaran. Amiin….

(www.asysyariah.com)

Bagikan Komentarmu