🌍 https://t.me/AKSI_AudioKajianSalafyIndonesia

*Kajian Utama*

🏵🏆 *MENENGOK KESABARAN DIRI KALA UJIAN DAN COBAAN MENERPA* 🏆🏵

✍🏻 *Al-Ustadz Ruwaifi’ Bin Sulaimi, Lc حفظه الله تعالى*

*bagian 2 (sambungan)*

dan sebagainya.” _(Syarh Masail al-Jahiliyah,_ hlm. 60)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sedikitnya pengikut suatu dakwah, tidak lazimnya cara ibadah yang dilakukan (tidak seperti kebanyakan orang), atau penampilan yang berbeda dengan keumuman, *bukanlah alasan untuk memvonis salah atau sesatnya sebuah dakwah, lebih-lebih manakala dakwah tersebut berpijak di atas bimbingan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.*

*Bukankah dakwah para rasul yang mulia—di awal kemunculannya— tidak umum dan tidak lazim di mata kaumnya*❓❗ Bukankah tidak sedikit dari para rasul tersebut yang dimusuhi dan ditentang dakwahnya❓ *Sebagian mereka hanya diikuti oleh segelintir orang, bahkan sebagian lainnya tidak mempunyai pengikut*❗ *Namun, itu semua tak mengurangi nilai dakwah yang mereka emban dan tak menjadikan dakwah mereka divonis salah atau sesat.* Allah سبحانه وتعالى berfirman,

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

*_“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.”_* *(Hud: 40)*

Rasulullah ﷺ bersabda,

عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

*_“Telah ditampakkan kepadaku beberapa umat, maka aku melihat seorang nabi yang bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi yang bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi yang tidak ada seorang pun yang bersamanya.”_* *(HR. al-Bukhari* no. 5705, 5752, dan *Muslim* no. 220, dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما)

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy Syaikh رحمه الله berkata, “Dalam hadits ini terdapat bantahan *terhadap orang yang berdalil dengan hukum mayoritas dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama jumlah yang banyak. Padahal tidaklah demikian adanya. Yang semestinya adalah seseorang mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.”* _(Taisir al-‘Azizil Hamid,_ hlm.106)

⭕ *Fenomena Syahwat dan Syubhat*
Di era globalisasi modern ini, syahwat dan syubhat menjadi ujian tersendiri bagi setiap muslim yang istiqamah di atas kebenaran. Ragam ujian itu pun benar-benar membutuhkan perjuangan dan kesabaran yang sangat tinggi.

*Godaan syahwat demikian gencarnya menerpa iman dan jiwa seseorang.* Wanita dengan berbagai model dan aksen selalu mengiringi derap langkah manusia sepanjang zaman. Penampilan yang norak dan pakaian serba minim telah merambah putri-putri kaum muslimin. Tak hanya kawula muda, *para ibu rumah tangga sekalipun tak luput darinya.*

*Akibatnya, mental dan rasa malunya setahap demi setahap terkikis seiring dengan lajunya arus modernisasi.* Tak mengherankan apabila mereka menjadi ikon utama dalam dunia iklan, baik di media cetak maupun media elektronik. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

*_“Tidaklah aku tinggalkan setelahku sebuah godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada wanita.”_* *(HR. al-Bukhari* no. 5096 dan *Muslim* no. 2741, dari Usamah bin Zaid رضي الله عنهما)

Betapa banyak para pemuda yang tak bisa bersabar terhadap godaan wanita. *Betapa banyak para suami yang tak mampu bersabar di atas ketaatan karena godaan sang istri.* Enggan untuk istiqamah karena tak disetujui oleh istri. *Tak mau hadir di majelis-majelis taklim karena “takut” dengan istri.* Bahkan, terkadang ia siap melakukan perbuatan maksiat; wirausaha dengan cara yang haram, mencuri, merampok, menipu, dan semisalnya *demi memenuhi tuntutan istri. Dunia dan akhiratnya rusak akibat godaan wanita.* _Wallahul musta’an._

Di antara godaan syahwat yang juga berbahaya bagi kehidupan beragama seorang muslim adalah harta. *Slogan “waktu adalah uang” menjadi prinsip hidup sebagian orang. Berpegang teguh dengan agama akan mewariskan kemiskinan dan kesengsaraan, dianggap suatu keniscayaan.* Tak mengherankan apabila *sebagian orang ada yang menjadikan harta sebagai tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan.*

