๐Ÿ’๐Ÿ“TAFSIR: MEMBUNUH SATU JIWA BAGAIKAN MEMBUNUH MANUSIA SELURUHNYA

Allah Subhaanahu Wa Taโ€™ala berfirman:

ู…ูู†ู’ ุฃูŽุฌู’ู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูƒูŽุชูŽุจู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽู†ููŠ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุชูŽู„ูŽ ู†ูŽูู’ุณู‹ุง ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ู†ูŽูู’ุณู ุฃูŽูˆู’ ููŽุณูŽุงุฏู ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ููŽูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุชูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงู‡ูŽุง ููŽูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฃูŽุญู’ูŠูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุฌูŽู…ููŠุนู‹ุง…

Karena sebab itu, Kami tetapkan untuk Bani Israil bahwasanya barangsiapa yang membunuh jiwa tanpa sebab (seperti qishash), atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang menghidupkan (satu jiwa), seakan-akan ia menghidupkan manusia seluruhnyaโ€ฆ(Q.S al-Maaidah ayat 32)

Ayat ini merupakan kelanjutan kisah pembunuhan anak kandung Adam, yang merupakan peristiwa pembunuhan pertama di muka bumi. Hal itu menyebabkan Allah menetapkan keputusan bagi Bani Israil bahwa tidak boleh dilakukan pembunuhan kecuali secara haq (benar). Barangsiapa yang membunuh satu jiwa tanpa haq, seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya. Demikian juga barangsiapa yang menghidupkan satu jiwa, maka seakan-akan ia menghidupkan manusia seluruhnya.

Di antara bentuk pembunuhan secara haq yang diperbolehkan adalah penerapan hukum qishash sesuai aturan syarโ€™i, atau penetapan hukuman mati bagi pihak-pihak yang membuat kerusakan di muka bumi berdasarkan ketetapan dari Waliyyul Amr (pemerintah muslim).

Perusakan yang dibuat itu bisa saja terhadap Dien, badan, atau harta manusia. Bentuknya bisa bermacam-macam. Seperti orang yang murtad dari agama Islam, orang yang memerangi kaum muslimin, atau orang yang mengajak pada kebidโ€™ahan (penyimpangan dalam Dien) yang tidak bisa dihentikan keburukannya kecuali dengan dihukum mati. Demikian juga para perompak, begal, yang menghilangkan nyawa dan harta kaum muslimin secara dzhalim (disarikan dari Tafsir as-Siโ€™di).

Ayat di atas hanya menyebutkan tentang Bani Israil, seakan-akan hukumnya berlaku khusus untuk mereka. Tetapi tidak demikian. Pengkhususan penyebutan Bani Israil adalah karena mereka adalah umat pertama yang mendapatkan aturan tertulis dalam Kitab bahwa pembunuhan itu dilarang. Aturan pada umat sebelumnya adalah aturan yang terucap, bukan tertulis. Juga karena demikian banyaknya kejadian pembunuhan di masa mereka, bahkan mereka suka membunuh para Nabi (Tafsir al-Qurthubiy dan Fathul Qodir).

Sehingga, meski secara lafadz ayat itu untuk Bani Israil, namun hukumnya juga berlaku bagi kita. Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya: Apakah ayat ini juga berlaku bagi kita sebagaimana berlaku bagi Bani Israil? Al-Hasan al-Bashri menyatakan: Ya, Demi (Allah) Yang Tidak ada Sesembahan (yang haq) kecuali Dia. (Berlaku juga untuk kita) sebagaimana terhadap Bani Israil. Allah tidaklah menjadikan darah Bani Israil lebih mulia dibandingkan darah-darah kita (umat Nabi Muhammad)(Tafsir Ibnu Katsir).

Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa membunuh satu jiwa bagaikan membunuh manusia seluruhnya. Apakah maksudnya? Tentu saja dari sisi kadar dosa, orang yang membunuh 2 jiwa lebih besar dosanya dibandingkan yang membunuh 1 jiwa. Semakin banyak korban pembunuhan yang dilakukannya, semakin besar kadar dosanya. Namun dari sisi akibat yang ditimbulkan, ada unsur kesamaan antara membunuh 1 jiwa dengan membunuh semua manusia (disarikan dari Zaadul Masiir karya Ibnul Jauzi).

Pembunuhan terhadap 1 jiwa bisa menjerumuskan seseorang ke dalam Neraka Jahannam. Sebagaimana kalau ia membunuh semua manusia, akan menjerumuskannya ke dalam Neraka Jahannam. Hal ini seperti yang ditafsirkan oleh Mujahid. Seseorang yang membunuh 1 jiwa tidak secara haq, berhak mendapatkan hukuman mati sebagai qishash, sebagaimana kalau ia membunuh lebih dari 1 jiwa. Demikian yang ditafsirkan Ibnu Zaid.

