lanjutan..

Ibu Suami Ingin Memisahkan Sang Istri dari Suaminya

❓❓Seorang istri pernah mengeluh, tadinya ia hidup berbahagia dengan suaminya selama 2,5 tahun pernikahan mereka. Keadaan kemudian tiba-tiba berubah tanpa ia mengerti sebabnya. Akhirnya, ia mengetahui bahwa ternyata ibu mertuanya menjelek-jelekkannya di hadapan suaminya dan menuntut suaminya meninggalkan dirinya. Suaminya ternyata terpengaruh ucapan ibunya, sampai-sampai ketika si suami ini bepergian ke negeri lain, ia hanya menghubungi keluarganya. Ia sama sekali tidak mau menghubungi (berbicara via telepon dengan) istrinya. Si istri merasa amat tersakiti sampai hingga ia terus-menerus menangis. Jiwanya merasa sempit. Akhirnya, ia tidak menemukan jalan selain mengabari keluarganya tentang apa yang telah menimpa dirinya. Apa jalan keluar masalah ini?

✏Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab,

“Sungguh banyak masalah yang muncul di antara suami-istri di masa ini, karena masing-masing pihak tidak berpegang dengan perintah Allah subhanahu wata’ala, yaitu bergaul dengan baik. Satu pihak berbuat jelek kepada pasangannya, dan berikutnya terjadilah problem dan musibah.

Terkadang, pemicu masalah datang dari pihak selain suami-istri. Semua ini disebabkan kelemahan iman kepada Allah subhanahu wata’ala dan tidak adanya rasa takut kepada-Nya.

Apabila setiap insan berhenti di atas batasannya, berpegang dengan hukum-hukum Allah subhanahu wata’ala, menunaikan kewajibannya, serta tidak melampaui batas terhadap orang lain, niscaya problem itu tidak akan terjadi.

✔Berkaitan dengan masalah yang ditanyakan, nasihat yang pertama kali kami tujukan kepada ibu si suami.

Kami nasihatkan agar ia bertakwa kepada Allah azza wajalla dan takut kepada-Nya, serta takut akan adanya hari penghisaban.
Perbuatannya yang melampaui batas terhadap menantunya dengan menjelek-jelekkannya di hadapan suaminya—bila memang benar yang diadukan oleh si penanya—merupakan hal yang diharamkan.
Perbuatan ini termasuk namimah (mengadu domba) yang dicela oleh Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya:
“Janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.”
(al-Qalam: 10—12)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang pelaku namimah:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ
“Qattat tidak akan masuk surga.”

Qattat adalah pelaku namimah.

Dalam ash-Shahihain disebutkan bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melewati dua kuburan yang penghuninya sedang diazab.
Beliau shallallahu alaihi wasallam lalu bersabda:

أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَبْرِئُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ

“Adapun salah satunya, ia tidak membersihkan diri dari kencing, sedangkan yang lainnya berjalan menyebarkan namimah.”

Ini menunjukkan bahwa namimah merupakan sebab azab kubur dan terhalangnya seseorang masuk surga. Terlebih lagi dalam keadaan seperti ini, yang mengakibatkan terpisahnya suami dengan istrinya.

Hendaklah si ibu bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dalam urusan putranya dan istri putranya.

Sebab perkara dominan yang mendorong wanita (dalam hal ini ibu) berbuat demikian adalah rasa cemburu. Bila ia melihat putranya mencintai istrinya, ia pun cemburu dengan istri putranya. Seakan-akan menantunya tersebut adalah madunya yang menjadi tandingannya dalam menarik hati putranya. Tentu hal ini merupakan kesalahan dan kebodohan.

✔Kepada si suami kami nasihatkan agar ia melihat masalah yang terjadi.
Bila istrinya terlepas dari tuduhan yang dilemparkan ibunya, hendaknya ia meninggalkan dan tidak menganggap ucapan ibunya. Hendaklah ia tetap hidup berbahagia dengan istrinya. Walaupun ia harus tinggal bersama istrinya di rumah tersendiri yang terpisah dari sang ibu, dia boleh melakukannya, karena bila seperti yang digambarkan oleh penanya, berarti ibunya telah berlaku zalim dan melampaui batas.”
(Fatawa Manarul Islam, 3/33)

bersambung insya Allaah..

sumber: http://asysyariah.com/menyelesaikan-perselisihan-keluarga/

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
syarhus sunnah lin nisaa`

〰〰〰〰〰〰〰〰

Bagikan Komentarmu