*Fenomena ini sungguh telah terjadi pada diri Qarun, seorang konglomerat di masa Nabi Musa عليه السلام yang dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى. Menurut Qarun, limpahan harta yang ada pada dirinya merupakan bukti kesuksesan dan keridhaan Allah سبحانه وتعالى kepadanya, sedangkan Nabi Musa عليه السلام dan yang bersamanya tidak mendapatkan keridhaan dari Allah سبحانه وتعالى karena tak sukses dari sisi harta. Maka dari itu, Allah سبحانه وتعالى membantah persangkaan Qarun yang batil itu* dengan firman-Nya سبحانه وتعالى,

أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

_“Apakah dia tidak mengetahui bahwa *Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta*❓Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang jahat itu tentang dosa-dosa mereka.”_ *(al-Qashash: 78)*

Ujian harta ternyata tidak hanya menerpa orang awam atau anak jalanan semata, *tetapi orang berilmu pun nyaris terancam manakala orientasi hidupnya adalah dunia.* Di mana ada “lahan basah” dia pun ada di sana, walaupun harus mengikuti keinginan _big boss-_ nya *yang kerap kali tak sesuai dengan syariat dan hati nuraninya.*

Syahdan, ketika hawa nafsu telah membelenggu fitrah sucinya, *ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى (agama) dia jual dengan harga yang murah dan manhaj (prinsip agamanya) pun dia korbankan demi meraih kelayakan hidup atau kemapanan ekonomi.* Dengan tegas Allah سبحانه وتعالى memperingatkan orang-orang berilmu dari perbuatan yang tercela itu, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (١٧٤) أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ (١٧٥)

_“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab_ *_dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api. Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih._* _Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan (membeli) siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menghadapi api neraka_❗” *(al-Baqarah: 174—175)*

Ada hal penting yang patut diperhatikan. *Sikap selektif dan sensitif dalam mendapatkan harta harus selalu dimiliki oleh setiap muslim, baik untuk kehidupan pribadi maupun kepentingan dakwahnya. Tidak asal comot.* Tidak pula pakai prinsip “aji mumpung”. Mumpung ada dana, diterima sajalah ❗❓ *Tanpa mencermati dari mana datangnya dana tersebut,* apa latar belakangnya, dan apa pula efek setelah mendapatkannya, baik yang berkaitan dengan dirinya *maupun dakwah secara umum.*

Langkah-langkah di atas seyogianya ditempuh oleh setiap muslim *sekalipun dana tersebut berasal dari lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau bahkan yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah.* Betapa banyak lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah, *realitasnya jauh panggang dari api.* Sudahkah kita bersabar menghadapi kondisi yang semacam ini❓Marilah kita menengok kesabaran diri, mudah-mudahan taufik dan inayah Allah سبحانه وتعالى selalu bersama kita. _Amiin…_

Adapun *godaan syubhat yang berupa kerancuan berpikir tak kalah dahsyatnya dengan godaan syahwat.* Aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam bermunculan, *kesyirikan dipromosikan tanpa ada halangan, para dukun alias orang pintar dijadikan rujukan, ngalap berkah di kuburan para wali menjadi tren wisata religius (agama), dan praktik bid’ah (sesuatu yang diada-adakan) dalam agama meruak dengan dalih bid’ah hasanah.*

Semua itu mengingatkan kita akan sabda Rasulullah ﷺ,

بَادِرُوا بِا عْألَْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِم،ِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

*_“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah (ujian dan cobaan) layaknya potongan-potongan malam. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.”_* *(HR. Muslim* no.118, dari Abu Hurairah رضي الله عنه)

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali _حفظه الله_ berkata, “Rasulullah ﷺ seorang yang jujur lagi tepercaya telah memberitakan kepada kita dalam banyak haditsnya, termasuk hadits Abu Hurairah رضي الله عنه (di atas, -pen.) *tentang bermunculannya ragam ujian di tengah umat.*

Sungguh, telah datang berbagai ujian besar yang sangat kuat menghempas akidah dan manhaj (prinsip beragama) umat Islam, *mencabik-cabik keutuhan mereka, menyebabkan pertumpahan darah antarmereka, dan menjatuhkan kehormatan mereka.* Bahkan, benar-benar telah menjadi kenyataan (pada umat ini) apa yang disabdakan oleh Nabi ﷺ,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ

*_‘Sungguh kalian akan mengikuti jalan/jejak orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani, -pen.) sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta¹. Sampai-sampai jika mereka masuk ke liang binatang dhab (sejenis biawak yang hidup di padang pasir, -pen.) pasti kalian akan mengikutinya’.”_*

🔽⬇⏬ *bersambung, إن شآء الله* …