Sebaliknya, orang yang โ€œmenghidupkanโ€ 1 jiwa, seakan-akan ia menghidupkan manusia seluruhnya. Maksud โ€œmenghidupkanโ€ 1 jiwa itu bisa berupa menolongnya agar tidak terjatuh dalam kebinasaan dan kecelakaan di dunia. Menyelamatkannya dari musibah kebakaran, tenggelam, dan semisalnya. Ini penafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu Masโ€™ud, Mujahid, dan al-Hasan al-Bashri. โ€œMenghidupkanโ€ juga bisa bermakna: menahan dirinya untuk tidak membunuh seseorang yang awalnya ingin ia bunuh. Kemudian ia meninggalkannya karena takut kepada Allah. Ini adalah penafsiran yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Bisa juga bermakna orang yang meyakini keharaman perbuatan membunuh sehingga ia tidak melakukannya, akibatnya tidak hanya satu orang yang selamat, tapi seluruh manusia selamat dari potensi kejahatan pembunuhan darinya (disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir).

Sungguh demikian besar kasih sayang Allah Taโ€™ala kepada manusia. Sebagai salah satu bentuk kasih sayang tersebut, Allah menetapkan aturan haramnya pembunuhan antar manusia.

Janganlah seseorang membunuh jiwa yang terlindungi dalam syariat Islam. Jiwa yang terlindungi bisa berupa seorang muslim, atau orang kafir yang terjaga darahnya karena ia tidak memusuhi Islam, seperti kafir Dzimmi atau Muahad.

Sungguh besar dosanya orang yang membunuh seorang muslim dengan sengaja.

ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ู’ุชูู„ู’ ู…ูุคู’ู…ูู†ู‹ุง ู…ูุชูŽุนูŽู…ู‘ูุฏู‹ุง ููŽุฌูŽุฒูŽุงุคูู‡ู ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ู ุฎูŽุงู„ูุฏู‹ุง ูููŠู‡ูŽุง ูˆูŽุบูŽุถูุจูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽู„ูŽุนูŽู†ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽุนูŽุฏู‘ูŽ ู„ูŽู‡ู ุนูŽุฐูŽุงุจู‹ุง ุนูŽุธููŠู…ู‹ุง

Dan barangsiapa yang membunuh seorang beriman secara sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan Allah melaknatnya, serta menyediakan untuknya adzab yang pedih (Q.S anNisaaโ€™ ayat 93)

Kemuliaan (darah) seorang muslim lebih besar di sisi Allah dibandingkan kemuliaan Kaโ€™bah. Sahabat Nabi Ibnu Umar radhiyallahu anhu pernah memandang ke arah Kaโ€™bah dan berkata:

ู…ูŽุง ุฃูŽุนู’ุธูŽู…ูŽูƒู ูˆูŽุฃูŽุนู’ุธูŽู…ูŽ ุญูุฑู’ู…ูŽุชูŽูƒู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ู ุฃูŽุนู’ุธูŽู…ู ุญูุฑู’ู…ูŽุฉู‹ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ูƒู

Sungguh demikian agungnya dirimu, dan demikian agungnya kemuliaanmu. Namun seorang beriman lebih besar kemuliaannya di sisi Allah dibandingkan dirimu (riwayat atTirmidzi dan dinyatakan hasan shahih oleh Syaikh al-Albaniy)

ู„ูŽุฒูŽูˆูŽุงู„ู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุฃูŽู‡ู’ูˆูŽู†ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุชู’ู„ู ุฑูŽุฌูู„ู ู…ูุณู’ู„ูู…ู

Sungguh lenyapnya dunia masih lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya satu orang muslim (H.R atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh al-Albaniy)

Pembunuhan terhadap seorang kafir yang terjaga darahnya, bisa menyebabkan seseorang tidak mencium aroma wangi Surga:

ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุชูŽู„ูŽ ู…ูุนูŽุงู‡ูŽุฏู‹ุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑูุญู’ ุฑูŽุงุฆูุญูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฑููŠุญูŽู‡ูŽุง ุชููˆุฌูŽุฏู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุณููŠุฑูŽุฉู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนููŠู†ูŽ ุนูŽุงู…ู‹ุง

Barangsiapa yang membunuh kafir Muaโ€™ahad, tidak akan mencium aroma Surga. Padahal sesungguhnya aroma Surga akan tercium dari jarak 40 tahun (H.R al-Bukhari dari Abdullah bin โ€˜Amr)

(Abu Utsman Kharisman)

<< Naskah pernah dikirimkan ke Majalah Tashfiyah pada Agustus 2016 >>