MEMBAGUSKAN DALAM MENGKAFANI

439- وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحْسِنْ كَفَنَهُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mengkafani saudaranya, hendaknya ia baguskan mengkafaninya.” (H.R Muslim)

? PENJELASAN:

Maksud ‘membaguskan dalam mengkafani’ adalah baik dalam tata cara mengkafani dan baik dalam dzat kafannya (suci dari najis, baru, bersih, lebar/luas, tebal), halal cara memperolehnya. Tidak menggunakan sutra bagi laki-laki. Bukan makna hadits ini artinya kain kafan harus mahal dan mewah.

Kain kafan diutamakan diambil dari harta mayit. Hal itu didahulukan sebelum pelunasan hutang, pewarisan dan wasiat.

Pada proses pengkafanan juga diberikan wewangian kecuali bagi orang yang meninggal dalam keadaan ihram. Wewangian bisa diberikan pada anggota-anggota sujud (Ucapan Ibnu Mas’ud riwayat alBaihaqy tentang pemberian kapur), pada celah-celah/ lipatan tubuh, boleh juga pada keseluruhan bagian tubuh.

Secara ringkas, tata cara pengkafanan adalah:

Dipersiapkan 3 lapis kain kafan yang dibentangkan dan disusun bertingkat (tiap tingkatan terdapat 1 lapis kain). Kain kafan tersebut diukur berdasarkan tinggi dan lebar mayit, kemudian dilebihkan bagian tingginya sehingga memungkinkan untuk melipat bagian atas kepala dan kaki. Bagian lebar juga dilebihkan sehingga memudahkan melipat sisi kanan dan kirinya. Kain kafan tersebut diberi wewangian.

Selanjutnya, jenazah yang sudah dimandikan diletakkan pada bentangan kain kafan tersebut dalam keadaan auratnya tertutup kain. Kapas diberi wewangian, kemudian diletakkan pada kedua mata, kedua lubang hidung. Juga diletakkan pada lipatan pantat sekaligus dibuatkan semacam pembalut untuk mayit.

Kemudian, sisi kain yang ada di sebelah kanan mayit dilipatkan sehingga melewati bagian atas dada. Demikian juga bagian kiri dilipat ke bagian atas dada. Kain penutup aurat pelan-pelan diambil. Lapisan kain ke-2 dan ke-3 juga dilipat dari sisi samping ke atas melewati dada. Selanjutnya, ujung kain kafan yang lebih dikumpulkan pada bagian kepala dan kaki, kemudian diikat dengan tali. Jumlah ikatan tali tidak ada ketentuan, disesuaikan dengan kebutuhan. Ikatan tersebut nantinya dilepas pada saat jenazah diletakkan di liang lahad. Usahakan agar simpul ikatan berada di sebelah kiri tubuh sehingga memudahkan untuk dibuka pada saat jenazah dibaringkan pada sisi kanan tubuhnya.

? Keutamaan Memandikan, Mengkafani, dan Menguburkan Mayit

Sungguh besar keutamaan memandikan dan mengkafani mayit muslim. Ia akan mendapat pahala yang besar dengan syarat ikhlas karena Allah, tata caranya sesuai dengan tuntunan Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam dan bersikap menutupi aib yang ada pada mayit dan tidak menyebarkannya.

مَنْ غَسَّلَ مُسْلِمًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ أَرْبَعِينَ مَرَّةً ، وَمَنْ حَفَرَ لَهُ فَأَجَنَّهُ أُجْرِىَ عَلَيْهِ كَأَجْرِ مَسْكَنٍ أَسْكَنَهُ إِيَّاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ كَفَنَّهُ كَسَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سُنْدُسِ وَإِسْتَبْرَقِ الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang memandikan seorang muslim kemudian menyembunyikan (aibnya), Allah akan ampuni untuknya 40 kali. Barangsiapa yang menggalikan kubur untuknya kemudian menguburkannya, akan dialirkan pahala seperti pahala memberikan tempat tinggal hingga hari kiamat. Barangsiapa yang mengkafaninya, Allah akan memberikan pakaian untuknya pada hari kiamat sutera halus dan sutera tebal dari surga (H.R alBaihaqy, atThobarony, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany)

〰〰〰

? Disalin dari buku “Tata Cara Mengurus Jenazah Sesuai Sunnah Nabi Shollallaahu Alaihi Wasallam (Syarh Kitab al-Janaiz Min Bulughil Maram)”.  Penerbit Pustaka Hudaya, halaman 64-67.

? Penulis: Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله.

? Semoga bermanfaat !!

? Bagi yang ingin mendapatkan postingan sebelumnya dari kajian ini silahkan kunjungi http://bit.ly/tata-cara-mengurus-jenazah

〰〰〰〰〰〰〰
??Salafy Kendari || https://telegram.me/salafykendari