(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

lanjutan…

Antara Ibu dan Istri

Misalnya, seorang suami memiliki ibu yang selalu bermasalah dengan istrinya. Ishlah antara keduanya sudah diusahakan, namun tidak membuahkan hasil. Sampai-sampai si istri memberi pilihan apakah memilih dia ataukah sang ibu. Si suami tidak bisa menentukan salah satunya. Tidak mungkin ia menceraikan istrinya karena ada anak-anak yang akan menjadi korban. Tidak mungkin pula ia menjauhkan sang ibu walau sempat ada usulan untuk memasukkan ibunya ke rumah jompo. Bagaimana jalan keluar dari permasalahan ini?

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh menjawab,

“Istri punya hak, ibu pun punya hak.

✅Hak ibu adalah:
si anak berbakti dan berbuat baik kepadanya,
memuliakan dan melayaninya,
serta menunaikan seluruh haknya sebagai balasan atas segala yang dilakukan dan kebaikannya.

Allah subhanahu wata’ala telah menekankan hak kedua orang tua dan menggandengkan hak keduanya dengan hak-Nya. Tidaklah Allah subhanahu wata’ala memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya melainkan Allah subhanahu wata’ala  gandengkan dengan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan beribadah selain kepada-Nya dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Apabila salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.”
(al-Isra: 23—24)

Berbuat baik kepada ibu merupakan sebab:
lembutnya hati,
kuatnya iman,
berkah pada rezeki dan umur,
baiknya akibat yang diperoleh,
dan menjadi sebab anak yang dimilikinya menjadi anak yang berbakti kepada ayah dan ibunya.

✅Demikian pula istri.
ia punya hak untuk Anda pergauli dengan baik,
Anda memberinya nafkah berupa pakaian dan tempat tinggal,
di samping Anda menunaikan haknya yang disyariatkan.

Ini berdasarkan firman Allah subhanah wata’ala :
“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”
(al-Baqarah: 228)

Akan tetapi, seseorang terkadang ditimpa ujian dengan terjadinya perselisihan antara ibunya dan istrinya.

✔ Si anak (suami) harus bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala,
X ia tidak boleh menzalimi ibunya untuk kemaslahatan istrinya. Sebaliknya,
X ia juga tidak boleh menzalimi istrinya untuk kemaslahatan ibunya.

Seharusnya dia bersikap adil. Apabila ia jujur kepada Allah subhanahu wata’ala dalam pergaulannya kepada kedua pihak ini, Allah subhanahu wata’ala  akan menolongnya.

Jika istri memusuhi sang ibu, berbuat jelek dan menzaliminya, ia harus mencegah istrinya dari kezaliman tersebut. Ia harus menghalangi agar istrinya tidak berbuat zalim kepada Ibunya. Ia perlu menerangkan kepada si istri bahwa ibunya memiliki keutamaan yang besar dan bahwa beliau dikedepankan dalam segala sesuatu.

Sebaliknya, bila ia melihat kesalahan ada pada ibunya dengan berbuat buruk kepada istrinya, ia menasihati ibunya dengan penuh adab, penghormatan, dan kelembutan.
Ia mengingatkan sang ibu, “Dia adalah istri saya dan ibu dari anak-anak saya. Hendaknya ibu memperlakukannya dengan baik.”

Seorang yang berakal tentu bisa bersikap adil, melihat siapa yang salah dan yang benar, di antara ibu dan istrinya.

Adapun mengambil jalan keluar dari masalah ini dengan menitipkan ibunya ke panti jompo demi mencari keridhaan istri, ini adalah perbuatan yang amat jelek dan akhlak yang tercela.

Perbaiki diri Anda, wahai penanya, jika Anda memiliki sifat tersebut!
Bahkan, yang semestinya dilakukan adalah berbakti kepada ibu (bukan membuangnya ke panti jompo).
Ketika ia butuh pelayanan, Anda seharusnya melayaninya.
* Jangan Anda bebankan pelayanan Anda terhadap ibu Anda kepada istri Anda.
Bila istri Anda melihat bakti Anda kepada ibu Anda, diharapkan ia terdorong untuk berbuat baik kepadanya.

✅ Anda, wahai saudaraku, wajib bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dalam urusan ibu Anda dan tidak boleh melupakan kebaikannya.”

(Fatawa wa Rasail Samahatusy Syaikh Muhammad ibnu Ibrahim, 10/190)

bersambung, insya Allaah..

sumber: http://asysyariah.com/menyelesaikan-perselisihan-keluarga/

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
syarhus sunnah lin nisaa`

〰〰〰〰〰〰〰〰

Bagikan Komentarmu