🌍 https://t.me/Majalah_Qudwah

*Kajian Utama*

🏵🏆 *MENENGOK KESABARAN DIRI KALA UJIAN DAN COBAAN MENERPA* 🏆🏵

✍🏻 *Al-Ustadz Ruwaifi’ Bin Sulaimi, Lc حفظه الله تعالى*

Tak ada jalan yang tak berkelok. Tak ada lautan yang tak berombak. Tak ada ladang yang tak beronak. *Di mana ada kehidupan pasti di situ ada ujian dan cobaan.* Demikianlah sekelumit tentang sketsa kehidupan dunia yang fana ini. *Allah سبحانه وتعالى menjadikannya sebagai medan tempaan _(darul ibtila’),_ untuk menguji kualitas kesabaran* dan penghambaan segenap hamba-Nya.

🅰l-Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata, *“Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى menguji hamba-Nya yang beriman tidak untuk membinasakannya, tetapi untuk menguji sejauh manakah kesabaran dan penghambaannya.* Sebab, *sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى wajib diibadahi dalam kondisi sulit dan dalam hal-hal yang tidak disukai (oleh jiwa), sebagaimana pula Dia سبحانه وتعالى wajib diibadahi dalam hal-hal yang disukai.* Kebanyakan orang siap mempersembahkan penghambaannya kepada Allah سبحانه وتعالى dalam hal-hal yang disukainya.

Karena itu, perhatikanlah penghambaan kepada-Nya dalam hal-hal yang tak disukai. Sebab, *di situlah letak perbedaan yang membedakan kualitas para hamba.* Kedudukan mereka di sisi Allah سبحانه وتعالى pun sangat bergantung pada perbedaan kualitas tersebut.” _(al-Wabil ash-Shayyib,_ hlm. 5)

⭕ *Ujian dan Cobaan dalam Ranah Kehidupan Beragama*
Setiap muslim sejati tentu menyadari bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupannya. Tiada bimbingan ilahi dalam menghadapi ragam ujian dan cobaan itu melainkan dengan bersabar atasnya meski disadari *bahwa kesabaran itu sangat berat dilakukan.* Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah سبحانه وتعالى Dzat Yang Maharahman.

*Dalam ranah kehidupan beragama, ada tiga jenis ujian dan cobaan yang tak mungkin seorang muslim lepas darinya. Bagaimana pun situasi dan kondisinya, pasti dia akan menghadapinya.* Tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah sebagai berikut,

*1. Perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى yang wajib ditaati.*

*2. Larangan-larangan Allah سبحانه وتعالى (kemaksiatan) yang wajib dijauhi.*

*3. Musibah yang menimpa (takdir buruk)*

Para ulama sepakat *bahwa senjata utama untuk menghadapi tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah kesabaran,* yaitu:

*1. Sabar di atas ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى,* dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya سبحانه وتعالى.

*2. Sabar dari perbuatan maksiat,* dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah سبحانه وتعالى.

*3. Sabar atas segala musibah yang menimpa* dengan diiringi sikap ikhlas dan ridha terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah سبحانه وتعالى. (Lihat _Qa’idah fish Shabr_ karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [hlm. 90—91], _Syarh Shahih Muslim_ karya al-Hafizh an-Nawawi [3/101], dan _Madarijus Salikin_ [2/156], dll.)

Sejauh manakah kesabaran dan penghambaan kita kepada Allah سبحانه وتعالى terkait dengan tiga jenis ujian dan cobaan itu❓ *Sudahkah kita bersabar di atas ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya*❓ *Sudahkah kita bersabar dari perbuatan maksiat dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah سبحانه وتعالى*❓ *Sudahkah kita bersabar atas segala musibah yang menimpa dengan ikhlas dan ridha terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah سبحانه وتعالى*❓

*Marilah kita menengok kesabaran diri masing-masing. Semoga Allah سبحانه وتعالى menutupi segala kekurangan kita dan mengampuni segala kesalahan kita.* _Wallahul musta’an._

Dalam menjalani kehidupan beragama, setiap muslim tak bisa dipisahkan dengan lingkungan tempat hidupnya. Lingkungan yang bersifat majemuk baik dari sisi karakter, latar belakang keluarga dan pendidikan, maupun pemahaman agama. *Di situlah seorang muslim akan diberi ujian dan cobaan oleh Allah سبحانه وتعالى terkait dengan tiga jenis kesabaran di atas.* Allah سبحانه وتعالى berfirman,

الم (١) أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُو (٢)

_“Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, *‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian*_❓”
*(al-‘Ankabut: 1—2)*

*Ujian dan cobaan itu pun beragam bentuknya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan.* Allah سبحانه وتعالى berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

_“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan *menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan* sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.”_
*(al-Anbiya’: 35)*

Di antara ujian dan cobaan itu adalah *adanya orang-orang jahat yang tidak suka terhadap orang-orang yang istiqamah di atas jalan kebenaran.* Mereka mencela, menghina, mencibir, *bahkan memusuhi orang-orang yang istiqamah itu.* Kondisi semacam ini bahkan telah dialami oleh para nabi terdahulu yang mulia. Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

_“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Cukuplah Rabb-mu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.”_ *(al-Furqan: 31)*

Maka dari itu, siapa saja dari hamba Allah سبحانه وتعالى, baik muslim maupun muslimah yang *berupaya istiqamah, dengan meniti jejak Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya (bermanhaj salaf)* akan mengalami ujian terkait dengan keistiqamahannya itu. Tudingan sok alim, eksklusif, merasa benar sendiri, *bertentangan dengan adat dan tradisi masyarakat,* teroris, dan ujung-ujungnya vonis sesat, kerap kali menerpa. Semua itu Allah سبحانه وتعالى tetapkan *untuk menguji kesabaran para hamba-Nya.* Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

_“Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kalian bersabar❓Dan adalah Rabb-mu Maha Melihat.”_
*(al-Furqan: 20)*

Dengan demikian, tiada jalan keselamatan dari segala ujian itu *selain bersabar di atas kebenaran* dengan mengedepankan sikap ilmiah, berpijak di atas hikmah, *tidak mengedepankan hawa nafsu ataupun perasaan,* penuh kehati-hatian dalam menilai dan melangkah _(ta’anni),_ tidak mudah bereaksi, *dan tidak serampangan bertindak.* Tentu saja, tidak lupa memohon pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى Penguasa alam semesta dan berkonsultasi dengan para ulama yang mulia.

Satu hal penting yang patut dicatat, *patokan kebenaran bukanlah banyaknya jumlah pengikut* atau orang yang mengerjakan sebuah amalan. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan حفظه الله berkata, *“Di antara prinsip kaum jahiliah adalah menilai kebenaran dengan jumlah mayoritas dan kesalahan dengan jumlah minoritas.*

Jadi, segala sesuatu yang diikuti kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti segelintir orang berarti salah. *Inilah patokan mereka dalam hal menilai kebenaran dan kesalahan. Padahal patokan tersebut tidak benar,* karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

_“Dan jika kamu *menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.* Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah *berdusta (terhadap Allah).”*_ *(al-An’am: 116)*

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

*_“Tetapi mayoritas manusia itu tidak mengetahui.”_* *(al-A’raf: 187)*

وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ ۖ وَإِن وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

_“Dan Kami tidak *mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.”*_ *(al-A’raf: 102)*

🔽⬇⏬ *bersambung, إن شآء الله* …